Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, December 22, 2014

Sabda Hidup

Selasa, 23 Desember 2014
Hari Biasa Khusus Adven
warna liturgi Ungu
Bacaan:
Mal. 3:1-4; 4:5-6; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; Luk. 1:57-66. BcO Yes. 43:18-28

Lukas 1:57-66:
57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." 61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." 62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya. 64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Renungan:
Nama Yohanes. "Namanya adalah Yohanes" (Luk 1:63). Ketika nama itu dituliskan oleh Zakharia semua orang terheran-heran, karena tidak ada nama itu dalam keluarganya. Dan sesudah menuliskan nama tersebut terbukalah mulut Zakharia. Ia pun memuji-muji Allah. Dan semua orang menjadi ketakutan.
Yohanes menjadi pribadi yang mengusik hati setiap orang. Kehamilan Elisabet, kelahirannya dan namanya membuat banyak orang tercengang. Mereka terheran-heran dan ketakutan. Peristiwa-peristiwa yang mengikutinya pun membawa suasana yang tak kalah menakjubkan.
Kehadiran pribadi Yohanes mengubah sikap pandang orang. Mereka pun bertanya-tanya akan jadi apa anak itu nanti. Kehadiran setiap manusia pun bisa membangkitkan tanya pada siapapun. Pertanyaan apa yang muncul dengan kehadiranmu?
 
Kontemplasi:
Duduklah dengan tenang. Bayangkan peristiwa dalam Injil  Luk. 1:57-66.

Refleksi:
Apa arti nama yang kaupakai sekarang ini dan bagaimana perwujudannya?

Doa:
Tuhan, kehadiran Yohanes menjadi tanda yang menghidupkan masyarakat di sekitarnya. Semoga aku pun juga menjadi tanda hidup tugasMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan menghidupi nama yang kupakai.

Sunday, December 21, 2014

DASARNYA IMAN


Butir Syahadat Katolik tentang iman kepada Yesus Kristus "yang dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria" menjadi pembicaraan dalam program Jagongan Iman pada hari Rabu 17 Desember 2014 Kelompok Godang. Ini adalah pertemuan ketiga yang terjadi rumah keluarga Bapak Slamet dan diikuti oleh 13 orang (8 ibu dan 5 bapak).

Dari Pemahaman Peserta

Sesudah hening merenungkan butir pembicaraan, terjadi lontaran-lontaran pendapat yang menyampaikan pemahaman para peserta terhadap tema pertemuan. Dari kesimpulan didapatkan 3 pokok:
  • Peran Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus menjadi kunci dari terjadinya peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Kuasa Roh adalah adalahtampilan kehendak Allah. Kalau Allah sudah berkehendak tak ada sesuatu yang mustahil.
  • Yesus. Dengan campur tangan Roh Kudus Yesus menjadi manusia yang diunggulkan. Yesus adalah jalan Allah yang tak kasat mata (dapat dipandang mata) yang membutuhkan tubuh jasmaniah lewat Ibu Maria. Dia adalah Tuhan yang sendiri datang dalam dunia manusia. Kehendak Allah yang mahakuasa dan mahacinta mengambil bentuk kedangingan agar sama dengan manusia.
  • Maria. Walau sudah melahirkan tetapi tetap perawan, karena semua adalah kehendak Allah. Ibu Maria menjadi altar Tuhan Yesus. Segala hal tentang Ibu Maria sudah menjadi janji yang ada dalam Perjanjian Lama.
Satu hal yang perlu mendapatkan catatan adalah semua itu selalu dilandaskan pada iman atau kepercayaan. Iman adalah dasar dari segalanya sebagaimana dikatakan dalam surat kepada umat Ibrani "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibr 11:1)

Belajar Dari Katekismus Gereja Katolik (KGK)

Dari KGK no. 484-486 dipahami bahwa peristiwa Tuhan Yesus dengan kuasa Roh Kudus lahir dari Maria adalah pelaksanaan janji-janji sebelumnya sebagaimana ada dalam Perjanjian Lama. Maka warta pada Maria menjadi "kegenapan waktu" (Gal 4:4). Dengan kuasa Roh Kudus raham Maria menjadi kudus. Yang paling pokok adalah iman akan Yesus. Ini mendasari kepercayaan dan ajaran Gereja Katolik tentang Maria. Bahkan Maria diyakini tanpa dosa sejak dikandung karena penuh rahmat dan ditebus atau diselamatkan sejak dikandung. Hal ini ditunjukkan dalam KGK no. 490-493. Inilah yang mencirikan iman Kristiani dalam Gereja Katolik yang mendasarkan diri pada 3 pegangan: 1) Kitab Suci sebagai landasan rohani; 2) Tradisi dan pedoman/ajaran Gereja; 3) Tanda-tanda zaman atau situasi kongkret. Teks-teks KGK yang dibacakan adalah sebagai berikut:

484   Pewartaan kepada Maria membuka "kegenapan waktu" (Gal 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal "seluruh kepenuhan ke Allah an secara jasmaniah" (Kol 2:9). Jawaban ilahi atas pertanyaan Maria: "Bagaimana mungkin hal itu terjadi karena aku belum bersuami?" (Luk 1:34) menunjukkan kekuasaan Roh: "Roh Kudus akan turun atasmu" (Luk 1:35).

485   Perutusan Roh Kudus selalu berhubungan dengan perutusan Putera dan diarahkan kepada-Nya. Roh Kudus diutus supaya menguduskan rahim perawan dan membuahinya secara ilahi; la, "yang adalah Tuhan dan menghidupkan", menyebabkan bahwa perawan mengandung Putera abadi Bapa, yang menerima kodrat manusiawi dari dia.

486   Putera tunggal Bapa, yang dikandung oleh Perawan Maria sebagai manusia, adalah "Kristus", artinya diurapi Roh Kudus, sejak awal keberadaan manusiawi-Nya, juga apabila itu baru dinyatakan selangkah demi selangkah: mula-mula kepada para gembala, lalu kepada para ahli nujum2, Yohanes Pembaptis dan para murid4. Seluruh kehidupan Yesus akan menyatakan bahwa "Allah mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan kuat kuasa" (Kis 10:38).

487   Apa yang Gereja Katolik percaya dan ajarkan tentang Maria, berakar dalam iman akan Kristus, tetapi sekaligus juga menjelaskan iman akan Kristus.

490   Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, "maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur" (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai "penuh rahmat" (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.

491   Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria, "dipenuhi dengan rahmat" oleh Allah (Luk 1:28), sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh dogma "Maria Dikandung tanpa Noda Dosa", yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX:

... bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal" (DS 2803).

492   Bahwa Maria "sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa" (LG 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: "Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul" (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta yang mana pun Bapa "memberkati dia dengan segala berkat Roh-Nya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam surga" (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.

493   Bapa-bapa Gereja Timur menamakan Bunda Allah "Yang suci sempurna" [panhagia]: mereka memuji dia sebagai yang "bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru" (LG 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.

Lamunan Pekan Adven IV

Senin, 22 Desember 2014

Lukas 1:46-56

1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan,
1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang memang mudah amat bersyukur apabila mendapatkan perhatian besar. Apalagi kalau hal ini terjadi pada orang kecil dan tak berstatus.
  • Tampaknya, orang memang mudah amat bersyukur apabila mendapatkan anugerah di luar yang dipikirkan. Pengangkatan pada status amat terhormat dalam masyarakat akan membuat orang kecil dan tak berstatus merasakan kegembiraan yang luar biasa.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa syukur sejati terjadi dalam diri seseorang yang memandang peristiwanya bukan sekedar peristiwa individual tetapi meletakkannya dalam pengalaman bangsa yang mengalami kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relurung hati orang mudah menyatukan hati ke suasana nubari umum terutama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.
Ah, bagaimanapun orang pada umumnya ingin menonjol di tengah masyarakat.

Saturday, December 20, 2014

PENYEBAB KAKI KRAM KETIKA TIDUR

 dari http://pondoklansiabethani.wordpress.com/serba-info-lansia/kesehatan-lansia

Pernahkah Anda mengalami kaki kram, ketika Anda sedang pulas-pulasnya tidur? Rasanya sangat menjengkelkan sekaligus menyakitkan. Tanpa basa-basi, tiba-tiba betis atau jempol kaki kram dan Anda pun terbangun. Setelah itu, jelas akan sulit untuk tidur lagi. Kram tidak hilang begitu saja, butuh waktu.

Apa penyebab kaki kram? Salah satunya adalah kekurangan potasium alias kalium yang banyak terdapat dalam buah pisang. Akan tetapi, ada banyak sebab lain untuk kram pada kaki, seperti dituliskan Yahoo Health:

- Berdiri terlalu lama, terutama di lantai yang keras, seperti ubin atau beton.
– Duduk terlalu lama
– Terlalu banyak olahraga
– Kekurangan potasium/kalium, kalsium, dan magnesium
– Dehidrasi
– Konsumsi obat-obatan, misalnya obat penurun tekanan darah, diuretik, obat KB, statin, dan steroid.

Pada beberapa kasus, ada kondisi medis serius yang dapat menyebabkan kram kaki, misalnya penyakit Addison, alkoholisme, hipotiroidisme, gagal ginjal kronis, diabetes, dan parkinson.
Kram kaki juga bisa terjadi pada ibu hamil. Bisa juga merupakan proses penuaan alami. Karena itu jika kram kaki sering terjadi sebaiknya konsultasikan ke dokter.

Sabda Hidup

Minggu, 21 Desember 2014
HARI MINGGU ADVEN IV
warna liturgi Ungu
Bacaan:
2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; Rm. 16:25-27; Luk. 1:26-38. BcO Yes. 42:10-25

Lukas 1:26-38:
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Renungan:
Elisabet yang sudah lanjut umur mengandung. Maria yang masih perawan pun mengandung. Semua itu mungkin karena prakarsa Allah. "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil" (Luk 1:37). Ketika Allah menghendaki tidak ada yang tidak mungkin.
Ada banyak hal yang mungkin mustahil terjadi dalam kehidupan kita. Ada seorang ibu yang hampir lumpuh karena sakit. Dokter pun memvonis demikian. Ia pun berdoa terus menerus agar sembuh. Dan Ia pun sembuh. Ada seorang yang tampaknya tidak mempunyai bakat menulis. Ia melamar menjadi wartawan di koran terkemuka. Banyak orang menyangsikannya. Namun ia berdoa terus. Dan keinginannya terwujud. Ia diterima.
Ada banyak hal mustahil terwujud kala Allah bekerja di dalamnya. Keyakinan kita akan karya Allah inilah yang memungkinkan segala sesuatu itu menjadi kenyataan. Pada kita hanyalah dituntut iman dan keyakinan.
 
Kontemplasi:
Duduklah dengan tenang. Ingatlah salah satu peristiwa mustahil yang terjadi dalam dirimu.

Refleksi:
Apa peran Allah dalam sejarah hidupmu?

Doa:
Tuhan, aku percaya Engkau sungguh berkarya dalam hidupku. Engkaulah yang memungkinkan terjadinya peristiwa-peristiwa ajaib dalam diriku. Amin.

Perutusan:
Aku percaya "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil".

Friday, December 19, 2014

ULASAN EKSEGETIS INJIL MINGGU ADVEN IV/B

By A. Gianto on December 18, 2014 Mingguan dalam http://www.mirifica.net


Rekan-rekan yang budiman!

DIKISAHKAN dalam Luk 1:26-38 (Injil Minggu Adven IV tahun B) bagaimana malaikat Gabriel diutus ke sebuah kota kecil di Galilea – di sebelah utara Tanah Suci – kepada Maria yang diperkenalkan dalam Injil sebagai “perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud”. Setelah mengucapkan salam damai, Gabriel memberitakan bahwa seorang anak lelaki akan lahir dari Maria, dan hendaknya ia dinamai Yesus. Ia akan menjadi besar dan dinamakan Anak Allah Yang Maha Tinggi dan akan dikaruniai kekuasaan tanpa akhir. Bagaimana ini mungkin, ia kan belum bersuami? Tak ada yang mustahil bagi Allah, Gabriel menjelaskan, Elisabet yang sudah lanjut usia pun kini sudah enam bulan mengandung. Yang terjadi sekarang lebih besar. Anak yang akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah, karena Maria akan dinaungi kuasa Allah dan Roh Kudus akan turun ke atas dirinya.

SAAT-SAAT YANG MENENTUKAN

Marilah sejenak berhenti pada ay. 27 sebelum mendengarkan jawaban Maria nanti. Dapat kita rasa-rasakan, inilah saat-saat yang paling menegangkan dalam seluruh peristiwa itu. Memang kita tahu apa jawaban Maria. Juga orang dulu sudah tahu. Ia mengucapkan kesediaannya dengan tulus (Luk 1:38 “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”). Tapi marilah bayangkan, apa yang bisa terjadi seandainya malaikat Gabriel datang ke pada orang lain? Atau, bagaimana seandainya jawaban Maria bukan seperti itu? Tentu kelanjutan kisah ini amat berbeda. Tetapi juga tak akan ada cerita kunjungan Gabriel, dan Injil pun takkan pernah ditulis. Seluruh warta Injili yang kita kenal sekarang sebenarnya berawal sebagai kelanjutan kisah ini. Bahkan sejarah kemanusiaan setelah itu akan amat berbeda. Memang semua “andaikata” di atas itu tidak ada dasarnya samasekali. Tetapi cara itu membantu untuk menyadari bahwa yang terjadi di Nazaret dua ribu tahun silam itu bukan perkara yang biasa-biasa saja. Dari saat itu kemanusiaan mengambil arah baru sampai ke zaman ini. Juga Yang Ilahi masuk ke dalam kemanusiaan dan belajar merasakan apa itu menderita, apa itu bergembira, apa itu bergaul dengan orang lain, apa itu “dulu”, “kini” dan “nanti”, pendek kata, bisa menyelami bagaimana hidup sebagai manusia yang katanya semula diciptakan-Nya sebagai gambar dan rupa-Nya. Kalau gambar ini belum sepenuhnya cocok, kini Ia boleh mencoba memperbaikinya sendiri dan bukan asal menuntut. Dan semua ini karena seorang gadis di Nazaret itu? Mari kita lihat dari dekat siapa Maria dalam kisah Lukas ini.

MARIA

Mengapa Lukas menyebutkan dengan lengkap bahwa malaikat Gabriel datang kepada “seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria.” (ay. 27)? Boleh jadi ia merasa perlu menampilkan profil Maria sebagai tunangan Yusuf, orang keturunan Daud. Dengan demikian bagi pembaca zaman dulu jelas bahwa berkat kedua orang itulah nanti Yesus menjadi keturunan Daud dan dengan demikian memang berhak mendapat kepenuhan janji Tuhan kepada nenek moyang dahulu. Hal ini akan ditegaskan kembali dalam silsilah Yesus, lihat Luk 3:23-38, khususnya ay. 31. Dengan menyebut Maria dalam kedudukan ini, Lukas ingin mengajak pembaca melihat bahwa Gabriel memang diutus mendatangi seorang yang memungkinkan Yesus nanti lahir dalam garis keturunan Daud. Ini yang pokok.

Maria kemudian berkata, bagaimana mungkin ini terjadi, karena ia “belum bersuami” (ay. 34). Tidak usah kita sangkal bahwa waktu itu Maria memang masih berpikir dalam ukuran-ukuran yang tidak dipakai Gabriel, atau lebih tepat, oleh Dia yang mengutusnya. Dan Gabriel pun akan meluruskan pemikiran Maria. Keterbukaan Maria untuk menerima penjelasan, itulah yang menjadi kekuatannya. Bukan kesediaan buta mengatakan aku ini cuma hamba dan menurut saja. Bila hanya itu maka pernyataan dalam ay. 38 tidak akan bertahan lama. Tak bakal Maria berani menyimpan dalam hati kata-kata Simeon (Luk 2:35) nanti mengenai pedang yang akan menembus dirinya sendiri (“jiwamu”) sendiri “supaya nyata pikiran hati orang banyak.” Maksudnya, Maria akan memperoleh pemahaman batin yang mendalam – bagai ditembus pedang – juga dengan rasa nyeri dan dengan demikian bisa memahami pula pemikiran orang banyak. Tentunya bukan untuk asal mengetahui, melainkan membantu sebisanya. Selanjutnya, bila kesediaan Maria itu hanya sebatas antusiasme sesaat saja, ia takkan dapat menimbang-nimbang terus apa maksud kata-kata Yesus kecil yang diketemukan kembali di Bait Allah (Luk 2:51). Di situ Yesus berkata, “…bukankah ia harus berada dalam rumah Bapaku?”, maksudnya, memikirkan urusan Allah yang semakin bisa dialami sebagai Bapa itu. Memang arti kata-kata itu masih gelap. Tetapi Maria tetap menyimpannya dalam hati, memikir-mikirkan, tidak mendiamkannya begitu saja. Jawaban dalam Luk 1:38 itu dalam bahasa sekarang akan disebut komitmen terhadap Allah. Ikut mengusahakan agar yang dikerjakan-Nya bisa berhasil. Dan dalam pandangan penginjil, ini dijalankannya dengan menerima kehadiran Roh Kudus di dalam dirinya. Kehadiran itu nanti mengambil ujud sebagai anak yang namanya sudah diberikan dari atas, seperti dikatakan Gabriel (ay. 31), yakni Yesus, harfiahnya “Tuhan itu jaya”, pertanda ia menjadi penyelamat.

KEJUTAN

Siapa yang tidak terkejut bila tiba-tiba didatangi malaikat? Dan bukan sebarang malaikat, melainkan Gabriel – pembawa berita ilahi yang namanya saja sudah menggetarkan: “Allah itu Perkasa”. Imam yang bukan sebarangan imam seperti Zakharia tak terkecuali. Dan itu terjadi di Bait Allah, tempat yang paling wajar bagi malaikat menampakkan diri dan menyampaikan berita dari atas sana. Dan toh pengalaman ini mengejutkan baginya. Lebih lanjut seperti diceritakan Lukas, Zakharia “…terkejut dan menjadi takut” (Luk 1:12). Bagaimana dengan Maria? Ia juga terkejut. Lukas mencatat bahwa setelah mendengar salam damai dari Gabriel, “Maria terkejut … , lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.” Tidak sama dengan Zakharia, yang ketika terkejut malah melingkar ketakutan dan hanya melihat kesulitan belaka. Kali ini Gabriel berhadapan dengan seorang gadis yang meskipun terguncang batinnya tetap berpijak di bumi dengan dua kaki. Ia berani bertanya pada diri sendiri, memikirkan apa gerangan yang hendak disampaikan malaikat Allah Perkasa – Gabriel – yang menggetarkan itu? Dan kita patut berterima kasih kepada Lukas yang menjajarkan dua reaksi yang berbeda itu dalam bentuk kisah dan membantu kita semakin mengerti apa yang sebetulnya terjadi. Terkejut memang bagian dari diri kita, tetapi tak usah kita biarkan menjadi rasa takut. Lebih positif bila diolah menjadi pemikiran proaktif, seperti gadis pemberani dari Nazaret itu.

Maria mulai memikirkan dan mencari makna kata-kata sang malaikat. Dan kita tahu kehidupannya memang kehidupan menemukan arti salam damai Gabriel kepadanya sekalipun tak selalu gampang jalannya bahkan ada banyak penderitaan. Dan kemauannya memahami kedatangan Yang Ilahi kepadanya itu menjadi kekuatannya. Boleh kita bayangkan bahwa Yesus nanti akan banyak belajar dari seorang ibu seperti itu. Dengan caranya yang khas dan halus Lukas juga menyebutkannya. Setelah mengatakan bahwa Yesus tetap hidup dalam asuhan orang tuanya dikatakannya (Luk 2: 52) bahwa Yesus – yang waktu itu berumur 12 tahun – “makin dewasa dan bertambah hikmatnya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”.

WARTA

Kepada Maria malaikat Gabriel berkata “Jangan takut…”. Kata-kata ini juga pernah ditujukannya bagi Zakharia. Tapi kepadanya ditambahkan, “sebab doamu telah dikabulkan” (Luk 1:13; tentunya keinginan Zakharia mendapat keturunan). Tetapi kepada Maria dijelaskan, “sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah.” Gabriel mengajar Maria agar semakin berani hidup menurut jalan yang tak tersangka-sangka tapi bukan asal-asalan. Dengan demikian Maria akan menemukan anugerah “yang ada di hadapan Allah”, yakni pemberian yang diperhatikan Allah sendiri, yang menjadi kesayangan-Nya sendiri. Seakan-akan belum cukup. Gabriel menambahkan bahwa wujudnya ialah anak lelaki dan yang namanya sudah ditentukan dari sana, yakni Yesus. Kini semua jadi lebih jelas. Karena berada di hadapan Allah, maka sang anugerah itu juga akan menjadi besar dan dikenal sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi, artinya orang yang amat dekat dengan-Nya. Gabriel, kendati penampakannya yang menggentarkan, ialah kekuatan yang dapat membimbing di jalan kehidupan. Sejak saat itu Maria hidup menyongsong kelahiran Dia yang bakal datang dalam ujud manusia. Maria adalah “adven” yang hidup.

Uraian Lukas mengenai kedatangan Gabriel kepada Maria bisa dipakai untuk membaca kembali pengalaman hidup kita masing-masing. Kehadiran yang sering membuat terkejut itu juga dapat membuat kita makin menyadari dan mendekat kepada Yang Ilahi sendiri – tentunya bila kita mau mencari tahu dan menyelami artinya. Seperti Maria.

DARI BACAAN KEDUA (Rm 16:25-27): MEMUJI KEILAHIAN

Bacaan kedua dipungut dari penutupan surat Paulus kepada umat di Roma dan yang  berisi pujian akan Allah. Para ahli teks umumnya berpendapat bahwa bagian ini tidak termasuk surat kepada umat di Roma , tapi disertakan di situ kemudian setelah surat itu berulang kali dibacakan. Ketika surat itu semakin dikenal di kalangan umat di tempat-tempat lain, bagian penutupan tadi diterima menjadi bagian resmi dari surat ini dan wartanya termasuk khazanah iman umat awal pula.

Pada dasarnya ditegaskan bagaimana Allah telah memenuhi janji-Nya, dan bagaimana Yesus Kristus – yang telah mulai diimani umat – ialah kenyataan yang berabad-abad sebelumnya diwahyukan Allah dalam Kitab Suci. Ini warta bagi mereka yang mengenal KS hingga saat itu, yakni orang-orang Yahudi. Dengan demikian Yesus Kristus menjadi kehadiran ilahi di tengah-tengah kemanusiaan. Penegasan ini didasarkan pada pengalaman iman yang ditekuni dalam doa dan disertai kesediaan menerima Kabar Gembira. Dalam Yesus Kristus-lah umat manusia bisa rujuk kembali dengan Yang Ilahi, entah mereka yang mengenal Allah dalam KS atau mereka yang berasal dari kalangan lebih luas.

Bagi orang zaman ini, kepercayaan yang termaktub dalam penutupan surat ini bisa jadi arahan batin. Kemanusian yang sejati ialah yang mau mengarah ke kehadiran Yang Ilahi, betapa jauhnya kini terasa.

Kredit foto:Pesan Malaikat Gabriel kepada Maria,  psbobby.wordpress.com

Lamunan Pekan Adven III

Sabtu, 20 Desember 2014

Lukas 1:26-38

1:26. Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dalam hidupnya orang biasa memiliki kepastian agar tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam ilmu pengetahuan dan ketrampilan ada rumus, dalil, dan patokan serta pedoman.
  • Tampaknya, bila memiliki ketidak pahaman orang biasa meminta penjelasan. Menjalani hidup yang tak jelas apalagi membingungan dapat membuat orang berisiko terperosok dalam perkara-perkara.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa kehidupan orang tidak hanya ditentukan oleh akal budi sehingga mampu menjalani hal-hal yang tidak masuk akal dengan keyakinan kedalaman hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang hidup dari naluri, akal budi, dan nurani sehingga mampu yakin akan kemungkinan yang mustahil jadi tidak mustahil.
Ah, yang tidak jelas itu justru membahayakan.