Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, January 24, 2015

PEDULI ILAHI


Pada hari Selasa 20 Januari 2015 Kelompok Bantul kumpul Jagongan Iman di rumah Bapak Priyatmodo, dusun Kadiroso. Yang hadir 10 orang bapak dan 23 ibu. Dari pokok Syahadat Katolik yang menjadi pembicaraan adalah kepercayaan kepada Tuhan Yesus yang "turun ke dalam kerajaan maut, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati".

Dari pembicaraan yang terlontar, yang menjadi perhatian utama adalah "turun ke dalam kerajaan maut". Hal ini terjadi karena para peserta yang menggunakan bahasa Jawa memiliki rumusan "kerajaan maut" yang dulu dirumuskan tedhak dhateng naraka (turun ke dalam neraka). Pendapat para peserta pada umumnya berkisar di antara kasih dan kepedulian Kristus kepada manusia yang terumus:
  • Sebagai Allah yang menjadi manusia, Dia merasakan sebagai manusia biasa dan ikut dipanggil oleh Bapa.
  • Neraka dan surga itu buatan Tuhan, maka dikunjungi.
  • Ini menunjukkan kesungguhan cinta Tuhan.
  • Tuhan menjemput dan membuka pintu surga bagi para arwah dari Adam hingga wafat Tuhan yang mengalami surga ditutup. 
  • Tuhan datang untuk meneliti arwah baik dan buruk.
  • Kerajaan Allah itu ada di antara manusia di manapun berada.
Salah satu peserta mempertanyakan rumusan itu dari mana. Hal ini disebabkan si peserta belum pernah menemukannya di dalam Kitab Suci. Dari sini Rama Bambang memberikan wawasan bahwa pegangan beriman dalam Gereja Katolik ada tiga: 1) Kitab Suci sebagai landasan rohani; 2) Tradisi, dogma, dan pedoman sebagai pegangan kesatuan; 3) Tanda-tanda zaman untuk ungkapan dan wujud dalam kehidupan kongkret.

Pendapat para peserta kemudian dikritisi dengan Katekismus Gereja Katolik (KGK). Dari sini ada yang diteguh, ada yang dikoreksi, dan ada perluasan pemahaman. Yang dibacakan adalah KGK no. 632-635:

632   Penegasan Perjanjian Baru yang begitu sering tentang Yesus yang "bangkit dari antara orang mati" (Kis 3:15; Rm 8:11; 1 Kor 15:20) mengandaikan bahwa sebelum kebangkitan Ia tinggal di tempat penantian orang mati. Itulah arti pertama yang diberikan oleh pewartaan para Rasul mengenai turunnya Yesus ke dunia arwah: Yesus mengalami kematian seperti semua manusia dan masuk dengan jiwa-Nya ke tempat perhentian orang mati. Tetapi Ia turun ke tempat ini sebagai Penyelamat dan memaklumkan Warta gembira kepada jiwa-jiwa yang tertahan di sana.
633   Kitab Suci menamakan tempat perhentian orang mati, yang dimasuki Kristus sesudah kematian-Nya "neraka", "Sheol" atau "hades", karena mereka yang tertahan di sana tidak memandang Allah'. Itulah keadaan semua orang yang mati sebelum kedatangan Penebus, apakah mereka jahat atau jujur. Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka semua mempunyai nasib sama. Yesus menunjukkan hal itu kepada kita dalam perumpamaan tentang Lasarus yang miskin, yang diterima "dalam pangkuan Abraham". "Jiwa orang jujur, yang menantikan Penebus dalam pangkuan Abraham, dibebaskan Kristus Tuhan waktu Ia turun ke dunia orang mati" (Catech. R. 1,6,3). Yesus tidak datang ke dunia orang mati untuk membebaskan orang-orang terkutuk dari dalamnya', juga tidak untuk menghapuskan neraka, tempat terkutuk, tetapi untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia.
634   "Juga kepada orang-orang mati, Injil diwartakan" (1 Ptr 4:6). Dengan turunnya Yesus ke dunia orang mati, selesailah sudah penyampaian Warta gembira mengenai keselamatan. Itulah tahap terakhir perutusan Yesus sebagai Mesias -- tahap yang menurut rentang waktu sangat singkat, tetapi menurut nilainya tidak dapat diukur: penyebarluasan karya penebusan kepada semua orang dari segala waktu dan tempat, karena penebusan diperuntukkan bagi semua orang benar.
635   Dengan demikian Kristus turun ke dunia orang-orang mati, agar "orang-orang mati mendengar suara Anak Allah ... dan mereka yang mendengar-Nya, akan hidup" (Yoh 5:25). Yesus, "Pemimpin kehidupan" (Kis 3:15), datang "supaya memusnahkan dia, yaitu iblis, yang berkuasa atas maut dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut" (Ibr 2:14-15). Kristus yang telah bangkit, sekarang memegang di tangan-Nya "segala kunci maut dan kerajaan maut" (Why 1:18), dan "dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi" (Flp 2:10).
"Hari ini suasana sunyi mendalam meliputi dunia, suasana sunyi mendalam dan lengang. Suasana sunyi mendalam, karena raja mengasoh. Rasa takut menguasai dunia dan is menjadi bisu, karena Allah -- dalam daging -- tertidur dan membangunkan manusia yang tidur sejak zaman baheula .... Ia pergi mencari Adam, leluhur kita, mencari domba yang hilang. Ia hendak mengunjungi mereka yang hidup dalam kegelapan dan dalam bayangan maut. Ia datang supaya membebaskan Adam yang tertangkap dan Hawa yang turut tertangkap itu dari penderitaannya. la, yang sekaligus Allah dan anak mereka... `demi engkau Aku menjadi anakmu, Aku, Allahmu ... Bangunlah, hai orang yang sedang tidur ... Aku tidak menciptakan kamu, supaya kamu ditahan dalam penjara dunia orang mati. Bangunlah dari orang-orang mati. Akulah kehidupan orang-orang mati'" (Homili tua pada hari Sabtu Agung).

Sabda Hidup

Minggu, 25 Januari  2015
Hari Minggu Biasa III
Penutupan Pekan Doa Sedunia
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Yun. 3:1-5,10; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; 1Kor. 7:29-31; Mrk. 1:14-20. BcO Rm. 8:1-17

Markus 1:14-20:
14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" 16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Renungan:
Untuk mendapatkan muridNya Yesus berjalan. Ia berjalan menyusuri danau. Perjalanan ini yang membuat Yesus menemukan orang-orang yang dijadikan muridNya.
Saya teringat banyak imam yang selalu bertanya kepada anak-anak, "Besok mau jadi Rama?". "Mau jadi Suster?" "Mau jadi Bruder?" Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain dan selalu menanyakan seperti itu. Dari ratusan anak yang ditanya satu dua orang memang kemudian menjadi imam, bruder atau suster.
Mendapatkan calon memang memerlukan gerakan, usaha dan tak capai untuk selalu mengutarakan. Keteguhan para imam dan biarawan-biarawati dalam menemukan panggilan pantaslah kita support. Semoga di tahun Lembaga Hidup Bhakti ini makin banyak yang tergerak dalam panggilan hidup sebagai imam, bruder dan suster.

Kontemplasi:
Bayangkan kisah Yesus yang memanggil murid-muridNya dalam Injil Mrk. 1:14-20. Jadilah salah satu tokoh dalam kisah tersebut.

Refleksi:
Apa sumbanganmu bagi panggilan di Gereja ini?

Doa:
Tuhan semoga para imam, biarawan dan biarawati meneladan PuteraMu "berjalan" mencari mereka yang Kaupanggil. Dan semoga banyak orang tergerak mengikutiMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan terlibat dalam karya panggilan Tuhan.

Friday, January 23, 2015

Injil Minggu Biasa III/B, 25 Januari 2015

By on Jendela Alkitab, Mingguan
dari http://www.mirifica.net/2015/01/21

Mrk 1:14-20

INI WAKTUNYA! YA INILAH SAATNYA!

HARI MINGGU ini kita dengar bagaimana Yesus mulai tampil di muka umum. Dua hal dilakukannya, yang pertama ialah mengumumkan Injil (Mrk 1:14-15) dan yang kedua, memanggil para murid yang pertama (1:16-20). Peristiwa ini terjadi di dekat Danau Galilea, di wilayah utara Tanah Suci. Kegiatan ini mengawali perjalanannya membawakan Kabar Gembira dalam ujud pengajaran dan macam-macam penyembuhan dari Galilea menuju ke selatan, sampai ke Yerusalem.

MENGAJAK ORANG MENDENGAR

Setelah dibaptis, Yesus dipimpin Roh ke padang gurun (Mrk 1:12-13). Di sana selama 40 hari (Mrk 1:12-13) ia mengalami kehadiran Roh, tapi juga menghadapi kekuatan Iblis. Ia terpisah dari jangkauan sesama (“hidup bersama dengan binatang liar”) namun juga disertai para malaikat. Begitulah cara Injil menampilkan Yesus sebagai manusia yang integritasnya teruji, sebagai manusia yang betul-betul dekat pada keilahian sehingga kekuatan yang jahat tidak dapat menguasainya. Orang seperti inilah yang tampil di masyarakat dan membawakan Kabar Gembira. Ia sendiri sudah mengalaminya dan karenanya dapat mewartakannya.

Disebutkan pada awal Injil kali ini bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap. Orang banyak tak lagi dapat datang menyatakan tobat seperti dulu. Tetapi kini ada tokoh yang lebih besar yang telah diberitakan sang Pembaptis sendiri. Dia sudah hadir dan mengabarkan bahwa “genaplah waktunya, Kerajaan Allah sudah dekat”. Sekaligus ia mengajak orang-orang menumbuhkan sikap yang paling cocok menanggapi kenyataan baru ini, yakni “bertobat dan percaya kepada Injil”.

Orang Yahudi dulu membayangkan bahwa sejak awal Yang Maha Kuasa sudah menentukan kurun waktu sebelum datang zaman baru yang ditandai dengan kehadiran-Nya di dalam kehidupan orang-orang-Nya. Kurun waktu ini kini dinyatakan telah genap, telah terpenuhi. Masa menunggu sudah selesai. Zaman baru yang tadi dinanti-nantikan dan diungkapkan dengan gagasan “Kerajaan Allah” sudah ada di tengah-tengah manusia. Kini ada seorang manusia yang membiarkan diri sepenuhnya dijadikan tempat berdiam bagi-Nya. Di dalam diri orang inilah dapat dikatakan “Allah meraja”. Jadi dalam paruh pertama pewartaan Yesus tadi hendak dikatakan ada orang yang benar-benar dapat menghadirkan kebesaran Allah di tengah-tengah manusia.

Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa yang dibicarakan ialah diri Yesus sendiri. Dialah ujud nyata Kerajaan Allah yang sudah dekat itu. Beberapa waktu sebelumnya, pada saat pembaptisannya, ia dinyatakan sebagai orang yang amat dekat pada Yang Maha Kuasa dan ditandai oleh Roh. Kesungguhannya juga telah teruji. Ia dapat mengenali gerak kekuatan-kekuatan yang jahat dan yang baik. Pernyataan “Kerajaan Allah sudah dekat” itu pernyataan iman yang amat berani tanpa melebih-lebihkan, tetapi juga tanpa menutup-nutupi kebesaran dia yang mewartakannya. Pendengar di zaman apapun akan merasa dihadapkan pada kenyataan baru. Dan tak bisa lagi diam saja. Menganggapnya sepi sama saja dengan menolak dan tidak mempercayai kebenarannya. Mulai mencoba memahami berarti menerimanya dan mengarahkan diri pada kehadiran Allah dalam ujud orang yang ini. Itulah inti dari “bertobat”. Pergantian haluan hidup hanyalah kelanjutan dari arah baru ini. Dan baru demikian orang bisa diajak mempercayai Injil, yakni Kabar Gembira. Manakah inti Kabar Gembira yang dibawakannya?

Menurut Injil Yohanes, satu ketika Yesus mengajak dua orang yang mau mengenalnya agar datang dan melihat sendiri (Yoh 1: 38-39). Begitu pula dalam Injil Markus (juga Matius dan Lukas), Yesus mengajak orang-orang menemukan apa Kerajaan Allah itu bagi mereka sendiri serta menjadi bagian darinya. Seperti ia sendiri. Inilah Kabar Gembira yang dibawakannya. Suatu warta yang memungkinkan kemanusiaan berkembang seutuh-utuhnya, tapi juga arah yang memungkinkan Allah bisa hadir sedekat-dekatnya. Bukan lagi warta harus begini harus begitu, tak boleh ini itu, melainkan warta yang membuat orang menemukan diri dalam Allah.

Bagaimana kenyataannya di dalam hidup sehari-hari? Dalam bagian kedua bacaan Injil hari ini (ay. 16-20) ditunjukkan bagaimana Yesus mengajak orang-orang tertentu untuk menghidupi Kabar Gembira tadi. Bersama mereka nanti Yesus akan membawakan apa itu kehadiran Kerajaan Allah kepada orang banyak, apa itu kenyataan hidup yang membuat Allah dapat dirasakan hadir oleh orang banyak. Pengajaran, penyembuhan, pengusiran kekuatan roh jahat, semua inilah tanda-tanda hadirnya Allah di tengah kemanusiaan. Itulah ujud nyata Kerajaan-Nya yang dialami orang-orang pada waktu itu dan diceritakan kembali bagi generasi-generasi berikutnya.

WILAYAH GALILEA

Menurut Mrk 1:14 dan 16 Yesus mulai tampil di wilayah Galilea, di tempat-tempat di dekat danau, terutama di kota Kapernaum. Sudah pada zaman Perjanjian Lama, wilayah utara ini berbeda dengan Yudea di selatan, baik alamnya maupun kehidupan sosialnya. Di utara tanahnya lebih subur. Perekonomiannya lebih maju. Orang-orangnya lebih berpikir independen. Tetapi sering mereka dipandang kurang taat beragama oleh elit politik-religius di Yerusalem, yakni ahli Taurat, para imam, kaum Farisi. Memang di wilayah utara juga ada cukup banyak orang yang asalnya dari Yudea. Mereka pindah ke utara untuk mendapatkan nafkah lebih besar dan mencari peluang yang lebih luas. Keluarga Yesus kiranya juga dari Yudea. Karena itulah Yusuf dan Maria datang ke sana dari Nazaret di Galilea untuk menyensuskan diri seperti diceritakan Lukas (Luk 2:1-5).

Macam-macam prasangka, lebih-lebih di bidang hidup keagamaan, lebih terasa di Yerusalem dan Yudea pada umumnya. Di utara orang biasa berhubungan dengan budaya lain. Di wilayah yang memiliki kebiasaan berpikir lebih luas itulah Yesus mulai mewartakan sesuatu yang baru. Ia didengarkan. Lihat misalnya kekaguman orang di Kapernaum mendengarkan uraiannya yang segar mengenai Taurat (Mrk 1:21-22; Luk 4:31-32). Mereka tertarik. Tidak pasif saja dan kemudian melupakannya. Tentu saja mereka tidak selalu menyambutnya dengan terbuka. Di Nazaret sendiri ia bahkan pernah ditolak (Mrk 6:1-6a Mat 13:53-58 Luk 4:16-30).

Di wilayah Galilea sudah beberapa puluh tahun sebelumnya berkembang satu sektor perekonomian baru, yakni eksploitasi ikan dari danau. Pasar-pasar ikan di tepi danau bertumbuh dan akhirnya menjadi tempat hunian dan kota yang ramai. Kapernaum ialah salah satu dari kota-kota itu. Begitu juga Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepi danau Tiberias. Nanti Yesus akan mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu para nelayan. Dalam ukuran zaman itu para nelayan ialah orang-orang yang maju dalam bisnis. Salah satu usahawan seperti itu ialah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Memang kebanyakan masih dilakukan sendiri, dari menjala, menyortir, kemudian membawanya ke pasar. Umumnya orang-orang itu lincah berusaha. Inilah orang-orang yang dijumpai Yesus dan yang kemudian menjadi pengikutnya. Bahkan dari antara mereka ada yang menjadi murid-muridnya yang pertama. Yesus melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia tidak menunggu orang datang kepadanya. Ia mendatangi para nelayan itu, menyertai mereka. Begitulah ia makin didengar orang.

PANGGILAN  MENJADI MURID

Dalam petikan Injil ini juga diceritakan Yesus memilih murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan. Mereka serta-merta meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus. Juga Yakobus dan Yohanes segera meninggalkan perahu serta ayah mereka yang kiranya pemilik perusahaan ikan yang sukses tadi. Orang-orang ini melihat kenyataan “Kerajaan Allah” dalam diri orang yang mengajak mereka ikut. Dan mereka tidak ingin kehilangan dia. Mereka pun mengikutinya dan berpindah gaya hidup. Itulah “bertobat” bagi mereka. Dan itu juga kenyataan “percaya kepada Injil”. Terlihat kini Kerajaan Allah mulai hidup dalam diri orang-orang di sekitar Yesus juga.

Mereka yang dipanggil itu akan dijadikan penjala manusia (Mrk 1:17=Mat 4:19). Sering diartikan mencari pengikut sebanyak-banyaknya, seperti mendulang lubuk misi! Tafsiran seperti itu tidak klop, baik dulu maupun sekarang, bahkan bisa memerosotkan panggilan yang digambarkan Injil. Dalam Luk 5:10 “penjala manusia” dirumuskan sebagai “anthroopous (esee) zoogroon”, artinya yang menangkap manusia untuk membawanya ke kehidupan. Begitulah penjelasan yang berasal dari zaman itu sendiri. Tanggung jawab para murid bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, menguatkan orang agar bisa hidup terus, membuat orang menemukan jalan sendiri. Dan bukan hanya dalam kehidupan rohani belaka.

Dapatkah Gereja menjadi wadah yang baru bagi mereka yang tertangkap bagi kehidupan itu? Atau wadah ini sendiri perlu dibenahi dulu sehingga memungkinkan panggilan menjadi pengikut Yesus? Bagi zaman kita ini, ajakan untuk membawa orang-orang ke kehidupan masih amat aktual. Juga dalam mengusahakan masyarakat yang lebih memungkinkan hidup pantas bagi semua. Juga dalam mengajak semua orang yang berkemauan baik untuk bersama-sama membangun masyarakat yang bertumpu pada keadaban, bukan merusaknya.

DARI BACAAN KEDUA (1Kor 7:29-31)

Pada zaman itu umat Korintus hidup di tengah-tengah masyarakat luas dengan pelbagai tawaran cara hidup metropolitan. Ada kalangan yang mengikuti cara hidup bebas, apa saja sah. Bukannya mereka ini selalu amoral. Dalam paham etika yang menekankan kemerdekaan manusia sebagai diri rasional, pandangan ini bisa membuat tindak tanduk manusia dewasa lebih otentik, lebih mandiri, dan bernilai. Tetapi bila tidak berpegangan dan bernalar memang bisa merosot dan apa saja dihalalkan dan amoralitas mudah terjadi. Ada pula kalangan lain yang amat ketat mengikuti hukum-hukum kelakuan baik dan agama. Mereka ini  bisa menjurus ke puritanisme dan intoleran. Khusus pada masa itu ada aliran pemikiran religius yang beranggapan apa-apa yang badaniah itu termasuk  yang kotor. Mereka ini bahkan berpendapat bahwa perkawinan termasuk kelakuan seperti itu. Pendapat seperti ini agak bergema dalam surat Paulus kepada orang  Korintus, lihat misalnya  1Kor 7:1-16 yang berisi nasihat-nasihat keras dalam hidup suami-istri. Masalahnya, bagaimana sikap yang benar dan perilaku yang pantas bagi para pengikut Kristus di Korintus waktu itu.

Khusus dalam bagian yang dibacakan kali ini Paulus menanggapi persoalan di atas dengan mengutarakan satu  pegangan, yakni menyadari kini saatnya sudah tiba bagi tiap orang untuk betul-betul memegang yang bakal memberi kehidupan. Waktunya sudah terasa singkat! (1Kor 7:29) Tak ada lagi kesempatan untuk enak-enak mencoba  yang ini atau yang itu. Jalani terus serta tekuni pilihan serta kehidupan yang nyata-nyata sedang dijalani ketika mereka menjadi pengikut Kristus. Dapat diperkirakan, mereka ini asalnya dari kalangan yang bersikap ketat dalam moralitas serta condong beranggapan bahwa barang-barang duniawi berlawanan dengan kehidupan batin. Kepada mereka  ini dinasihatkan Paulus agar tidak berpindah-pindah cara hidup, maksudnya, agar tidak semakin mengetatkan dan semakin menjauhi kehidupan badaniah. Sudah cukup. Tekuni saja.
Pembaca kini bisa bertanya, lho kalau begitu tak usah bertobat? Ah, tak usah kita pegang anggapan kaku mengenai apa itu bertobat. Bagi umat Korintus waktu itu, ujud pertobatan yang paling cocok ialah tidak melebih-lebihkan perilaku asketik menjauhi apa-apa yang badaniah. Sudah cukup kesadaran bahwa barang-barang duniawi serta kelakuan badaniah itu tak usah menentukan segalanya. Dinasihatkan Paulus, yang telah beristri hendaklah berkelakuan seolah-olah sudah tidak beristri. Bukan agar menjauhi istri, ini justru yang hendak dicegah Paulus. Orang di Korintus ada yang tergoda untuk berlebihan bermatiraga sehingga sang istri pun dijauhi. Maka nasihat  Paulus, cukup, anggap saja seolah-olah sudah menjauhi istri, dan terus hidup biasa – maksudnya  sebagai suami istri. Begitu pula orang yang “menangis”, maksudnya ada dalam kesusahan. Di Korintus ada kecenderungan untuk melebih-lebihkan penderitaan. Cukup, anggap saja tidak dalam penderitaan sehingga tak usah menambah-nambah rasa susah. Yang gembira begitu pula diajak agar tidak beranggapan ini buruk – anggap saja tidak sedang  gembira. Titik. Begitu seterusnya. Ini bukan ironi. Nasihat-nasihat ini cocok buat orang di  Korintus. Juga  menunjukkan ketrampilan pastoral Paulus. Satu hal perlu dipegang: waktunya singkat, jadi jangan aneh-aneh. Yang penting ialah integritas. Inilah juga yang diserukan dalam ajakan bertobat dan percaya akan Kabar Gembira serta mengikuti Yesus. Ini juga kenyataan apa itu “terjala bagi kehidupan” seperti diuraikan di muka.

Foto: Yesus tampil di muka umum dan mengumumkan Injil serta memilih murid-Nya yang pertama, ilustrasi dari pejesdb.com

NOVENA DOMUS 2015 TAHAP 1


Novena Ekaristi Seminar di Domus Pacis untuk tahun 2015 akan dimulai pada hari Minggu Pertama 1 Maret 2014. Tema-tema untuk tahun 2015 akan berkisar pada sikap batin yang selayaknya menjadi penghayatan hidup di sekitar usia tua. Untuk tahap pertama yang akan hadir sebagai pembicara adalah Mgr. Yohanes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang. Beliau akan mengajak para peserta merenungkan tema SAYA TUWA SAYA SUMELEH. Tema ini muncul dari pertimbangan:
  • Kaum tua/lansia dapat galau karena berbagai sebab seperti post power syndrome, derita sakit, kesendirian, dan perasaan tak terpakai bahkan terbuang. 
  • Dalam keadaan seperti ini kaum tua/lansia dapat gelisah dan bertanya-tanya dalam lubuk hanya “Aku kudu piyé?
Sebagaimana yang sudah berjalan selama 2 tahun, peserta harus mendaftarkan diri paling lambat tujuh hari sebelum hari pelaksanaan. Hal ini penting untuk penyediaan konsumsi. Mulai dengan tanggal 24 Januari 2015 pendaftaran dimulai. Pendaftaran paling lambat pada Senin 23 Februari 2015. Pendaftaran ini dapat dilakukan cukup dengan mengirim SMS ke Rama Bambang lewat HP no 087834991969.

Lamunan Pesta Wajib

Santo Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Hari Ketujuh Pekan Dunia Sedunia
Sabtu, 24 Januari 2015

Markus 3:20-21

3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.
3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang dipandang baik kalau memiliki kewajaran hidup. Kewajaran hidup adalah tingkah dan perbuatan yang dilakukan oleh kebanyak orang.
  • Tampaknya,  orang yang berbuat dan berbicara tidak sesuai dengan adat kebiasaan umum biasa dicap sebagai tidak normal. Bahkan yang memiliki perbedaan cara berpikir dan bertindak yang berbeda dengan umum dapat disebut tidak waras.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa berbeda dan bertentangan apapun orang dengan arus umumnya tetapi menjadi kegirangan masyarakat luas terutama kaum papa dan menderita, hal itu menunjukkan mulia dan murninya pelayanan seseorang demi kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mempunyai ungkapan dan wujud hidup yang murni alami dan membawa pembaruan pola hidup yang bermakna dan berguna.
Ah, yang tak sejalan dengan pola umum adalah tak normal.

Thursday, January 22, 2015

TUA SEGAR


Sebenarnya yang sudah membuat janji sekitar 2 minggu sebelumnya adalah Lingkungan Pringgokusuman, Paroki Kumetiran. Tetapi pada Kamis 15 Januari 2015 Rama Agoeng bertanya kepada Rama Bambang "Saking Fatima Magelang benjang Minggu badhe wonten kunjungan. Saget mboten?" (Besok Minggu ada umat dari Paroki Fatima, Magelang, akan berkunjung. Bisa atau tidak?). Rama Bambang, yang sebenarnya agak gelisah karena sudah ada janji menerima kunjungan dari Pringgokusuman ke Domus Pacis pada hari yang sama, menjawab "Nggih, saget" (Ya, bisa). "Jumlah sing ajeng rawuh pinten?" (Berapa orangyang akan datang?) tanya Rama Bambang yang dijawab oleh Rama Agoeng "Kalih dasa" (20 orang). Mereka akan datang pada jam yang sama pada Minggu 18 Januari 2015.

Pada Minggu saat janjian itu 35 orang dari Pringgokusuman sudah datang pada jam 09.40. Sementara itu Mbak Tari bilang bahwa lewat telepon ada info kelompok Magelang sudah berangkat pada jam 09.00. Kelompok Pringgokusuman diminta menikmati minuman lebih dahulu. Kemudian pada jam 10.15 pertemuan dimulai dengan nyanyi-nyanyi bersama yang membuat para tamu merasa senang. Rama Bambang mengiringi dengan keyboard. Rama Yadi, Rama Harto dan Rama Bambang duduk berdampingan dengan kursi roda masing-masing. Rama Tri Wahyono dan Rama Agoeng duduk kursi di samping meja makan. Kemudian Rama Yadi dan Rama Harto berpasangan menjelaskan apa itu Domus Pacis, siapa saja penghuninya, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para rama penghuni Domus. Di tengah-tengah pembicaraan, rombongan dari salah satu Lingkungan sebelah Barat gereja Fatima Magelang datang. Dari para tamu pengunjung muncul pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dengan kocak oleh Rama Yadi, Rama Harto, dan Rama Bambang. Ternyata para tamu dari Magelang sudah mempersiapkan lagu dengan syair-syair yang setiap kali disambut dengan refren "Rasa Sayange".

Nyanyian dari Magelang menjadi penutup dari pertemuan kunjungan. Ketika wakil dari Magelang dengan resmi berpamitan, Rama Bambang menyergah dengan kata-kata "Entuk mulih ning melu mangan dhisik. Nek ora gelem takpujek-pujekke engko tabrakan" (Boleh pulang tetapi harus ikut makan lebih dahulu. Kalau tak mau ikut makan kudoakan nanti kecelakaan di jalan) yang membuat semua tertawa terbahak-bahak. Rama Bambang memang sudah memesan santap siang dari salah satu warung di Puren, Pringwulung. Padahal Rama Bambang juga minta para tamu dari Kumetiran membawa lauk untuk makan siang. Maka santap siang jadi berlimpah. Ada beberapa tamu yang membawa pulang beberapa menu sisa. Beberapa tetangga Domus Pacis pun juga mendapatkan bagian. Ada tamu yang bilang "Kesegaran para rama tua sungguh jadi inspirasi bagi kami" yang diiyakan oleh beberapa orang di dekatnya.

Sabda Hidup

Jumat, 23 Januari  2015
Yosefa Maria dr Beniganim
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Ibr. 8:6-13; Mzm. 85:8,10-11,13-14; Mrk. 3:13-19. BcO Rm. 7:1-13

Markus 3:13-19:
13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Renungan:
Yesus menetapkan 12 orang untuk menyertaiNya dan memberi mereka kuasa untuk mengusir setan (lih Mrk 3:14-15). Orang-orang yang dipilih ini selalu menemaniNya. Mereka menjadi pengikutNya yang setia, kecuali satu orang yang pada saatnya mengkhianatiNya (lih Mrk 3:19).
Rasanya berkarya memang tidak bisa seorang diri. Selalu dibutuhkan orang lain untuk menyertai. Kehadiran mereka akan memperluas cakrawala, meringankan beban tanggungjawab, memperlebar daya jangkau dll. Satu, dua, tiga orang teman menguatkan gerak yang kita persiapkan. Namun memang tidak semua orang itu setia. Pada saat-saat tertentu atau karena alasan tertentu mereka bisa berkhianat. Pertemanan berubah menjadi permusuhan. Saudara menjadi lawan.
Walau ada kemungkinan tersebut, kita tetap perlu membangun persahabatan. Ada banyak lebihnya membangun persahabatan daripada berdiam diri dan sibuk dengan diri sendiri.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu. Hadirkan sahabat-sahabatmu. Ingatlah peran-peran mereka dalam hidupmu.

Refleksi:
Apa arti sahabat bagimu?

Doa:
Tuhan lindungilah para sahabatku. Lindungilah dan dampingilah mereka. Semoga mereka selalu dekat denganMu dan menjadi perpanjangan tanganMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan mendoakan sahabat-sahabatku.