Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, October 20, 2014

MISTERI KELAHIRAN YESUS


Jagongan Iman tahap ketiga Kelompok Imogiri terjadi pada Kamis 16 Oktober 2014. Yang menjadi pembicaraan adalah salah satu pokok Syahadat Katolik tentang Yesus "yang dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria". Hadir dalam pembicaraan ini 17 ibu dan 7 bapak. Sebagai kelompok yang siap untuk menjadi pewarta iman di tengah masyarakat, soal yang dibicarakan adalah "Hal-hal apa yang sering menjadi pertanyaan bahkan masalah orang-orang beriman lain terhadap pokok iman itu". Dari pembicaraan dalam kelompok muncul 4 macam permasalahan:
  • Mengapa Maria harus mengandung?
  • Bagaimana tanpa suami dapat hamil?
  • Sudah melahirkan mengapa masih perawan?
  • Mengapa sebagai manusia Yesus disebut Putra Allah?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan itu Rama Bambang bertanya "Bagaimana Anda sendiri akan menjelaskan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu?" Dari sini muncul 5 macam penjelasan:
  • Itu adalah kehendak Allah. Padahal yang dari Allah tidak ada yang mustahil.
  • Peranan Maria terjadi karena ketaatannya terhadap amanat ilahi yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel walau itu akan membawa risiko.
  • Yang harus diyakinkan adalah bahwa yang dilahirkan oleh Maria adalah Allah.
  • Itu adalah misteri Tuhan sebagai pemenuhan janji-Nya sehingga sudah ditentukan dari semula.
  • Maria itu adalah pilihan Tuhan demi penebusan dan penyelamatan manusia.
Karena kebanyakan soal disinggungkan dengan kemungkinan pertanyaan dari teman dan saudara yang beragama Islam, Rama Bambang berdasakan bacaan-bacaan mengatakan bahwa pengkisahan tentang Siti Maryam dan Isa dalam Al'Quran jauh lebih gaib dibandingkan yang ada dalam Injil. Ternyata ini diiyakan oleh peserta yang pernah mendengarkan ceramah seorang kiai di dalam acara kampung. Ternya bagi warga Islam yang mendalami sungguh agamanya akan meyakini peristiwa lahirnya Isa sebagai kalam Allah dan bukan dari syahwat lelaki. Rama Bambang memberikan masukan bahwa segalanya harus dikembalikan bahwa semua berasal dari inisiatif Allah yang karena kasih-Nya mau menyelamatkan manusia. Semua peristiwa Yesus amat berkaitan dengan misteri penyelamatan atau penebusan ilahi. Maria yang berkata "Aku ini hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanmu" kepada Malaikat Gabriel membuatnya mendapatkan tempat khusus sehingga menjadi Ibu Tuhan. Dia dalam tradisi Katolik sungguh diyakini hidup tanpa noda sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci Islam. Di sini Rama Bambang mengetengahkan Katekismus Gereja Katolik 456, 457, 458:

456   Kita menjawab, dengan mengakui bersama Syahadat Nisea Konstantinopel: "Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria dan menjadi manusia".
457   Sabda menjadi manusia, untuk mendamaikan kita dengan Allah dan dengan demikian menyelamatkan kita: Allah "telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa dosa kita" (1 Yoh 4:10). Kita tahu bahwa "Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia" (1 Yoh 4:14), bahwa "Ia telah menyatakan Diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa" (1 Yoh 3:5):
"Kodrat kita yang sakit membutuhkan dokter; manusia yang jatuh membutuhkan orang yang mengangkatnya kembali; yang kehilangan kehidupan membutuhkan seorang yang memberi hidup; yang kehilangan hubungan dengan yang baik membutuhkan seorang yang membawanya kembali kepada yang baik; yang tinggal dalam kegelapan merindukan kedatangan sinar; yang tertawan merindukan seorang penyelamat, yang terbelenggu seorang pelepas, yang tertekan di bawah kuk perhambaan memerlukan seorang pembebas. Bukankah itu hat hal yang cukup berarti dan penting untuk menggerakkan Allah, sehingga Ia turun bagaikan seorang dokter yang mengunjungi kodrat manusiawi, setelah umat manusia terjerat dalam situasi yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan" (Gregorius dari Nisa or.catech. 14).
458   Sabda sudah menjadi manusia, supaya dengan demikian kita mengenal cinta Allah: "Kasih Allah dinyatakan di tengah tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1 Yoh 4:9). "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16).

Sabda Hidup

Selasa, 21 Oktober 2014
hari Biasa
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Ef. 2:12-22; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 12:35-38. BcO Sir. 29:1-13; 31:1-4

Lukas 12:35-38:
35 "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. 36 Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. 37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. 38 Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.


Renungan: 
Membaca bacaan injil hari ini mataku terpatri pada kata-kata, "pelitamu tetap menyala" (Luk 12:35). Coba anda baca berulang-ulang kalimat ini: "Hendaklah pelitamu tetap menyala".  Apa yang anda rasakan?
Ketika berulang-ulang saya baca tulisan itu yang terbayang adalah Yesus lagi menyemangatiku. Ia hadir kala listrikku dayaku melemah. Ia pun datang kala bateraiku penuh dan aku kuat Ia mengingatkan supaya tidak terjatuh. Tuhan menghendaki agar pelita kita tetap menyala.
Menjaga nyala pelita bisa dikatakan mudah dan tidak mudah. Ketika segala keperluan untuk nyala itu disediakan maka akan mudah menjaga nyalanya. Sebaliknya kala tak mempersiapkan hal-hal yang diperlukan dengan baik maka pada saatnya kita akan kesulitan menjaga nyalanya. Marilah kita siapkan segala keperluan dan kemungkinan agar pelita kita tetap menyala.

Kontemplasi:
Hadirlah ke dalam dirimu sendiri dan liatlah bagaimana kondisi pelitamu. Apakah nyalanya terjaga dengan baik.

Refleksi:
Apa saja yang perlu kausiapkan agar pelitamu tetap menyala?

Doa:
Tuhan aku ingin menjaga nyala pelita hidupmu. Semoga aku memiliki ketekunan harian untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjaga nyala itu.  Amin.

Perutusan:
Aku akan berusaha tekun menyediakan kecukupan kebutuhan harian dalam menjaga nyala pelitaku.

Sunday, October 19, 2014

SENAM OTAK SEHATKAN LAHIR BATIN


http://theteckoezpiti.blogspot.com Kamis, 10 Maret 2011

Tahukah kalian bagian tubuh manusia yang bekerja paling maximal setiap harinya adalah otak. Otak kita bekerja 50 – 100 kali lebih maksimal dari bagian tubuh yang lain. Selain itu otak merupakan pusat kendali tubuh kita. Otak sangat berperan penting dalam segala aktivitas. Otak yang sehat membuat kita berpikiran positif sehingga bisa membuat kita lebih semangat dengan pikiran jernih. Otak seperti ion dalam tubuh, semakin sering dipakai semakin berkurang kinerjanya. Usia juga mempengaruhi syaraf otak, semakin tua syaraf otak semakin mengendor. Maka dari itu banyak diantara orang tua sering lupa / pikun dan tidak mampu berpikir.

Nah, maka dokter ahli menyarankan agar manusia melakukan senam otak minimal 2 x dalam satu minggu seperti saran dokter, pola hidup sehat dan selalu berpikir positif dan dapat menjaga kesehatan. Untuk melengkapi kebutuhan lahir dan batin kita harus melakukan senam otak. Beberapa tanggapan dari mereka yang melakukan senam otak mengatakan bahwa senam otak membuat penyakit lupa mereka hilang perlahan-lahan, terhindar dari stress, merasa awet muda dan bisa menyikapi persoalan dengan tenang.
Pengakuan itu dibenarkan oleh Dra. Hj. Sumarti Suparjiman, konsultan senam otak dan pimpinan Brain Gym Club Indonesia memandang senam otak dapat membantu memaksimalkan kerja otak kanan dan otak kiri, senam otak adalah gerak tubuh yang dirangkaikan dan dipadukan sehingga membantu memaksimalkan fungsi otak.
Menurut penelitian mas tikus curut umumnya masyarakat Indonesia mendahulukan penggunaan organ tubuh sebelah kanan, penggunaan organ tubuh sebelah kanan terus-menerus. Dalam jangka waktu lama-lama bisa menyebabkan otak kiri terbebani. Hal ini bisa dimengerti, karena sistem kerja otak dengan tubuh kita menyilang, jika tubuh kiri yang bekerja maka otak kanan yang bekerja. Kondisi ini mengakibatkan beban otak kanan dan otak kiri timpang. Senam otak akan memfasilitasi agar beban otak kanan dan otak kiri dapat sama dan seimbang, dan hasil kerja otak lebih maksimal.
Gerakan dari sebelah otak saja, otak kiri atau kanan, tidaklah baik. Dengan senam otak, gerakan kedua bagian otak itu menjadi seimbang dan lebih bagus. Contoh alamiahnya, pada anak-anak yang mulai merangkak. Anak-anak yang dibiarkan sering merangkak akan melatih dimensi otak kiri dan kanannya sehingga lebih bagus dibanding anak-anak yang tidak dibiasakan merangkak. Bila si ibu lebih senang dan membiasakan menggendong bayinya, keseimbangan anak akan berkurang, gerakan merangkaknya jadi tidak beraturan dan otak jadi sinkron. Berbeda halnya bila anak dibiasakan merangkak. Ia mampu bergerak beraturan, kemampuan otak dan kecerdasannya tumbuh bagus.
Selama ini, senam otak biasanya lebih banyak dilakukan oleh mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Padahal senam otak ini sangat penting dilakukan oleh bayi, anak dibawah 3 tahun atau usia pra sekolah dan wanita mengandung. Tentunya gerakan anak-anak bisa dibantu orangtua, dan ibu hamil ditolong suster yang merawat. Jadi, senam otak tidak melulu untuk mereka berusia lanjut. Senam otak sangat penting dilakukan oleh ibu yang mengandung, karena dapat meredakan ketegangan, sekaligus menyiapkan otot-otot atau berefek relaksasi saat persalinan.
Bagi mereka yang cemas, was-was dan stres menghadapi deadline penting melakukan senam ini. Pasalnya, masalah-masalah terjadi karena adanya hambatan organ-organ yang tidak bisa menerima bio elektrik. Saat gerakan tegang, energi tidak akan masuk. Untuk itu kita harus relaks menghadapi stres. Orang lanjut usia sering mengalami ketegangan pada tengkuknya sehingga energi tidak akan masuk. Akibatnya, fungsi pendengaran berkurang. Wajar bila senam otak dilakukan para lansia agar tetap bugar, sehat dan fit.
Bila sejak dini senam otak dilakukan dengan rutin, menopouse bisa ditunda kedatangannya. Bahkan pada latihan tahap tertentu, senam otak dapat dijadikan sarana mencegah dan memudahkan penyembuhan penyakit.

GERAKAN MUDAH
Gerakan-gerakan senam otak sangat sederhana dan mudah dilakukan. Fokus utama seluruh bagian gerakan otak untuk mendapatkan peningkatan energi yang juga dapat menyamakan emosi. Pada lansia yang kurang bergerak setiap hari seharusnya membutuhkan 30 detik untuk latihan. Tidak hanya melalui senam otak, bisa juga dengan membiasakan menulis dan membaca. Kegiatan seperti itu membuat otak kiri dan kanan tetap bekerja.
Gerakan senam otak sendiri seharusnya dilakukan secara berurutan. Latihan cukup 7 menit bagi siapapun. Kapan Anda sempat, di rumah atau dimana saja, diawali dengan minum air putih secukupnya, untuk membantu memberikan energi langsung ke otak, membantu pencernaan dan metabolisme tubuh. Anda rasakan, rasa kantuk akan hilang, begitu pun was-was, cemas maupun stres.
Dalam setiap gerakan, otak diaktifkan, sehingga harus rutin dilakukan. Bila tidak sejak dini, kemampuan kedua otak mudah berkurang atau tidak optimal. Latihan ini tidak bisa diprediksi keberhasilannya, kecuali kalau rutin dilakukan sejak dini. Untuk keberhasilan latihan sebaiknya selalu positive thinking. Ketahuilah, berpikir negatif membuat otot tegang, energi tidak bisa masuk ke otak dan tubuh kekurangan energi.

KESEIMBANGAN OTAK
Psikiater Prof. Dadang Hawari, MD, PhD mengatakan, keseimbangan antara otak kanan dan kiri sangat penting. Otak kanan biasanya berisi hal-hal yang bersifat emosional, seni dan perasaan. Sedangkan otak kiri lebih dominan pada sesuatu yang rasional dan abstrak. Biasanya otak kanan lebih banyak digunakan oleh kaum pria, sedangkan otak kiri lebih banyak digunakan oleh kaum wanita.
Untuk itu otak harus dilatih terus. Bila tidak dilatih, penuaan dini sulit dicegah datangnya. Keseimbangan otak yang baik membuat para lanjut usia tetap memiliki daya ingat yang bagus, cerdas dan tetap bercita rasa seni tinggi. Namun, semua itu perlu proses latihan, bisa melalui terapi, olahraga, senam otak dan sebagainya. Jadi, otak yang diberikan Allah harus selalu digunakan. Dengan demikian, penyakit tidak akan datang. Bila penyakit telanjur ada pun akan mudah hilang. Kalau kita buat, kekebalan tubuh meningkat, penyakit pun jarang datang. Jangan lupa, tetap pelihara kebiasaan positif dan pola hidup sehat.

GERAKAN SENAM OTAK

Gerakan senam otak sangat mudah dilakukan. Anda hanya memerlukan sekitar 7 menit setiap berlatih. Urutan tahap gerakannya :
  1. Sebelum senam, minum air putih.
  2. Lakukan pernapasan perut secara lengkap (menghirup lalu mengeluarkan udara) sebanyak 4-8 kali.
  3. Lakukan saklar otak, yaitu melihat ke kanan dan kiri badan selama 4-8 pernapasan lengkap.
  4. Lakukan kait relaks. Gerakan ini terbagi dua: Gerakan pertama, santai selama 4-8 pernapasan lengkap. Gerakan kedua, kaki diletakkan rata di atas lantai. Ujung-ujung jari tangan dan kaki saling bersentuhan selama 4-8 pernafasan lengkap.
  5. Lakukan metafora. Gerakan ini untuk memadukan otak. Caranya, rentangkan kedua lengan seluas mungkin dan nyaman. Bayangkan otak kiri dan kanan menjadi satu sambil menyatukan kedua telapak tangan selama 4-8 pernapasan lengkap.
  6. Lakukan titik positif dengan menyentuh titik-titik di kepala bagian kiri dan kanan selama 4-8 pernapasan lengkap.
  7. Lakukan gerakan silang. Kaki disilangkan secara bergantian sebanyak 10-25 kali. (Umu)

    KIAT MENJAGA KESEGARAN OTAK

  8. Hindari stress, cemas dan depresi.
  9. Hindari polusi. Udara yang polutif menyebabkan kurangnya oksigen yang terserap ke otak, sehingga otak tidak berkembang dengan optimal.
  10. Otak perlu nutrisi. Karena itu, makanlah panganan bergizi. Kekurangan gizi menyebabkan fungsi otak terganggu.
  11. Berolahraga teratur untuk menjaga keseimbangan dan memaksimalkan fungsi otak.
  12. Lakukan ibadah untuk menjaga keseimbangan dan ketenangan otak. (Umum)

Lamunan Pekan Biasa XXIX

Senin, 20 Oktober 2014

Lukas 13:10-17

13:10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat.
13:11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.
13:12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh."
13:13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.
13:14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat."
13:15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?
13:16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?"
13:17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, para pimpinan, pengurus, dan penggerak agama amat memperhatikan dan menjaga terjaminnya pelaksanaan tata aturan dan tata cara hidup keagamaan. Mereka memandang semua itu sebagai upaya menjaga kemurnian umat beriman.
  • Tampaknya, para pimpinan, pengurus, dan penggerak agama akan menjaga umat agar tidak keliru dalam praktek keagamaannya. Mereka akan dengan tegas menegur umat yang melanggar tata keagamaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa pada umumnya orang yang terlalu ekstrim menjaga tata aturan agama dan galak terhadap kelemahan umat adalah orang-orang yang tak sadar bahwa dia juga pelanggar aturan yang dijaganya sehingga menjadi golongan kaum munafik. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung orang akan menjaga segala tata kehidupan bersama berlandaskan semangat perjuangan kemanusiaan.
Ah, pelanggar aturan agama adalah golongan maksiat yang harus ditindak.

Saturday, October 18, 2014

MASA LANSIA = MASA TAAT PADA YANG MUDA


Dalam kunjungannya ke Domus Pacis pada Minggu 12 Otober 2014, Kelompok Lansia Paroki Kumetiran minta pendampingan rekoleksi dan misa. Ketika mengadakan perjanjian, baik lewat telepon maupun omong-omong tim dengan Rama Bambang di Domus, acara akan berlangsung dari jam 09.00-12.00. Tetapi, ketika Domus Pacis mempersiapkan perlengkapan soundsystem dan snak belum ditata bahkan Rama Bambang masih bersarung, bel tamu berbunyi pada jam 08.10. "Rama, tamu-tamunipun sampun dhateng" (Rama, para tamu sudah datang) Mas Fredi berkata yang membuat Rama Bambang segera mengenakan celana panjang dan keluar bermaksud menyambut. Belum jam 08.20 rombongan Kumetiran sudah duduk di aula dalam sementara Bu Rini dan Mbak Tari menata sajian snak. Rama Bambang pun berseru "Ayo ngunjuk lan dhahar nyamikan dhisik" (Ayo kita minum dan santap snak dahulu) dan rombongan yang didominasi para ibu itupun segera menyerbu minuman teh dan snak.

Tepat jam 09.00 acara dimulai. Rama Yadi, Rama Harto, dan Rama Bambang serta kemudian menyusul Rama Tri Wahyono bersama-sama menyambut. Rama Bambang dengan keyboard membuka dengan mengajak semua menyanyikan "Mangga-mangga Sami Ndherek Gusti". Kemudian wakil rombongan menyampaikan kata-kata yang disambung oleh Rama Yadi dengan memperkenalkan Domus Pacis termasuk para rama dan kegiatannya. Rama Yadi dalam tampilannya banyak membuat para peserta rombongan tertawa mendengar kisah-kisah lucu yang terjadi di Domus Pacis.

Acara inti, yaitu rekoleksi, dimulai pada jam 09.45. Rama Bambang melontarkan pertanyaan "Kalau menyadari pengalaman ketuaan, apa sebenarnya jati diri lansia itu?" Sebenarnya tema jati diri lansia adalah usulan Rama Harto ketika berada bersama di ruang makan Domus. Dengan pertanyaan itu para peserta omong-omong lebih dahulu dengan teman-teman dekatnya. Dan ketika dibuka untuk mengungkapkan hasil pembicaraan, ada banyak yang berbicara dan pada umumnya mengetengahkan keunggulan kaum lansia dibandingkan dengan yang masih aktif terutama dalam hal pengalaman, doa, dan kebijaksanaan. Tetapi dalam pembicaraan ini tidak sedikit yang cenderung agak merendahkan yang masih muda. Kebetulan dari lebih 40 orang peserta hanya ada 3 orang yang berusia 50an dan 1 orang yang belum 40 tahun. Yang berusia di atas 70 tahun seimbang dengan yang antara 60-70 tahun. Terhadap hasil pembicaraan ini Rama Harto mendukung fungsi utama pengembangan hidup rohani terutama doa. Dalam hal ini Rama Bambang mengajak menyadari kondisi menurunnya daya fisik, kognitif, dan kepekaan psikologis. Dan ternyata pada umumnya para peserta sudah terjangkit berbagai macam penyakit. Akhirnya semua menyadari bahwa keadaan lansia ditandai dengan berbagai keterbatasan dan secara duniawi tinggal memiliki daya-daya kecil. Di sini Rama Bambang kemudian mengetengahkan kata-kata Tuhan Yesus "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Mat 17:20) Dari yang kecil kaum lansia masih dapat mengembangkan daya yang besar. Kemudian Rama Bambang menyampaikan sharingnya sesudah berada di Domus Pacis. Dia banyak "manut" (mengikuti) bahkan taat pada berbagai kebijakan, petunjuk, dan bimbingan dari Rama Agoeng yang masih muda sehingga ketika masuk lansia malah mendapatkan kemampuan berjejaring dengan internet. Maka bagi lansia berlaku kata-kata Tuhan Yesus "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." (Yoh 21:18) Makin tua orang, dia harus makin ahli manut pada yang muda, sehingga "tua tak renta, sakit tak sengsara, mati masuk surga".  Rekoleksi ini ditutup dengan misa yang dipimpin oleh Rama Yadi sebelum makan bersama.

Sabda Hidup

Minggu 19 Oktober 2014
Hari Minggu Biasa XXIX,
Hari Minggu Evangelisasi
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Yes. 45:1,4-6; Mzm. 96:1,3,4-5,7-8,9-10ac; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21. BcO Sir. 26:1-4,9-18

Matius 22:15-21:
15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. 17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" 18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. 20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" 21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Renungan: 
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (Mat 22:21).
Ketika membaca ini aku teringat berita tv yang menyiarkan tentang safari politik presiden terpilih Jokowi kepada lawan-lawan politiknya. Kita ingat betapa kerasnya serangan lawan politik kepadanya, juga ke hal-hal yang pribadi banget. Namun ketika terpilih Jokowi berinisiatif menemui mereka. Lalu apa hubungan tindakan ini dengan bacaan yang kukutip tadi?
Saya melihat Jokowi mampu membedakan persoalan pribadi dan kepentingan bangsa. Kalau mementingkan harga diri pribadi, ia bisa saja mencari aneka cara untuk menyingkirkan mereka yang menghinanya kala kedudukan sebagai presiden sah menjadi miliknya. Namun yang dia pilih adalah membela kepentingan bangsa. Karena mengedepankan kepentingan bangsa maka ia pun mengusahakan keteduhan politik demi kebaikan bersama. Hak kaisar dan hak Allah dia berikan secara tepat.
Kita pun bisa belajar memilah dan memilih mana yang menjadi hak kaisar dan hak Allah. Ketika kepentingan yang lebih besar sedang kita perjuangkan kita tidak perlu merasa harus memenuhi keinginan kita, apalagi keinginan balas dendam. Ketentraman, perdamaian, kesejahteraan, kejujuran dan cinta kasih menjadi kunci mereka yang mencintai Allah, sesama dan bangsa, serta pastinya mencintai dirinya.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu memilah dan memilih serta mewujudkan hak kaisar dan hak Allah.

Refleksi:
Tulislah pengalamanmu ketika harus membela sesuatu walau sebenarnya hatimu sakit.

Doa:
Tuhan semoga aku tidak menjadi sandungan dan mampu memberikan persembahan diri secara tepat dan benar. Amin.

Perutusan:
Aku akan memilah dan memilih tindakan yang tepat dan benar.

Injil Minggu Biasa XXIX/A, 19 Oktober 2014 (Mat 22:15-21)

By on Jendela Alkitab, Mingguan
 
Rekan-rekan yang budiman!

Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan orang Yahudi. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi.  Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam penyelesaian. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya dirumuskan kembali demikian: “Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?” Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang “ya” maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang “tidak”, apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: “Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini?” Apakah ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya? Matilah kita tengok tampilan Injil sendiri.

TUKAR PIKIRAN BUKAN ADU PENDAPAT

Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. (Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus.) Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!” Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap “urusan kaisar” maupun keprihatinan mereka mengenai “urusan Allah” dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?

Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok Yahudi ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak “kensos”, yakni pajak bagi penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama “persepuluhan” kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak dua kali. Ini tidak mudah.

PAJAK ROMAWI BAGI ORANG YAHUDI?

Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan mengingkari inti keyahudian sendiri. Mereka dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.

Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa “pribumi” dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 22:16 sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan wilayah Yudea yang menginginkan otonomi “pribumi” seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk – pajak yang dibicarakan dalam petikan ini – tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.

Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.

PEMECAHAN

Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar, sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepada-Nya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama.

Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.

Pada akhir petikan disebutkan mereka “heran” mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umat-Nya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaran-Nya. Inilah makna “heran” tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.

KOMUNITAS ORANG YANG BERIMAN

Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 22:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai “orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka.” Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan . Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.

Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusan-Nya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.
  
Keterangan gambar: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Gambar by Komsos KWI