Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, October 25, 2014

PERINGATAN 100 TAHUN LAHIR KARDINAL PERTAMA


Tanggal 2 November 2014 akan menjadi saat penyelanggaraan terakhir Novena Ekaristi Seminar 2014 di Domus Pacis. Tema yang akan disajikan adalah "WANI MUNDUR IKU WICAKSANA?" (Benarkah Berani Mundur Itu Bijaksana?). Kebetulan pada hari itu adalah hari lahir almarhum Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono yang ke 100 tahun. Beliau adalah Uskup kedua Keuskupan Agung Semarang dan Kardinal pertama Gereja Katolik Indonesia. Dengan demikian almarhum Bapak Kardinal akan dijadikan inspirasi pokok dalam pembicaraan tema Novena Domus di bulan November itu. Direncanakan, untuk menandai istimewanya hari itu bagi Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, lagu-lagu Novena akan diiringi instrumen gamelan yang dikoordinasi oleh Bapak Ipung dari Kadisono, Stasi Berbah Paroki Kalasan.

Sebagaimana biasa peserta Novena harus mendaftarkan diri lebih dahulu. Untuk Novena Domus bulan November pendaftaran paling lambat 27 Oktober 2014 lewat HP Rama Bambang no. 087834991969. Hingga berita ini ditulis Rama Bambang mencatat ada 205 orang pendaftar. Beberapa orang berpamitan karena pada hari pelaksanaan novena ada misa peringatan arwah kaum beriman. Tabel berikut menunjukkan kelompok-kelompok yang sudah ada pendaftarnya serta jumlah orangnya.

RAYON KOTA KEVIKEPAN DIY
 117 ORANG
01.  Paroki Pringwulung
67 orang
02.  Lingkungan Sendowo, Kotabaru
5 orang
03.  Paroki Administratif Pringgolayan
18 orang
04.  Paroki Pugeran
10 orang
05.  Paroki Bintaran, Lingkungan Nicolas
3 orang
06.  Paroki Kumetiran
3 orang
07.  Paroki Baciro
5 orang
08.  Paroki Pangkalan
6 orang
RAYON SLEMAN KEVIKEPAN DIY
 60 ORANG
09.  Paroki Minomartani
12 orang
10.  Paroki Babadan
6 orang
11.  Paroki Babarsari
6 orang
12.  Paroki Medari
 27 orang
13.  Paroki Kalasan, Berbah
 orang
14.  Paroki Mlati
 orang
15.  Paroki Pakem
2 orang
16.  Paroki Nandan
2 orang
17.  Wanita Katolik RI Depok
5 orang
RAYON BANTUL KEVIKEPAN DIY
 8 ORANG
18.  Paroki Bantul
4 orang
19.  Paroki Ganjuran, Lingkungan Kepuh
4 orang
RAYON WONOSARI KEVIKEPAN DIY
 2 ORANG
20.  Paroki Kelor
2 orang
KEVIKEPAN SURAKARTA
12 ORANG
21.  Paroki Wedi
 orang
22.  Paroki Bayat
 orang
23.  Wanita Katolik RI, Banjarsari, Sala
  orang
24.  Paroki Gondang
12 orang
KEVIKEPAN KEDU
  5 ORANG
25.  Paroki Ignatius Magelang
5 orang
26.  Paroki Temanggung
 orang
LUAR KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
  1 ORANG
27.  Paroki Ponorogo
1 orang
JUMLAH
205 orang

Lamunan Pekan Biasa XXX

Minggu, 26 Oktober 2014

Matius 22:34-40

22:34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
22:35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
22:36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, gambaran tentang hukum pada umumnya adalah sebagai tata aturan yang jelas dan pasti. Hukum yang baik tidak akan menghadirkan rumusan yang menimbulkan multitafsir.
  • Tampaknya, gambaran tentang hukum pada umumnya adalah sebagai tata aturan yang rumusannya sesuai dengan tata hidup dan budaya masyarakatnya. Perkembangan situasi hidup dan budaya akan membuat rumusan hukum berubah pula bahkan dapat digantikan oleh rumusan yang isinya berganti.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa hukum sejati bukanlah rumusan perintah dan larangan adat dan atau tertulis karena berasal dari dengung universal dan abadi dari kedalaman hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memandang dan menjalani segala tatanan hidup dengan irama dengung universal dan abadi dari kedalaman batinnya.
Ah, yang namanya hukum memang harus jelas dan pasti.