Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, September 23, 2014

Lamunan Pekan Biasa XXV

Rabu, 24 September 2014

Lukas 9:1-6

9:1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.
9:2 Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,
9:3 kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.
9:4 Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
9:5 Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka."
9:6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada masa kini kelompok gerakan dan organisasi perjuangan akan mendapatkan kepercayaan banyak orang kalau memiliki berbagai fasilitas memadahi. Makin banyak dan lengkap fasilitas kelompok dan organisasi makin menariklah bagi banyak orang.
  • Tampaknya, pada masa kini gerakan dan perjuangan dengan fasilitas memadahi dapat mengumpulkan orang-orang yang siap dimintai bayaran untuk program-programnya. Bahkan muncul gambaran bahwa makin besar beaya pendaftarannya makin berkualitaslah program dan acaranya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa program dan acara seseorang atau kelompok makin berbobot bila gerakan itu dilandaskan pada sikap batin penuh komitmen walau tanpa fasilitas apapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan secara alami memperjuangkan kebaikan umum berbekal penyerahan diri pada daya batin sehingga hidupnya berada dalam kerelaan diri dan siapapun yang dijumpai serta siap mengalami penolakan.
Ah, jaman sekarang harus jelas beaya dan fasilitasnya walau itu kegiatan agama.

Monday, September 22, 2014

MENGAPA TUNGGAL?

Kelompok Imogiri pada Kamis 18 September 2014 berkumpul di rumah Ibu Semiyati untuk Jagongan Iman pertemuan kedua. Dari jam 16.00-18.00 sebanyak 24 orang (14 ibu dan 10 bapak) mendalami bagian Syahadat Iman Katolik yang berbunyi "Dan akan Yesus Kristus Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita". Dalam langkah pertama para peserta diminta oleh Rama Bambang untuk membicarakan yang menjadi soal dan belum dimengerti berkaitan dengan rumusan itu. Dari pembicaraan kelompok-kelompok, ada beberapa soal:
  • Mengapa Yesus disebut Putra Dalem (Putra Allah)?
  • Mengapa disebut Pangeran (terjemahan Jawa dari kata Tuhan) yang dalam kehidupan masyarakat hanya untuk sebutan anak raja?
  • Mengapa disebut Putra Tunggal? Soal ini muncul karena dalam Perjanjian Lama orang-orang yang dekat Allah juga disebut anak Allah, dan juga para pengikut Kristus pun adalah anak-anak-Nya. Mengapa, karena ada banyak, Yesus disebut Putra Tunggal?
  • Apa ukuran percaya kepada Yesus?
  • Mengapa Yesus disebut Kristus?
1. Yang pokok Allah itu Penyelamat

Dengan merujuk ke Katekismus Gereja Katolik (KGK) 430 dan 431, diyakini bahwa Allah membebaskan. Pembebas adalah istilah lain dari Penebus, Penyelamat, dan Pengampun dosa. Dan ini terjadi dalam Yesus. Maka istilah Putra Tunggal untuk Yesus berarti satu-satunya pengantara karya penyelamatan dari Allah. Dari sini istilah tunggal, Tuhan (Pangeran) mendapatkan sumber penjelasan. 

430   "Yesus" dalam bahasa ibrani berarti "Allah membebaskan". Pada waktu menyampaikan pewartaan, malaikat Gabriel menamakan Dia Yesus, yang menandakan sekaligus Siapa Dia dan untuk apa Ia diutus. Karena tidak ada seorang pun dapat "mengampuni dosa selain Allah sendiri" (Mrk 2:7), maka Allah sendirilah yang "akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Mat 1:21) dalam Yesus, Putera-Nya yang abadi yang telah menjadi manusia. Jadi, dalam Yesus Allah menyimpulkan seluruh karya keselamatan-Nya untuk umat manusia.

431   Dalam sejarah keselamatan Allah tidak hanya membebaskan Israel dari "rumah perhambaan" (Ul 5:6), dengan menghantar mereka keluar dari Mesir. Ia juga membebaskan Israel dari dosanya. Karena dosa selalu merupakan penghinaan terhadap Tuhan, maka hanya Ia sendiri yang dapat mengampuni dosa. Karena itu, Israel yang makin sadar akan penyebarluasan dosa secara merata, hanya dapat menemukan keselamatan kalau ia menyerukan nama Allah Penebus.

2. Yesus adalah Kristus

Untuk soal ini diambil KGK 436. Dari sini Yesus, dengan pengurapan Roh, mendapatkan tiga tugas sebagai raja, imam, dan nabi.


436   "Kristus" adalah kata Yunani untuk ungkapan Ibrani "Mesias" yang berarti "terurapi". Ia menjadi nama bagi Yesus, karena Yesus secara sempurna memenuhi perutusan ilahi, yang dimaksudkan oleh gelar "Kristus". Karena, bangsa Israel mengurapi dalam nama Allah orang-orang yang ditahbiskan oleh Tuhan untuk perutusan tertentu. Itu terjadi pada para raja, pada para imam dan kadang-kadang pada para nabi. Terutama pengurapan itu terjadi pada Mesias yang akan diutus Tuhan untuk mendirikan Kerajaan-Nya secara definitif. Mesias harus diurapi oleh Roh Tuhan" sekaligus sebagai raja dan sebagai imam, tetapi juga sebagai nabi`. Yesus dalam tugas-Nya yang rangkap tiga sebagai imam, nabi, dan raja memenuhi harapan Israel akan Mesias.

3. Ukuran Percaya Pada Kristus

Terhadap soal ini yang harus diyakini adalah bahwa Yesus adalah wujud karya penyelamatan di tengah dunia, sehingga dia adalah Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:1.14) dan tinggal ditengah-tengah kita. Dunia ditandai dengan adanya perkembangan situasi hidup dan budaya. Maka beriman selalu ada dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat. Yang menjadi pegangan adalah: Kitab Suci sebagai landasan rohani, tradisi dan pedoman Gereja, dan situasi kongkret sebagai tanda-tanda zaman.

Sabda Hidup

Selasa, 23 September 2014
Peringatan Wajib St. Padre Pio dr Pietrelcina
warna liturgi Putih
Bacaan:
Ams. 21:1-6,10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21. BcO Tb. 3:7-17

Lukas 8:19-21:
19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. 20 Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." 21 Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."

Renungan:
Rasa saya, setiap orang tua pasti rindu pada anakNya, apalagi kepada anak yang merantau dan mengembara. Dalam bayangan saya, sejak berkarya Yesus adalah pribadi pengembara. Ia berjalan dari satu desa ke desa lain menghadirkan Kerajaan Allah. Selama pengembaraanNya tidak diceritakan kapan Ia mampir rumah. Maka layaklah ibu Maria kangen dan ingin menemuinya.
Namun ternyata kerinduan ibu Maria pada Yesus anaknya ini terjawab secara lain. Yesus malah mengatakan, "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya" (Luk 8:21). Secara umum jawaban ini akan sangat menyakitkan. Namun kesanku ibu Maria menangkap arti dari jawaban ini dan alasan dari ketidakpulangan Yesus. Ibu Maria melihat dengan jelas bahwa Anaknya bukan lagi miliknya. Ia adalah anak Allah yang mesti menjalankan perutusan BapaNya. Pada diriNya mesti terpancar pada persaudaraan yang terbentuk karena kesetiaan pada kehendak Bapa, bukan sekedar persaudaraan darah. Siapapun yang setia pada kehendak Bapa layak diangkat menjadi saudara Yesus.
 
Kontemplasi:
Coba ikuti kisah dalam Injil Luk. 8:19-21. Rasakan rasa yang berkembang dalam diri ibu Maria.

Refleksi:
Pernahkah anda mengalami pengalaman seperti ibu Maria (bc. Luk. 8:19-21). Apa yang kaulakukan kala (jika) mengalami seperti itu?

Doa:
Tuhan aku sadar kadang butuh kesiapan batin untuk menerima sabdaMu. Semoga aku pun mampu menangkap kata-kataMu seperti ibu Maria. Amin.

Perutusan:
Aku akan membuka luas cakrawalaku sehingga tidak gampang tersulut oleh kata-kata yang tidak mengenakkan karena belum kumengerti artinya.

Sunday, September 21, 2014

MEMINTA WARISAN SAAT ORANGTUA MASIH HIDUP

Catatan: Artikel ini ditayangkan dalam rangka mencari wawasan untuk tambahan dalam pembicaraan seminar "Geger Warisan" di Domus Pacis Minggu 5 Oktober 2014

dari www.hidayatullah.com Senin, 2 Juli 2012 - 07:00 WIB; ilustrasi dari koleksi Blog Domus

Assalamu ‘Alaikum Wr.Wb

Ustaz, bagaimana pandangan Islam terhadap anak yang meminta harta dari orangtua (dengan dalih sebagai warisan), padahal orang tersebut masih hidup? Kedua, bagaimana hukumnya apabila ternyata anak tersebut masih berlanjut meminta bagiannya dari harta yang lain lagi, padahal dia telah menerima bagian dari pembagian harta yang telah dibagi sebelumnya?

Ketiga, bagaimana kedudukan dalam hukum Islam atas harta yang dihibahkan kepada satu anak dengan persetujuan semua pihak. Apakah ahli waris yang lain gugur? Dan jika tidak gugur bagaimana porsi pembagiannya? Mohon kiranya penjelasan disertai dalil-dalil sahih. Terima kasih.

Wassalamu ‘Alaikum Wr.Wb

Ima Riestandry K
Surabaya


Wa’alaikum Salam Wr.Wb.

Bagi yang tahu apa yang dimaksud dengan harta warisan, tentu hal itu sangat aneh. Tetapi mungkin anak itu belum tahu bahwa yang namanya harta warisan adalah harta yang ditinggalkan seseorang setelah terbukti wafat, baik orangtua, saudara maupun kerabat lain. Artinya, bila orangtua masih dalam kondisi hidup, status semua harta tersebut adalah miliknya. Belum ada secuil pun yang dikatakan harta warisan, serta tak seorang pun di antara anaknya yang telah berhak atas harta tersebut atas nama warisan.

llah berfirman: ”Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (al-Nisa’ : 7). Firman Allah ini begitu tegas menyatakan bahwa anak itu hanya berhak atas ”harta peninggalan”. Harta itu dikatakan ”harta peninggalan” orangtua, bila orang tersebut telah meninggal.

Hukum meminta harta warisan dari orangtua pada saat hidup secara khusus, memang tidak ada, tetapi yang jelas yang demikian adalah permintaan yang bukan haknya dan belum saatnya. Di samping itu, ada hal lain yang perlu dicermati, yaitu sisi etika. Tatkala seorang anak meminta warisan, sementara orangtua masih hidup, mengandung pelanggaran etika yang mendalam, yaitu adanya ketidaksabaran dari anak atas masih hidupnya orangtua, sehingga warisan itu harus diminta sebelum waktunya.

Makna lain yang termasuk dalam tindakan itu adalah, adanya unsur harapan orangtua agar segera meninggal. Dua sikap demikian, tentu sangat menyakitkan orangtua, yang secara hukum jelas haram, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah: ”Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (al-Isra’: 23).

Kedua, secara hukum apa ia peroleh di awal tidak dapat dikatakan warisan –maksimal hanya dikatakan hibah–, maka dari itu harta yang diberikan tidak dapat menggugurkan hak warisan itu, kecuali ia mensyaratkan diri demikian.

Ketiga, pada dasarnya pemberian orangtua kepada anak harus sama, kecuali ada kondisi yang menghendaki untuk dibedakan secara adil alias proporsional. Nabi bersabda: ”Berbuat adillah kalian kepada anak-anak kalian. Berbuat adillah kalian kepada anak-anak kalian” (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i).

Dalam riwayat lain Nabi bersabda: ”Berbuat adillah kalian kepada anak-anak kalian dalam memberi (nahal), sebagaimana kalian menyukai mereka untuk berbuat adil kepada kalian dalam berbakti dan menyayangi.” (HR. Ibn Hibban, al-Baihaqi dan al-Thabrani). Bila kemudian semua anak telah sepakat bahwa semua bagiannya diberikan untuk salah seorang di antara mereka, berarti mereka tidak berhak lagi untuk mewarisi apa yang semestinya menjadi bagian warisannya.Wallahu a’lam bishshawab.*



Rep: Administrator

Editor: Cholis Akbar

INJIL MINGGU BIASA XXV/A - 21 SEPTEMBER 2014

BY A GIANTO dalam renungan-kitabsuci.blogspot.com
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

Rekan-rekan,

Penulis ulasan mingguan meminta saya berbicara mengenai perumpamaan dalam Mat 20:1-16 yang dibacakan pada hari Minggu XXV tahun A ini. Ceritanya tentu sudah kalian kenal. Pagi-pagi benar seorang pemilik kebun anggur menawarkan pekerjaan dengan upah sedinar sehari. Upah sedinar memang lazim bagi pekerja harian waktu itu. Tentu saja para pencari kerja mau. Sang empunya kebun itu kemudian juga mengajak orang yang belum mendapat pekerjaan pada pukul sembilan, duabelas, tiga, dan bahkan sampai pukul lima sore – sejam sebelum jam kerja usai. Masalahnya begini. Tiap pekerja, entah yang datang satu jam sebelum tutup hari, entah yang mulai pagi-pagi,mendapat upah sama: satu dinar. Maka yang datang pagi tidak puas, kok upahnya sama dengan yang bekerja satu jam saja. Pemilik kebun menegaskan, bukannya ia berlaku tak adil. Kan tadi sudah saling sepakat mengenai upah sedinar. Ia merasa merdeka memberi upah sedinar juga kepada yang datang belakangan. Jawaban ini menukas rasa iri hati orang yang melihat ia bermurah hati kepada orang lain. Sebenarnya kata-kata itu bukan hanya ditujukan kepada pekerja yang protes melainkan kepada siapa saja yang membaca dan pendengar perumpamaan ini. Bagaimana penjelesannya?

NAFKAH HARIAN DAN KEADILAN BAGI SEMUA

Rekan-rekan, perumpamaan ini kerap menjadi sandungan bagi rasa keadilan baik pada zaman dulu maupun sekarang. Tidak perlu kita poles permasalahannya. Justru perumpamaan itu dimaksud untuk membuat kita semakin mencermati anggapan kita sendiri mengenai keadilan. Kita diajak menyadari bahwa keadilan tak bisa ditafsirkan secara sepihak tanpa merugikan pihak lain. Dan pihak lain di sini ialah orang-orang yang baru mendapat pekerjaan setelah hari hampir lewat. Para pekerja yang merasa mendapat upah terlalu sedikit sebenarnya tidak melihat sisi yang lebih dasar dari keadilan, yakni kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mendapat nafkah. Orang yang tak puas itu sebenarnya beruntung karena langsung mendapat pekerjaan tanpa perlu menunggu. Upah yang dijanjikan juga jelas dan wajar. Sudah terjamin. Tetapi ada banyak orang yang tak seberuntung mereka. Ada yang masih menganggur sampai siang dan bahkan sampai sore hari karena tak ada yang memberi pekerjaan. Dari mana mereka akan mendapat nafkah bagi hari itu? Apa mereka harus melewatkan malam hari dengan perut kosong? Apa rasa keadilan yang begini tidak muncul?

Sering terdengar, urusan mereka sendirilah bila tidak berhasil mendapat nafkah penyambung hidup. Tetapi hidup dalam Kerajaan Surga tidak demikian. Di situ tersedia kesempatan yang sama bagusnya bagi siapa saja. Inilah yang dalam perumpamaan tadi digambarkan dengan tindakan pemilik kebun keluar menawarkan pekerjaan bagi mereka yang kedapatan masih menganggur pada jam sembilan, tengah hari, tiga sore dan bahkan sejam sebelum waktu kerja usai. Mereka yang masih menunggu rezeki tidak ditinggalkan sendirian. Inilah keadilan yang diberlakukan dalam Kerajaan Surga.

Yesus pernah mengajarkan agar kita berdoa kepada Bapa yang ada di surga, mohon diberi "rezeki pada hari ini", maksudnya, nafkah penyambung hari ke hari. Apa yang kita rasakan kita bila kita ada dalam keadaan mereka yang belum mendapatkannya? Orang-orang ini tidak bakal dilupakan.

PERIHAL KERAJAAN SURGA

Kawan-kawan ingat, perumpamaan ini diceritakan Yesus dengan maksud untuk menjelaskan perihal Kerajaan Surga. Ia sudah sering mengajarkan bagaimana kehidupan kita di bumi ini bisa menjadi ruang leluasa bagi kehadiran Yang Mahakuasa. Oleh karena itulah saya menyampaikannya kembali dengan ungkapan Kerajaan Surga. Akan lebih mudah terbayang adanya wahana, ruang batin.

Mark dan Luc lebih suka menyebutnya Kerajaan Allah. Intinya sama, tetapi kedua rekan itu lebih menggarisbawahi yang hadir di dalam ruang batin itu, yakni Allah sendiri. Saya sendiri lebih menyoroti diri kita sebagai ruang tadi. Pemikiran saya ini ada latar belakangnya. Mari kita tengok kembali kisah penciptaan, khususnya yang terjadi pada hari kedua (Kej 1:6-8). Bukankah pada hari kedua itu Allah menjadikan langit? Dan yang dinamaiNya langit itu berperan memisahkan air yang di bawah dan air yang di atas. Karena itulah mulai ada ruang bagi ciptaan-ciptaan berikutnya, yakni daratan, laut, tumbuh-tumbuhan, hewan sampai kepada manusia.

Boleh saya sebutkan, dalam bahasa Ibrani (dan Aram, dan Yunani), kata untuk langit yang kita bicarakan itu sama dengan kata bagi surga, yakni "syamaim" (Aram "syemaya", Yunani "ouranos"). Berkat "syamaim" yang diciptakan tadi, berkat surga, maka bumi beserta isinya, dan khususnya manusia, terlindung. Jadi surgalah yang membendung kekuatan-kekuatan gelap serta kekacauan yang ada di seputar ciptaan yang dilambangkan dengan air-air. Jadi Pencipta menghendaki wahana kehidupan ini sejak awal dilingkupi oleh surga. Bila gagasan Kitab Kejadian di atas diikuti, maka ciptaan bersama isinya tentunya juga dimaksud agar semakin menjadi tempat kehadiranNya. Oleh karena itu, Kerajaan Surga boleh dibayangkan sebagai wahana yang luas tak berbatas yang semakin terisi siapa saya yang ingin masuk berlindung di dalamnya. Yang datang terlebih dahulu atau yang sudah lama menunggu dan baru masuk belakangan akan mendapatkan tempat.

Yesus datang mewartakan Kerajaan Surga yang benar-benar sudah ada di dekat. Ia mengajak orang banyak bertobat, ber-metanoia, artinya bukan asal kapok berbuat jahat dan banting setir, melainkanberganti wawasan mengenai hidup ini, berpikir luas melampaui yang sudah-sudah, maksudnya, tidak mengurung diri dalam pandangan-pandangan sendiri, tetapi mulai berpikir jauh ke depan meluangkan diri bagi kehadiran ilahi. Metanoia itu upaya untuk tidak membatasi horizon berpikir. Anda-anda yang suka tampil dikenal beragama itu mudah kejangkitan penyakit picik!

PENERAPAN

Dalam masyarakat kami dulu ada gagasan bahwa semua tindakan di bumi ini cepat atau lambat akan mendapat ganjaran sepadan di sini atau di akhirat, begitu pula kejahatan akan mendapat hukuman setimpal. Semacam balasan dari atas sana dengan menggunakan cara-cara seperti yang ada di dunia. Pendapat ini katanya ada juga dalam masyarakat anda. Kata para ahli, alam pikiran seperti inidijumpai di mana-mana. Memang ajaran ini menjadi pengontrol perilaku individu. Tapi bila hanya itu, orang akan bertanya-tanya, bagaimana dengan orang yang tidak dapat berbuat banyak? Apa hanya sedikit ganjarannya nanti? Jadi nanti di akhirat ada tingkat-tingkat menurut ukuran yang kita kenal sekarang? Dengan perumpamaan hari ini Yesus mengajak orang menyadari bahwa Kerajaan Surga itu berkembang dengan kemurahan hati Allah dan bukan dengan prinsip ganjaran bagi perbuatan di bumi.

Apakah perumpamaan itu memuat sindiran bagi kita manusia yang cenderung bertabiat mau mengambil lebih? Yang mudah iri bila melihat orang lain beruntung? Ah, tak usah kita pakai Injil untuk menyindir. Dan bukan itulah maksud saya. Yesus kiranya juga tidak bertujuan menyampaikan kritik moral sosial yang perlu kita khotbah-khotbahkan. Tujuannya ialah mengabarkan cara hidup dalam Kerajaan Surga. Pikir punya pikir memang perlakuan istimewa bagi yang masuk kerja belakangan itu termasuk warta mengenai Kerajaan Surga. Kemurahan ilahi juga tidak dapat diukur dengan banyak sedikitnya kerja. Bila diukur dengan cara itu akan tidak klop dan Kerajaan Surga akan menjadi perkara jual beli jasa.

Ada catatan penting. Orang-orang yang bekerja sejam itu mendapat upah karena juga bekerja sungguh-sungguh. Sedinar itu tidak dihadiahkan begitu saja. Seandainya mereka hanya enak-enak nongkrong di kebun, apa akan mendapat upah? (Ingat orang yang diberi satu talenta tetapi malah menguburkannya! Ia akhirnya tak dapat apa-apa, malah talenta itu diambil daripadanya. Lihat Mat 25:14-30, terutama ay. 24 dst. ) Upah tetap imbalan bagi usaha serta kerja yang nyata. Dan upayapenuh, tidak separo-separo. Yang bekerja hanya sejam itu juga bekerja penuh. Kan tak bisa lebih. Satu jam kemudian sudah tutup hari. Yang datang jam enam pagi ukurannya ya sehari kerja penuh.

Kawan-kawan, Kerajaan Surga itu ditawarkan kepada orang yang berada dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang sudah menunggu lama tapi tak kunjung mendapatkannya. Kalau dilihat dari sudut pandang ini, boleh jadi kita bisa lebih memahami kenapa pemilik kebun itu bermurah hati. Dan juga kita-kita yang boleh jadi merasa patut mendapat lebih akan merasa tidak perlu menuntut. Apakah kita tidak malah senang ada makin banyak orang yang diajak bekerja? Paling tidak pekerjaan kita bisa jadi ringan! Dan bagaimana bila yang datang terakhir itu justru kita sendiri?

Salam,
Matt

Lamunan Pekan Biasa XXV

Senin, 22 September 2014

Lukas 8:16-18

8:16 "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.
8:17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.
8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang disebut pendengar yang baik kalau dapat mengosongkan diri untuk menampung informasi yang ditangkap telinganya. Dengan mendengarkan orang dapat diam dan mendapatkan yang tidak dimiliki.
  • Tampaknya, orang disebut dinamis kalau selalu belajar dan belajar. Dengan belajar orang sadar bahwa dia memang selalu mengalami kekurangan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa kemampuan mendengar dan belajar sejati hanya dimiliki oleh orang yang sudah memiliki pengetahuan dan kebijakan yang diabdikan demi kebaikan banyak orang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang mengalami kemurahatian karena bermurah hati dan makin kaya karena memberikan kekayaan.
Ah, jaman sekarang berbuat baik pun harus hati-hati.

Saturday, September 20, 2014

Sabda Hidup

Minggu, 21 September 2014
Hari Minggu Biasa XXV
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a. BcO Tb. 1:1-22

Matius 20:1-16a:
1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. 2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. 3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. 4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. 5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. 6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? 7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. 8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. 9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. 10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. 11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, 12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. 13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? 14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. 15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? 16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Renungan:
Spontan, kala membaca bacaan hari minggu ini kata hatiku mengatakan, "yang tak laku dihargai Tuhan". Tuan rumah atau pemilik kebun anggur dari pagi sampai sore mencari orang yang menganggur untuk bekerja di kebunnya. Rasaku mereka yang sampai sore belum mendapat pekerjaan adalah kelompok orang yang tidak laku. Mereka yang tidak laku ini diambil oleh sang pemilik anggur dan pada saatnya mereka mendapat penghargaan yang sama dengan pekerja yang lain. Tuhan mengangkat yang tak laku menjadi sungguh berharga. Itulah salah satu prinsip Kerajaan Sorga.
Dalam banyak kesempatan kita bisa melihat banyak kejadian yang mengesampingkan segala sesuatu yang dianggap tidak berharga, bahkan manusia pun diperlakukan begitu. Diantara kekejaman seperti itu kita bisa bersyukur juga karena ada banyak pribadi yang rela mengangkat yang tampaknya tak berharga menjadi sungguh bernilai. Ada banyak lembaga sosial yang menolong anak/orang tua terbuang. Terhadap benda, ada banyak orang yang kreatif, bahkan menjadikan sampah menjadi emas.
Belajar dari pengalaman ini, marilah kita membuka hati dan budi bahwa tidak ada yang tidak berharga di sekitar kita. Ketika kita membuka mata dan hati kita akan mampu melihat semua yang ada layak dihargai. Marilah kita ubah yang tak laku menjadi bernilai.
   
Kontemplasi:
Pejamkan matamu dan ikuti alur dalam Injil . Rasakan bagaimana Tuhan menghargai setiap pribadi sebagai makhlukNya yang sungguh berharga.

Refleksi:
Bagaimana sikapmu dalam menghadapi mereka yang dicap tak berharga?

Doa:
Tuhan semoga aku mampu menghargai sesamaku sebagaimana Engkau menghargaiku sebagai ciptaanMu yang terbaik. Amin.

Perutusan:
Aku tidak akan menganggap remeh sesama ataupun segala sesuatu yang diberikan Tuhan kepadaku.