Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, October 30, 2014

Hari Raya Semua Orang Kudus

Injil 1 November 2014 Mat 5:1-12a


Rekan-rekan yang budiman!

Kemarin beberapa hal mengenai Sabda bahagia (Mat 5:1-12a) saya bicarakan dengan Matt  – bukan orang yang sama yang kalian kenal. Jelas petikan itu berperan sebagai pembukaan pelbagai pengajaran Yesus yang termaktub dalam Mat 5-7. Ada lima rangkaian  pengajaran seperti itu, yakni Mat 5-7 (Khotbah di Bukit); Mat 10 (pedoman hidup bagi pewarta Kerajaan Surga); Mat 13 (penjelasan mengenai Kerajaan Surga); Mat 18 (pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama); Mat 23-25 (uraian di Bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman). Di antara kumpulan yang satu dengan yang berikutnya diletakkan kisah-kisah mengenai tindakan serta mukjizat Yesus dan pelbagai peristiwa dalam kehidupan para murid.

Kelima kumpulan itu tersusun dengan cara yang unik. Yang terakhir berlatarkan pengajaran di bukit Zaitun. Latar ini mengingatkan pada kumpulan pertama yang berlatarkan sebuah bukit pula. Tentang ini akan dibicarakan lebih lanjut. Kemudian kumpulan keempat, yakni yang menyangkut kehidupan para murid, erat berhubungan dengan yang kedua, yakni pedoman hidup bagi para murid-murid Yesus yang akan meneruskan menjadi pewarta Kerajaan Surga. Kumpulan ketiga menyoroti Kerajaan Surga, warta paling pokok yang dibawakan Yesus. Penyusunan secara “konsentrik” seperti ini dapat menjadi pegangan mendalami masing-masing kumpulan itu. Demi mudahnya, kumpulan yang pertama (Mat 5-7) sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan apa kenyataannya yang penuh nanti pada akhir zaman (Mat 23-25). Dan dengan demikian para murid akan siap menghayati pedoman hidup secara orang-perorangan (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).

Dalam Mat 5:1-12a didapati delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3-10) serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11) dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka tetap bersuka cita (ay. 12a). Disebutkan dalam ay. 1-2, ketika Yesus melihat orang banyak, ia naik ke bukit dan mengajar agar para pendengarnya semakin memahami diri mereka. Sabda Bahagia juga dapat membantu kita membaca pengalaman kita sekarang ini juga. Upaya mendalami Sabda Bahagia sebagai pembukaan kumpulan yang pertama dapat menciptakan hubungan guru-murid dengan Yesus. Dan bila terjadi orang akan merasa tertuntun mendekat kepada kenyataan hadirnya Yang Ilahi di antara manusia juga. Hubungan ini akan mendekatkan orang pada kenyataan Kerajaan Surga di dunia dan kepenuhannya kelak di akhir zaman. Dengan demikian dapat juga menjadi pangkal berharap ikut menikmati kenyataan itu.
  
“BERBAHAGIALAH….!”

Tiga Sabda Bahagia (Mat 5:3-5) menegaskan bahwa orang dapat disebut berbahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya ialah Tuhan sendiri. Gagasan “miskin” dalam ay. 3 ialah kebersahajaan batin, oleh karenanya diberi penjelasan “di hadapan Allah”. Dapat dicatat, penjelasan tambahan itu tidak terdapat di dalam Sabda Bahagia menurut Luk 6:20 karena yang ditekankan Lukas ialah orang yang betul-betul yang kekurangan secara material, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup yang kini diperhatikan oleh para pengikut Yesus yang bersedia berbagi keberuntungan dengan mereka. Kemudian ay. 4 menyebut berbahagia orang yang “berduka cita”, maksudnya orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada di dekat kendati orang mengalami kesulitan. Termasuk di sini sikap tidak berpihak pada kekerasan yang terungkap dalam ay. 5 sebagai “lemah lembut”.

Selanjutnya ada dua Sabda Bahagia (Mat 5: 6 dan 8) yang menyebut keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan, seperti terungkap dalam ay. 6 sebagai yang “lapar dan haus akan hal yang lurus” dan dalam ay. 8 sebagai yang “berhati bersih”. Ungkapan terakhir ini dipetik dari gaya bahasa Ibrani (lihat misalnya Mzm 24:4) dan artinya ialah mampu berpikir secara jernih, berbudi wening. Orang yang demikian ini tidak gampang dipengaruhi keinginan-keinginan yang menjauhkannya dari Tuhan. Jadi bukan sekedar ajaran agar menjauhi nafsu-nafsu yang biasanya disebut kotor.

Dua Sabda Bahagia yang lain (Mat 5: 7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan Tuhan kepada sesama menjadi kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan. Upaya ini ditegaskan dalam ay. 7 sebagai “berbelaskasihan” dan dalam ay. 9 sebagai “pencinta damai”. Hasrat menghadirkan kebaikan Tuhan kepada orang lain ini karena orang sadar akan perlunya saling mendukung dan sikap pendamai.
Tidak disangkal adanya kesulitan, seperti jelas dari Mat 5:10-12. Orang yang nyata-nyata hidup dalam kerangka di atas sering menderita dimusuhi, seperti terungkap dalam ay. 10 “dikejar-kejar karena bertindak lurus”. Kemudian secara khusus kepada murid-muridnya Yesus menambahkan Sabda Bahagia yang ke sembilan,  yakni yang menyangkut pengalaman dimusuhi orang karena menjadi muridnya (ay. 11). Pengharapan mereka dibesarkan (ay. 12a “bersuka citalah karena besar pahalamu di surga”).

Tiap pengalaman di atas dapat dihayati semua orang yang memberi ruang bagi Yang Ilahi. Dapat pula dikatakan pengalaman ini juga melampaui batas-batas agama. Mereka yang mendalami makna Sabda Bahagia dapat semakin mengenali liku-liku kehidupan rohani dan pergulatan di dalamnya. Hidup yang terarah kepada Yang Ilahi itu membawa kebahagiaan. Di situlah ditemukan makna “berbahagia”.

MENGAJAR DI SEBUAH BUKIT

Injil Matius ditulis bagi orang-orang yang mengenal akrab alam pikiran Perjanjian Lama. Intinya, yakni diturunkannya Taurat kepada Musa di Sinai. Bagi umat Perjanjian Lama, Taurat berisi ajaran kehidupan dalam bentuk pedoman, petunjuk, tatacara ibadat, hukum yang bila dijalani dengan jujur dan ikhlas akan membuat mereka menjadi dekat pada Tuhan dan menjadi umat yang dilindungi-Nya. Dengan latar inilah Matius mengisyaratkan kepada pembacanya bahwa Yesus kini menjalankan peran Musa. Yesus membawakan petunjuk, ajaran, kebijaksanaan yang bila dihayati akan membuat orang menjadi bagian dari umat yang baru pewaris Kerajaan Surga.

Memang ada beberapa perbedaan mencolok di antara penampilan Musa dan Yesus. Di Sinai dulu Musa sedemikian jauh. Awan meliputi pucuk gunung tempat Musa memperoleh Firman ilahi. Tak ada yang berani mendekat karena kebesaran ilahi sedemikian menggentarkan. Sekarang Yesus tampil sebagai tokoh yang dekat dengan orang banyak. Matius memang sengaja menampilkannya sebagai kenyataan dari “Tuhan menyertai kita” – Imanuel. Kini bukan lagi awan yang menggentarkan, melainkan kemanusiaan Yesus-lah yang menyelubungi kebesaran ilahi sehingga orang banyak dapat datang mendekat. Tempat pengajaran diturunkan tidak lagi digambarkan sebagai gunung yang tinggi yang hanya bisa didaki Musa sendirian. Bukit tempat menyampaikan pengajarannya terjangkau oleh orang banyak dan bahkan mereka dapat langsung mendengarkannya. Bagaimanapun juga, tetap ditegaskan, tempat yang mudah tercapai ini menjadi tempat keramat juga, seperti puncak Sinai dulu. Namun kekeramatan yang dekat – bukan yang sulit terjangkau.

Nanti menjelang akhir kehidupannya, Yesus masih memberi pengajaran kepada murid-muridnya di sebuah bukit pula, di bukit Zaitun. Kita boleh ingat akan Musa di gunung Nebo, memandang ke barat ke Tanah Terjanji. Ia sendiri tidak akan memasukinya. Yosua-lah yang akan memimpin umat ke sana. Peristiwa ini besar maknanya bagi pembaca Injil Matius. Nama Yesus dalam bentuk Ibraninya sama persis dengan nama Yosua penerus Musa tadi. Dengan demikian disarankan bahwa Yesus bakal memimpin orang banyak memasuki negeri baru yang dijanjikan, yakni Kerajaan Surga.

WARTA SABDA BAHAGIA

Sabda Bahagia dalam Injil menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus, bukan dimaksud untuk menunjuk pada hal-hal yang belum terjadi. Dengan perkataan lain, Sabda Bahagia itu sifatnya deskriptif, bukan preskriptif. Beberapa contoh lain dari Sabda Bahagia selain yang sedang dibicarakan ialah Mzm 1:1; 32:1-2; 144:15; Mat 11:6; 13:16; 16:17; Luk 6:20; 11:28; 12:37; Yoh 20:29; 1 Pet 4:14. Sabda Bahagia bukanlah kata-kata yang memiliki daya untuk mengadakan sesuatu, seperti “berkat”, juga bukan serangkai resep hidup bahagia. Sabda Bahagia menunjukkan apa yang terjadi bila orang berada dalam keadaan yang digambarkan di situ. Pendengar diajak memikirkan lebih lanjut dan mengambil sikap-sikap baru. Dengan demikian Sabda Bahagia bukan mengajarkan “yang itu-itu” saja. Sabda itu tetap menyapa.
Sabda Bahagia sebaiknya juga dibaca dengan menengok ke depan, yakni ke pengajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31-46. Kedua bahan ini membingkai seluruh pengajaran Yesus. Kedua-duanya diberikan pada sebuah bukit. Kedua-duanya membicarakan siapa-siapa yang bakal memiliki Kerajaan Surga, yang dapat memasuki kebahagiaan kekal. Dalam Mat 25:35-36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Yesus memanusiakan gambaran Penghakiman Terakhir. Diajarkan bagaimana orang bisa mengerti bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan batu uji masuk surga. Kebijaksanaan dan akal sehat menjadi penuntun yang baik ke arah pertanggungjawaban terakhir nanti. Orang dihimbau sejak kini agar nanti bisa mengatakan kita juga telah memperkaya Tuhan dan telah berbuat baik kepada-Nya. Sabda Bahagia menggambarkan keadaan batin dan sikap hidup mereka yang nanti pada akhir zaman akan dapat mengatakan bahwa telah berbuat banyak bagi sesama. Dan Tuhan akan mengatakan itu semua dikerjakan bagi-Nya. Mereka yang demikian akan betul-betul dapat disebut “Berbahagia”!

Sabda Hidup

Jumat, 31 Oktober 2014
Alfonsus Rodriguez
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Flp. 1:1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 14:1-6. BcO Keb. 6:1-25

Lukas 14:1-6:
1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. 2 Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. 3 Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?" 4 Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. 5 Kemudian Ia berkata kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?" 6 Mereka tidak sanggup membantah-Nya.

Renungan: 
Tidak ingin berisiko. Kalimat tersebut spontan muncul dalam benakku kala membaca Luk 14:4, "Mereka itu diam semuanya." Orang-orang yang mengamat-amati gerak-gerik Yesus yang hendak menyembuhkan di hari sabat tidak mau menjawab pertanyaan Yesus. Kesanku mereka tidak mau menjawab karena tidak mau menanggung resiko atas jawabannya. Kalau menjawab "boleh" maka mereka akan dicap menentang aturan. Sedang kalau menjawab "tidak" mereka akan dituduh tidak manusiawi karena binatang pun mereka selamatkan di hari sabat, mengapa menyelamatkan manusia dilarang (bdk Luk 14:5). Maka mereka diam daripada harus menanggung risiko.
Yesus pribadi tidak takut dengan reiiko tuduhan melawan hukum hari sabat. BagiNya si busung air ini membutuhkan pertolonganNya. Kesakitan yang dia alami serta kedatanganNya kepada Tuhan Yesus menggerakkan hati Yesus untuk menyembuhkannya walau harus menabrak aturan hari sabat.
Belajar dari pengalaman ini, marilah kita tidak lari dari tanggugjawab kemanusiaan kita walau kala kita melakukan tanggungjawab tersebut kita harus berhadapan dengan cela karena dianggap melanggar aturan. Beriman tidak kaku dengan aturan. Beriman tetap perlu mendahulukan keselamatan manusia, karena Allah pun membela kemanusiaan umatNya.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu mendapat pertanyaan: apa yang akan kaulakukan kala ditanya Yesus, "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?"

Refleksi:
Apakah hatimu masih gampang tergerak untuk menanggapi masalah-masalah kemanusiaan? Mengapa?

Doa:
Tuhan semoga aku tidak membiarkan orang yang membutuhkan bantuan menyembuhkan sakitnya. Semoga hatiku gampang tergerak untuk berbela rasa. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengasah, mengolah dan mengembangkan belarasaku.

Wednesday, October 29, 2014

TAK PIKUN KARENA MAU DITUNTUN


"Kala wingi teng Karanganyar kula taken tiyang-tiyang 'Dha ngerti Rama Agoeng?' Sami mangsuli 'Ngertooooos'" (Kemarin saya tanya orang-orang di Karanganyar 'Apakah tahu Rama Agoeng?' Semua menjawab 'Tahuuuu') kata Rama Bambang hari Senin pagi 27 Oktober 2014 kepada Rama Agoeng ketika makan bersama. "Oooo, mila kuka pikantuk SMS kathah sami ngabari wonten pepanggihan kaliyan Rama Bambang" (Oooo, itulah sebabnya saya mendapat banyak SMS yang mengabarkan bahwa ada pertemuan dengan Rama Bambang). Rama Bambang kemudian berceritera tentang pengalamannya bersama Rama Agoeng. Rama Bambang juga berkata "Kula criyos dhek kula dados pastor teng Klaten Rama Agoeng kelas telu SD" (Saya berceritera ketika saya jadi pastor di Klaten Rama Agoeng kelas 3 Sekolah Dasar) yang dikoreksi oleh Rama Agoeng "Kelas kalih" (Kelas 2). Rama Bambang pada Minggu 27 Oktober 2014 menjadi pembicara dalam pertemuan kaum lansia yang bertemakan "Tuwa Ora Pikun merga Gelem Dituntun" (Jadi Tua Tidan Pikun karena Mau Dituntun).

Kata Bu Anik Murdawa, salah satu anggota panitia penyelenggara, para lansia memang amat antusias. Pengacara pun mengatakan bahwa kursi yang disediakan ada 80 buah. Tetapi pada pagi itu Rama Siwi dan Rama Bondan (para pastor Paroki Santo Pius X Karanganyar) meminta untuk pindah ruang pertemuan yang lebih luas. Ternyata panitia bilang sudah menambah kursi. Ternyata menjelang pertemuan dimulai jumlah peserta ada 148 orang bersama panitia menjadi 155 orang. Pembicaraan difokuskan sekitar hubungan kaum tua dan kaum muda di keluarga dan hubungan lain. Sesudah berbicara dalam kelompok-kelompok kecil dengan pertanyaan "Sebagai orang tua, kira-kira apa yang paling menyusahkan untuk berhubungan dengan yang muda?", ada banyak yang menyampaikan pendapat dan pengalamannya. Pembicaraan berkisar pada soal benturan karena perbedaan gaya hidup dan ungkapan-ungkapan dalam berbicara.

Rama Bambang mengetengahkan kutipan Yohanes 21:18 dengan Injil Macapat tembah mijil. Dengan ayat ini ternyata bagi Yesus kesejatian orang tua adalah kesediaan diatur dan dituntun oleh yang muda walau tidak sesuai yang diinginkannya. Pengalaman Rama Bambang bersedia dituntun oleh Rama Bambang menjadikannya segar dan terus dinamis menemukan banyak hal baru yang masih dapat dijalani sebagai imam tua. Dari sini ternyata muncul usulan agar di Karanganyar ada gerakan kaum tua mau ikut pertemuan-pertemuan yang dipimpin oleh yang muda misalnya dalam doa rosario dan pertemuan lain. Ada juga yang mengungkapkan bahwa sesudah usia menginjak 80 tahun dilarang bersepeda motor oleh anak-anaknya padahal masih merasa bisa sehingga selalu merasa direndahkan. Dengan pertemuan ini beliau menemukan cahaya hati bersyukur atas kasih anak-anaknya.

Pertemuan yang harus ditutup pada jam 12.00, sesudah 3 jam pertemuan, harus ditunda karena tambahan kuah nasi soto belum datang. Maklumlah, ibu-ibu paroki harus menambah dalam jumlah lebih dari separo perencanaan. Kesempatan ini justru digunakan oleh Rama Bambang dan pengantarnya untuk menjual kalender 2015 seri Paus Fransiskus dan kaus keluaran Domus Pacis. Semuanya ludes habis.

Lamunan Pekan Biasa XXX

Kamis, 30 Oktober 2014
 
Lukas 13:31-35

13:31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."
13:32 Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.
13:33 Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.
13:34 Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi  kamu tidak mau.
13:35 Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata:  Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat merasa susah karena perbuatan-perbuatan baiknya tidak mendapatkan tanggapan. Lebih susah lagi kalau perjuangannya demi kebaikan umum ditolak justru oleh lingkungan yang amat dicintai.
  • Tampaknya, orang dapat menghentikan perjuangan baik bila terancam hidupnya oleh penguasa. Dia dapat lari menyembunyikan diri untuk menghindari kematian.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa derita susah pejuang sejati bukan karena penolakan dan ancaman pembunuhan tetapi karena sikap pengancam yang tidak mementingkan kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tidak akan takut untuk tetap berjuang demi kebaikan umum sehingga kalau terancam dalam tempat terbatas dia justru berada di tempat lebih luas cakupannya.
Ah, hanya orang tak normal kalau nekad hadapi ancaman hidup.

Tuesday, October 28, 2014

KARNA TAMPIL DI INSPIRASI


Pada Jumat pagi 24 Oktober 2014 ada telepon masuk dalam HP Rama Bambang yang bersuara "Rama, saya Monic dari Semarang. Dulu kita berjumpa dalam peringatan Majalah Inspirasi. Sekarang saya ada di Jakarta. Apakah nanti sore saya dapat mampir berkunjung ke Domus Pacis?" "Nanti sore saya pergi" jawab Rama Bambang yang langsung disahut oleh Bu Monic "Apakah ada rama yang lain?" Rama Bambang berkata "Oke, tunggu, saya tanyakan" dan telpon putus. Rama Bambang mengirim SMS ke Rama Yadi "Rama, mangke sonten tindak mboten? Yen mboten, punapa saget nampi kunjungan beberapa tamu?" (Rama, nanti sore pergi tidak? Kalau tidak, apakah dapat menerima kunjungan beberapa orang tamu?). SMS dari Rama Yadi segera datang "Kula wonten. Saget" (Saya ada dan dapat menerima). Rama Bambang kemudian memberi informasi ke Bu Monica bahwa Rama Yadi, Rama Harto dan Rama Tri Wahyono ada dan siap menerima kunjungan. Ketika makan siang Rama Bambang memberikan informasi ini kepada Rama Harto, Rama Tri dan Rama Giyana yang diiyakan oleh Rama Yadi.

Ketika lewat BBP Rama Bambang memberi informasi ke Rama Agoeng yang sedang bertugas di Muntilan, Rama Agoeng memberi tahu bahwa yang akan menjemput Bu Monic adalah Bapak Priyanta dari Semarang. Mereka akan membawa bingkisan sumbangan untuk Domus Pacis. Ketika Rama Bambang keesokan harinya siap makan pagi 25 Oktober 2014, Mas Fredi memberikan 5 buah amplop kepadanya. Mas Fredi bilang itu dari Rama Yadi. Rama Bambang langsung menuju kamar Rama Yadi dan membuka amplop tersebut yang ternyata berisi sejumlah uang. Rama Yadi bilang kalau itu untuk para rama secara perorangan. Dengan persetujuan Rama Yadi, Rama Bambang menyatukan uang dari 5 amplop itu dan membagi 8 yang masing-masing dimasukkan dalam 8 amplop pemberian Rama Yadi untuk dibagikan ke 8 orang Rama yang tinggal di Domus Pacis. Ternyata selain uang, ada banyak sekali dos berisi buah-buah, makanan, alat-alat mandi, dan keperluan masak seperti minyak goreng. Lima orang pengunjung itu ternyata terkesan dengan Komunitas Rama Domus Pacis yang pada 21 September 2014 tampil sharing di dalam Peringatan 10 Tahun Majalah Inspirasi.

Sabda Hidup

Rabu, 29 Oktober 2014
Mikael Rua, Gaetano Errico
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Ef. 6:1-9; Mzm. 145:10-11,12-13ab,13cd-14; Luk. 13:22-30. BcO Keb. 4:1-20

Lukas 13:22-30:
22 Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 23 Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" 24 Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 25 Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. 26 Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. 27 Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! 28 Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. 29 Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. 30 Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."

Renungan: 
Mempunyai seorang guru yang hebat tentu membanggakan. Dalam percakapan sering kita mendengar orang bangga telah diajar oleh si A, B. Bahkan orang sering gampang merasa bangga kala sudah mengikuti seminar dari tokoh-tokoh besar. Ke mana-mana ia akan bercerita bahwa ia pernah mengikuti seminar profesor A, doktor B dsb.
Boleh-boleh saja kita bangga menjadi murid seorang guru yang hebat atau mengikuti seminar tokoh hebat. Kita bisa mendapatkan warisan ilmu yang baik. Namun cukupkah itu? Bukankah itu hanya sama dengan "Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami" (Luk 13:26). Kala hanya begitu rasanya Tuhan tidak akan membukakan pintu rumahNya. Rasa saya pendengaran itu perlu diikuti tindakan nyata. "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!" (Luk 13:24).
Maka marilah kita tidak hanya puas mendengar pengajaran dari para guru, pemberi seminar, tapi terus berjuang mewujudkannya dalam perjuangan hidup sehari-hari. Pengajaran yang baik perlu diikuti tindakan nyata. Iman dengan perbuatan akan hidup.

Kontemplasi:
Hadirkan wajah guru favoritmu. Ingatlah ajaran emasnya dan lihatlah pengaruhnya bagi hidupmu sekarang.

Refleksi:
Bagaimana langkah-langkahmu mewujudnyatakan ajaran-ajaran emas?

Doa:
Tuhan terima kasih atas segala ajaranMu. Semoga aku tidak kenal lelah memperjuangkannya dalam hidup harianku. Amin.

Perutusan:
"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!"

Monday, October 27, 2014

RANCANG NOVENA DOMUS 2015

Novena Ekaristi Seminar di Domus Pacis terjadi mulai pada tahun 2013 dari Maret hingga November. Tiga tema pembicaraannya diperdalam menjadi sembilan tema untuk tahun 2014. Karena bulan November akan menjadi tahap akhir, pada hari Jumat 17 Oktober 2014 beberapa orang diajak berbicara bersama di Domus Pacis. Tujuh orang, termasuk Rama Agoeng dan Rama Bambang, adalah orang-orang yang biasa mengikuti pelaksanaan program Novena Domus. Dua orang adalah ahli psikologi, Prof. Dr. Supratiknya dan Prof. Dr. Dicky, yang biasa menjadi pendamping ahli dalam perencanaan. Secara lengkap 9 orang yang ikut dalam pembicaraan adalah:\
  • Bapak Loly (Paroki Pringwulung)
  • Bapak Mardi (Paroki Baciro)
  • Ibu Agnes (Paroki Pugeran)
  • Ibu Sundari (Paroki Pringgolayan)
  • Bapak Narto (Paroki Pringgolayan)
  • Bapak Supratiknya (ahli)
  • Bapak Dicky (ahli)
  • Rama Agoeng
  • Rama Bambang.
Semua sepakat bahwa Novena Domus tetap dipandang bermanfaat untuk studi ketuaan sehingga tetap dilaksanakan untuk tahun 2015 dari Maret sampai dengan November setiap Minggu Pertama jam 09.00-12.00. Tetapi, karena Minggu Pertama bulan April 2015 adalah Hari Raya Paskah, untuk bulan ini Novena Domus dilaksanakan pada Minggu Kedua. Dalam pembicaraan diharapkan agar ada usaha metodologis mengembangkan partisipasi peserta walau hanya dalam kadar kecil karena jumlah yang banyak. Sekalipun penjadualen urutan tema dan bulan belum ada, tema-tema sudah disepakati. Untuk penentuan tema yang menjadi kerangka acuan tema "perhatian pada lembaga hidup bakti" (tema Gereja Universal 2015) dan tema Keuskupan Agung Semarang 2015 "syukur dan evaluasi Ardas KAS 2011-2015 (refleksi 5 tahun, iman mendalam dan tangguh, sosial kemasyarakatan dan politik, pemberdayaan KLMTD). Dari sini muncul pokok-pokok tema yang masih membutuhkan perumusan:
  • Damai menghadapi ajal (diharapkan oleh Sr. Lusiani, CB dari RS Panti Rapih)
  • Jadi tua yang berguna (diharapkan oleh Rama Paryono, Pr.)
  • Beriman sampai mati (Rama Bambang)
  • Menghadapi anak-anak yang berhasil lalu pergi (Bapak Prof. Dr. Supratiknya)
  • Menghadapi kesendirian di masa tua (Bapak Prof. Dr. Dicky)
  • Pola makanan sehat di masa tua (diharapkan oleh dr. Andri dari RS Panti Rapih)
  • Berdaya karena hobi (Rama Agoeng, Pr.)
  • Saya tuwa saya sumeleh (diharapkan Mgr. Puja)
  • Saya tuwa saya rumaket karo alam (diharapkan Rama Sunu, SY).
Kepastian pembicara dan jadualnya masih dalam proses diurus. Memang untuk Mgr. Puja sudah ada kepastian. Beliau akan hadir untuk pertemuan pertama pada 1 Maret 2015 dengan tema "Saya Tuwa Saya Sumeleh" (Makin Tua Makin Tenang).