Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, November 22, 2014

KOI DARI PAK SUBI


Pada Minggu jam 19.07 16 November 2014 Bu Rini mengirim SMS ke Rama Agoeng yang diforward ke Rama Bambang "Malam mo Goeng pesan dr p Subi ikan dah disiapkan oleh p Subi". Pak Subi, salah satu warga Katolik Lingkungan Sleman Timur, memang menjanjikan akan memberi ikan koi kepada Domus Pacis lewat Rama Agoeng. Itu terjadi pada tanggal 6 November 2014. Ketika menerima SMS Bu Rini, Rama Agoeng sedang shooting film untuk program Natal 2014 di Boro. Padahal beliau pada hari Senin-Jumat 18-21 November 2014 ikut retret para rama praja Keuskupan Agung Semarang di Sangkal Putung, Klaten. Maka Rama Bambang berjanji untuk mengambil pada hari Senin antara jam 16.00-17.00.

Hujan lebat sekali pada jam 15.55 Senin tanggal 17 November 2014. "Rama, niki udan deres. Saestu mendhet koi?" (Rama, hujan deras sekali. Apakah kita jadi ambil koi?) Mas Heru bertanya kepada Rama Bambang yang sudah siap berangkat ke rumah Pak Subi di Sleman. "Ngangge mobil mboten kodanan,  ta?" (Kita pakai mobil kan tidak akan kehujanan, ta?) jawab Rama Bambang yang langsung disahut oleh Mas Heru "Blumbange lebet lan mesthi saya mbludag toyane kenging toya jawah" (Kolamnya dalam dan air pasti melimpah kena air hujan). Rama Bambang kemudian menjelaskan "Jarene Pak Subi pun nyepakke" (Katanya Pak Subi sudah menyiapkan). Rama Bambang dan Mas Heru kemudian bermobil menuju rumah Pak Subi. Ternyata hujan sudah reda ketika mereka sampai Sleman.

Pak Subi dan Bu Yeti, istrinya, sudah siap. Pak Subi segera ke bagian kolam yang sudah diberi batasan. Dengan jaring tangan beliau menangkap ikan-ikan dan dimasukkan ke dalam tiga kantong plastik besar. Plastik-plastik berisi ikan itu dimasukkan dalam kotak yang sudah disiapkan dari Domus Pacis di bagasi mobil. Ketika Rama Bambang masih enak-enak duduk di teras rumah Pak Subi, Pak Subi berseru "Pun, rama. Iwake pun teng mobil" (Selesai, rama. Ikan-ikannya sudah di mobil) dan Rama Bambang pun menanggapi dengan seruan "Matur nuwuuuun" (Trima kasih). Mas Heru mendekati Rama Bambang "Mangga, gek kundur" (Mari, kita segera pulang). Ketika Rama Bambang menjawab "Nggih lungguhan sik, ta" (Sebaiknya kita duduk-duduk dulu), Pak Subi berkata "Eeee, nek kesuwen mboten teng kolam koine saget pejah" (Eeee, kalau lama tak di kolam koinya dapat mati). Rama Bambang hanya bersuara "Ooooo" dan kemudian menuju jok sopir bersama Mas Heri pulang ke Domus.

Sabda Hidup

Minggu, 23 November 2014
HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
warna liturgi Putih
Bacaan:
Yeh. 34:11-12,15-17; Mzm. 23:1-2a,2b-3,5-6; 1Kor. 15:20-26,28; Mat. 25:31-46. BcO Dan. 7:1-27 atau Why. 1:4-6,10,12-18; 2:26,28; 3:5,12,20-21

Matius 25:31-46:
31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Renungan:
Hari ini kita merayakan HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM. Yesus sang junjungan dan yang kepadaNya kita beriman adalah Raja Semesta Alam. Dari istilah ini terasa bahwa Dia bukan hanya raja di bumi, tapi di seluruh semesta alam. PadaNya ada kuasa atas seluruh semesta ini. Ia berkuasa menjadi hakim atas seluruh isinya. Pada mereka yang setia pada kehendak Allah akan memperoleh keselamatan dan mereka yang sungguh-sungguh menolak kehendak Allah akan mengalami neraka. "Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal" (Mat 25:46).
Mengakui Yesus sebagai Putera Allah memuat konsekuensi hidup selaras dengan cara-caraNya dan mempunyai hati yang tergerak oleh belas kasih. Pada mereka yang kesulitan kita mesti mengulurkan tangan, pada mereka yang mengalami pesakitan kita mesti mempunyai hati. Mengakui Yesus Raja semesta alam mesti mau mejalankan apa yang Dia jalani dan mengatakan apa yang Dia katakan. Keselarasan kata dan perbuatanNya menjadi pegangan dan jaminan keselamatan kita. 

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu berhadapan dengan Tuhan Yesus Raja Semesta Alam untuk mempertanggungjawabkan hidupmu. 

Refleksi:
Apa artinya bagimu merayakan Yesus Raja Semesta Alam?

Doa:
Tuhan sudilah merajai hidupku supaya hidupku selaras dengan kehendakMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan menghadirkan kekuasaan kasih Yesus atas semesta alam selaras dengan kapasitasku dan dalam tuntunan Roh Kudus.

Friday, November 21, 2014

INJIL MINGGU 23 NOVEMBER 2014 MAT 25:31-46, MENGAPA KRISTUS DISEBUT RAJA






Rekan-rekan yang budiman!

Digambarkan dalam Mat 25:31-46 bagaimana pada akhir zaman nanti Anak Manusia datang sebagai raja untuk menghakimi semua bangsa. Pahala diberikan kepada mereka yang berbuat baik kepadanya ketika ia lapar, haus, tak ada kenalan, telanjang, sakit, bahkan dipenjara. Mereka yang tak punya kepedulian akan tersingkir. Mereka tidak menyadari bahwa perlakuan kepada salah satu dari saudaranya yang paling hina sama dengan perbuatan terhadapnya sendiri. Bagaimana memahami ajaran Injil yang dibacakan pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam tgl. 23 November 2014 ini? Beberapa hal saya bicarakan dengan Matt sendiri. Karena akan berguna bagi rekan-rekan, berikut ini saya kutipkan balasannya. Ia juga ada pesan khusus pada akhir suratnya. Semoga bermanfaat, A. Gianto

[…] Gus, pengajaran Yesus ini kutemukan dalam sumber yang tidak dikenal Mark maupun Luc. Juga Oom Hans tidak menyebutnya. Bahan itu kemudian kutaruh bersama dengan beberapa pembicaraan lain mengenai akhir zaman dalam bab 24-25 dengan penyesuaian di sana sini. Kusisipkan perumpamaan Anak Manusia memisahkan bangsa-bangsa seperti “gembala memisahkan domba dari kambing” (Mat 25:32). Maksudnya, penghakiman itu bukan semena-mena. Ia mengenal mereka sebagai gembala mengenal kawanannya satu per satu. Ia tahu siapa yang membiarkan diri diberkati. Seperti domba-domba, mereka ini akan diberinya tempat aman di sebelah kanannya. Tetapi yang menyukai kekerasan – seperti kambing – akan dijauhkannya.

APABILA ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAANNYA…

Apakah itu ramalan? Sama sekali bukan bila yang dimaksud ialah “pengetahuan gaib tentang masa depan”. Yang hendak disoroti ialah keadaan yang sedang berlangsung kini. Begini, kita biasa memahami masa sekarang sebagai kelanjutan dan akibat peristiwa-peristiwa masa lampau. Nah, dalam petikan ini semuanya digeser ke depan dan dengan demikian dapat menjadi pengarahan dan harapan. Jadi keadaan sekarang ini ialah “masa lampaunya” kejadian “kelak” yang digambarkan dalam petikan ini. Namun pengertian kami mengenai jalannya sejarah tidak seperti mesin, bila begini pasti begitu. Kami justru melihat adanya unsur yang tidak termasuk hukum-hukum perjalanan waktu, yakni kehadiran Yang Ilahi. Kehadiran-Nya bisa memberi arah baru pada sejarah kemanusiaan dengan cara-cara yang tidak kita duga sama sekali. Baru kita sadari setelah terjadi. Dan yang kalian dengarkan hari ini ada dalam arah itu. Kehadiran Yang Ilahi itu dibicarakan dengan memakai gagasan tampilnya “Anak Manusia” dalam kemuliaannya tapi yang tidak langsung dikenali. Orang bertanya “Kapan kami melihatmu…?

“Anak Manusia” di sini berhubungan erat dengan Dan 7:13. Di situ Daniel melihat ada sosok yang “seperti anak manusia” datang mengarah kepada Yang Mahakuasa untuk menerima kuasa atas bumi dan langit. Lihat, kuasa ini diberikan bukan kepada malaikat, atau makhluk ilahi, melainkan kepada tokoh yang memiliki ciri-ciri sebagai manusia itu. Dan tentangnya dikatakan “mengarah” ke Yang Mahakuasa. Inilah kemanusiaan yang terbuka bagi keilahian, tidak menutup diri atau malah mau menyainginya. Semua ini ikut disampaikan dalam pengajaran Yesus dalam petikan Injil hari ini. Anak Manusia tampil sebagai yang kini menduduki tahta kemuliaannya tetapi tetap mengarahkan diri kepada Yang Mahakuasa. Dalam ay. 34 ia malah terang-terangan menyebut-Nya sebagai Bapa yang telah menyiapkan tempat bagi mereka yang diberkati.

Dalam bahasa yang dipakai Yesus, bahasa Aram, ungkapan “anak manusia” itu artinya sama dengan “manusia”, tapi dengan penekanan pada sifatnya sebagai makhluk di hadapan Pencipta. Dalam alam pikiran kami, seluruh umat manusia itu makhluknya Yang Maha Kuasa. Yesus beberapa kali merujuk pada dirinya sendiri sebagai “Anak Manusia”. Hendak dikatakannya, ia tahu tempatnya sebagai manusia di hadapan Pencipta. Hidupnya berasal dari Dia. Karena itu Yesus mengajarkan bahwa Sang Pencipta dapat dipanggil sebagai Bapa. Coba ucapkan doa Bapa Kami – di situ terpeta siapa Dia yang dapat dipanggil Bapa tadi.

Ingat kisah pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias – Yang Terurapi – Anak Allah yang hidup (Mat 16:16)? Tetapi kemudian Yesus melarang murid-muridnya memberitahukan kepada siapa pun bahwa ia Mesias (16:20). Ia malah berbicara mengenai penderitaannya bakal ditolak, dibunuh, tetapi akan dibangkitkan pada hari ketiga (16:21). Kata “ia” yang kupakai di situ menjelaskan makna ungkapan aslinya, yakni “Anak Manusia”, yang ada dalam tulisan Mark yang menjadi sumberku (Mrk 8:31). Luc malah eksplisit menampilkannya dalam ujud kutipan langsung (Luk 9:22). Yesus ingin agar murid-muridnya mengerti terlebih dahulu bahwa kemesiasannya itu hanya berarti bila disertai pengakuan diri sebagai makhluk di hadapan Pencipta. Juga baru dengan demikian ia dapat tampil sebagai Mesias yang senasib sepenanggungan dengan  manusia.

SEMUA BANGSA AKAN DIKUMPULKANNYA

Kau bertanya apakah “semua bangsa” dalam Mat 25:32 merujuk kepada seluruh umat manusia, seperti kerap ditafsirkan. Terus terang bukan itulah yang kupikirkan. Kau tahu kan, istilah ini berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Di situ “bangsa-bangsa” ialah mereka yang tidak termasuk “umat Allah”, yakni yang bukan orang Yahudi. (Bdk. Mat 24:14, juga 28:19 yang kaubicarakan bagi Pesta Kenaikan Tuhan) Tetapi di kalangan kami timbul pertanyaan yang mengusik batin. Dapatkah “bangsa-bangsa” itu ikut masuk hidup abadi? Atau mereka tak masuk hitungan? Memang kami beruntung karena jadi bangsa terpilih, tapi kami kan tak boleh melupakan orang lain. Lalu bagaimana?

Menurut Yesus, keselamatan “bangsa-bangsa” itu bergantung pada perlakuan mereka kepada sang raja ketika ia lapar, haus, tak ada tumpangan, telanjang, sakit, dipenjara. Tapi ketika mereka bertanya kapan mereka ada kesempatan berbuat demikian terhadap dia, sang raja menjawab, yang kalian perbuat terhadap “salah seorang (saudaraku) yang paling hina ini” (ay. 39 dan 45) sama dengan yang kauperbuat terhadapku. Maksudnya orang yang termasuk kaumnya sang raja, termasuk bangsa terpilih. Yesus tidak menghapus tradisi mengenai bangsa terpilih, tetapi malah mengembangkannya. Jawaban ini genial. Mereka yang di luar lingkungan bangsa terpilih dapat ikut menikmati keselamatan bila mereka menghargai yang paling kecil dari bangsa terpilih tadi.

Penting kalian ketahui, pembicaraan tadi ditujukan terutama kepada kami, pengikut Yesus yang berasal dari lingkungan Yahudi, yang merasa lebih beruntung daripada “bangsa-bangsa”. Mereka sendiri bukanlah pendengar yang dimaksud. Karena itu jangan petikan ini ditafsirkan sebagai imbauan kepada mereka agar berbuat baik kepada orang seperti kami, berikut janji pahala dan ancaman hukuman. Yesus bukan guru yang naif. Sapaannya diarahkan langsung kepada kami yang merasa sudah mengikuti dia. Ia mau berkata, mereka akan ikut selamat bila kalian membiarkan diri menjadi jalan bagi mereka. Hiduplah menurut kehendak Bapa, jadilah “saudaraku” yang sungguh, sehingga orang luar – “bangsa-bangsa” itu –  melihat integritas kalian dan memperlakukan kalian dengan baik.

Tampak betapa manusiawinya ajaran Yesus itu tapi juga betapa luhurnya Anak Manusia yang mengajarkan semua ini. Tak heran ia disebut Raja semesta alam! Inilah corak universal ajarannya. Seperti dikisahkan teman kita Luc, komunitas pengikut Yesus diperkaya dengan ikut sertanya “bangsa-bangsa”, yakni orang-orang seperti Kornelius dan orang-orang yang mendengarkan pewartaan Paul di mana-mana.

SARAN DAN PESAN

Bukan maksudku mengajak kalian memandangi zaman dulu saja. Aku tahu kalian memahami diri sebagai umat Allah yang baru. Begitu kan teologi Gereja kalian? Konsekuensinya, kalian diharapkan berani menjadi “saudara”-nya Yesus, sekecil apapun. Bisakah kalian menerima kenyataan Sabda Bahagia? Kalau ya, teruskan, dan kalian akan menjadi jembatan emas bagi “bangsa-bangsa” di zaman kalian. Terus terang aku sampai hari ini masih gelisah memikirkan apa nanti akan ada yang terpaksa perlu ditempatkan di sebelah kiri dan disuruh enyah. Bila ya, artinya kami gagal membuat pihak-pihak lain melihat bahwa kepercayaan yang kami hayati itu patut mereka tanggapi baik-baik. Kami juga akan merasa kurang mampu menunjukkan diri betul-betul saudara raja tadi. Gus, mintakan pertolongan rekan-rekan, tutuplah kekurangan kami di masa lampau dengan yang bisa kalian buat sekarang. Dan kami akan lebih tenang. Kalian itu sambungan hidup kami!

Ini juga penghabisan kalinya Injil Matius kalian bacakan pada hari Minggu. Gus, terima kasih sudah berusaha menguraikan kisah-kisahku tentang Yesus bagi orang zaman ini. Tidak perlu kita selalu sekata mengenai semua hal. Bila begitu nanti khazanah Injil malah tidak tertimba. Bila dua ahli Kitab saling mengulang, apa yang bisa dituai pendengar? Itu itu juga! Kami dididik berani memasuki liku-liku teks agar semakin diperkaya di dalam interaksi dengan teks. Dan teksnya sendiri akan mekar jadi indah. Bila begitu peneliti teks boleh berkata, dalam bahasa Yunani, “matheteutheis” (Mat 13:52), artinya, “telah memperoleh hikmat pengajaran”. Ah, tak usah menduga-duga apa bunyi kata itu mau mengingatkan nama resmiku, “Maththaios”.

Mulai Minggu depan kalian akan lebih sering mendengarkan Mark. Juga Oom Hans akan kerap datang. Mark itu hemat kata. Ia mengikhtisarkan ceramah-ceramah Petrus di Roma bagi pendengar yang semakin ingin tahu siapa Yesus Kristus itu. Luc dan aku sendiri berhutang banyak kepada Mark. Dan juga Oom Hans, meski beliau baru menerbitkan bukunya setelah kami semua selesai menulis! Kalian pasti akan belajar banyak dari mereka berdua. Dan engkau sendiri masih akan menulis tentang mereka kan?

Selamat tinggal! Sampaikan salam kepada rekan-rekan di Internos,

Matt

Keterangan foto: Kristus Raja Semsta Alam, Ilustrasi dari www.maranatha.it

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Sesilia, Perawan dan Martir
Sabtu, 22 November 2014

Lukas 20:27-40

20:27 Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
20:28 “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
20:29 Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.
20:30 Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,
20:31 dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.
20:32 Akhirnya perempuan itu pun mati.
20:33 Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.”
20:34 Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
20:35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
20:36 Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
20:37 Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
20:38 Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”
20:39 Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.”
20:40 Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, bila ada hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang bagus orang cenderung untuk tetap menikmatnya. Pada umumnya orang ingin dan rindu akan terjadinya pelestarian akan hal-hal yang memberikan kepuasan.
  • Tampaknya, yang disebut pelestarian atau pengabadian adalah terjadinya kesamaan hal-hal yang pernah terjadi sehingga berlangsung untuk seterusnya. Pengabadian menjadi bagaikan gambar foto kenangan yang awet dapat dilihat oleh anak-cucu.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa keabadian sejatinya justru merupakan kehidupan yang terus menerus dinamis dan membuat segalanya selalu baru dan diperbarui. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan berada dalam topangan aura dinamika batin abadi sehingga tidak menjadi bingung terhadap hal-hal baru dan tetap merasakan kesegaran jiwani.
Ah, pengabadian itu ya pembekuan.

Thursday, November 20, 2014

BINGKISAN


Dalam perjalanan pulang dari Medari pada Minggu 16 November 2014, ketika hampir sampai Domus Pacis, Rama Bambang mengirim SMS ke Mbak Tari "Tulung mangke diewangi mbekta barang-barang saking mobil" (Tolong nanti bantu bawakan barang-barang dari mobil). Para karyawan Domus sudah tahu kalau ada pesan seperti itu berarti ana oleh-oleh cukup banyak untuk orang serumah. Rama Bambang pun sudah membunyikan klakson saat masuk halaman Domus. Ternyata yang menyongsong di garasi adalah Mas Fredi. "Teng bagasi wingking wonten dos. Mangke sisih tengah nggih kebak bingkisan" (Di bagasi ada dos. Nanti lihat juga bagian tengah juga ada banyak bingkisan) kata Rama Bambang ke Mas Fredi. Ketika Mas Fredi membuka pintu bagasi untuk mengambil dos, dia langsung juga melihat bingkisan di kursi tengah. Spontan saja Mas Fredi tertawa.

Kespontanan tertawa seperti Mas Fredi juga terjadi ketika Rama Bambang akan berangkat pulang dari Medari. Rama Dadang, Pastor Kepala Paroki Medari, yang baru saja menemani makan siang sesudah acara Rekoleksi Ibu-ibu Paroki (IIP) Medari yang dipimpin oleh Rama Bambang, mengantar Rama Bambang menuju mobilnya. Rama Dadang yang ramah itu membukakan pintu mobil dan Rama Bambang tinggal masuk di jok sopir. Tetapi Rama Dadang mendadak tertawa terbahak-bahak melihat bingkisan 5 buah bungkus plastik besar. "Kok kuwi ta sing diaturke?" (Mengapa itu yang menjadi persembahan?) tanya Rama Dadang yang langsung dijawab oleh salah satu ibu Tim Kerja "Niku amat bermanfaat ngge Rama-rama Domus" (Itu amat bermanfaat untuk Rama-rama Domus). Semua tertawa seperti Mas Fredi ketika membatu Rama Bambang di bagasi Domus. "Sing teng dos mangke dimasak riyin. Jare isine tales. Terus sing limang plastik, salah siji mlebu kamar kula. Kula ngge senek" (Yang ada dalam dos nanti dimasak dulu. Katanya berisi talas, Kemudian dari lima bungkus plastik, salah satu dimasukkan dalam kamar saya. Untuk snak saya) kata Rama Bambang yang membuat Mas Fredi juga tertawa. Ternyata kerupuk dari bahan pati tampaknya membuat aneh untuk jenis bingkisan.

Sabda Hidup

Jumat, 21 November2014
Peringatan Wajib SP Maria Dipersembahkan kepada Allah
warna liturgi Putih
Bacaan:
Why. 10:8-11; Mzm. 119:14,24,72,103,111,131; Luk. 19:45-48; BcO Dan. 2:1,25-47

Lukas 19:45-48:
45Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,46kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."47Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,48tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.


Renungan:
Yesus mengusir para pedagang di sekitar bait Allah. Ia tidak rela: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun" (Luk 19:46). Mereka yang berdagang di luar pun sudah membuatNya tidak berkenan, bagaimana sekiranya kalau Dia menemukan orang-orang yang (maaf) "memperdagangkan" Allah? Bisa dibayangkan betapa besar amarahNya.
Beberapa waktu yang lalu kita sempat mendapat berita bagaimana Yesus dijadikan ladang mengeruk uang jemaat untuk kepentingan pribadi pemimpin. Di tempat lain para pengkotbah meminta bayaran tinggi untuk suatu ceramah keagamaan. Agama, Tuhan dijadikan bahan dagangan. Anugerah cuma-cuma dari Tuhan diberi tarif yang tinggi sehingga tidak semua yang berharap mendapatkan pengajarannya (yang bagus) bisa menemukan.
Marilah kita bermurah hati dalam melayani. Tidak memasang tarif dan menyalahgunakan Allah untuk kepentingan pribadi kita. Allah telah bermurah hati, maka jangan sampai Ia mengusir kita dari hadapanNya.

Kontemplasi:
Bayangkan Tuhan ada di hadapanmu dan mengevaluasi mewartakan nama Tuhan.

Refleksi:
Apa evaluasi Tuhan terhadap tindakan pewartaanmu? Dan bagaimana ketulusanmu dalam mewartakanNya?

Doa:
Tuhan semoga aku dan semua orang tidak tergoda memperdagangkan Engkau. Semoga rahmat cuma-cuma dariMu kubagi dengan murah hati.Amin.

Perutusan:
Aku akan menjaga kemurnian tugas pewartaan dari Tuhan.-nasp-

Wednesday, November 19, 2014

TIPS MENJADI KAKEK/NENEK YANG BAIK



 
Jika Anda telah menjadi kakek/nenek, tentunya ini merupakan hal yang sangat membahagiakan. Bahkan mungkin Anda telah menanti lama untuk momen ini.
Namun kebahagiaan yang Anda rasakan datang berasamaan dengan tantangan-tantangan baru. Berikut beberapa tips untuk Anda dapat memainkan peranan Anda dengan baik.

1. Awali langkah Anda dengan membangun relasi yang baik

Banyak calon orang tua baru menghadapi tekanan dan tegang dalam menyambut peran baru mereka sebagai orang tua. Tentunya mereka tidak membutuhkan tambahan beban dari Anda dalam hal memaksakan beberapa keinginan Anda. Yang terbaik yang dapat Anda lakukan adalah menjadi pribadi yang fleksibel, mengikuti arus mereka, dan tetap bersikap positif.
Janganlah cepat tersinggung. Misalnya bila Anda tidak segera dikabari saat sang cucu lahir, atau Anda tidak berada di Rumah Sakit saat persalinan berlangsung, dll. Akan banyak hal yang terjadi di luar rencana awal, fokuslah untuk tetap mendukung anak dan menantu Anda.
Bila Anda telah bercerai dengan pasangan Anda, perbaikilah hubungan dengan mantan istri/suami Anda sehingga situasi membaik. Baik atau buruk Anda dan dia akan menjadi kakek/nenek bagi cucu yang baru lahir.

2. Lebih cepat mendengar

Walaupun Anda telah membesarkan banyak anak, namun anak Anda dan pasangannya lah yang berhak mengatur dan mengambil keputusan untuk cucu Anda. Waspadalah pada saat Anda menawarkan pendapat atau saran Anda kepada mereka, terutama apabila mereka tidak meminta pendapat Anda.
Setiap orang tua bekerja dengan caranya masing-masing. Apa yang cocok bagi Anda belum tentu cocok dilaksanakan oleh anak Anda. Berilah orang tua baru untuk menemukan cara mereka sendiri.
Pada saat Anda mendengar hal-hal yang tidak Anda setujui berkenaan dengan cucu Anda, seperti dengan cara normal atau operasi cucu Anda akan dilahirkan, atau bagaimana mereka akan membesarkan si bayi, tutuplah mulut Anda. Bila Anda berusaha untuk mengintervensi dengan pendapat yang berbeda, Anda akan meregangkan relasi Anda dengan Anak-menantu-cucu Anda.
Berilah kesemapatan bagi orang tua baru untuk bereksperimen. Tidak semua keputusan tersebut akan berlangsung lama. Beberapa hal dalam hidup memang harus dipelajari dengan mengalami langsung terlebih dahulu.

3. Berbelanja dengan bijaksana

Dengan adanya calon cucu yang akan segera lahir, tentunya kegiatan berbelanja untuk si kecil sangat menggoda. Ada baiknya sebelum Anda berbelanja, Anda menanyakan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Beberapa orang tua memang menyukai diberi hadiah, namun ada pula orang tua yang ingin menentukkan sendiri barang-barang untuk anaknya.

4. Jangan mudah tersinggung

Apakah anak Anda memutuskan untuk tidur bersama si bayi dalam sekamar? Menolak untuk menyunat anak laki-laki mereka? Menamai anak dengan nama yang aneh?
Jangan semua hal dimasukkan ke hati, berilah kesempatan bagi para orang tua baru ini. Seringkali "less is more", semakin sedikit Anda mengintervensi, mereka akan merasa kontribusi yang Anda berikan lebih banyak.

5. Biarkan relasi Anda-cucu terjadi secara natural

Tentunya Anda sangat menggebu-gebu saat bertemu dengan cucu Anda untuk pertama kalinya. Anda ingin memeluknya terus-menerus walaupun si bayi tidak peduli dengan ajakan Anda untuk bercanda dengannya. Janganlah kecewa, relasi akan terbentuk dengan seiringnya waktu, dan mungkin cara yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Anda bayangkan.
Cobalah untuk tidak memiliki ekspektasi khusus. Biarkan relasi terjadi dengan pelan dan dengan sendirinya. Fokuslah untuk mengenal cucu Anda lebih jauh. Mungkin yang ia butuhkan adalah waktu untuk merasa nyaman dengan orang selain orang tuanya.

6. Ikuti aturan mereka

Mungkin Anda terbiasa menjadi pembuat keputusan dalam keluarga Anda, namun saat ini, merekalah yang berperan. Saat ini Andalah yang perlu mengikuti apa yang anak Anda telah putuskan. Misalnya bila cucu Anda telah memiliki rutinitas tertentu pada saat makan atau tidur siang, pastikan Anda bantu untuk mempertahankan kebiasaan tersebut, walaupun itu berarti mengurangi waktu bermain Anda bersama cucu.

7. Berilah ruang gerak bagi orang tua baru

Mungkin saat ini Anda telah lupa bagaimana sensasi menajadi orang tua untuk pertama kalinya. Pada saat anak Anda melaluinya, bantulah mereka dan jadilah penolong yang baik.
Misalnya pada saat Anda menjenguk mereka, tarwarkanlah bantuan untuk menjaga si bayi dan berilah kesempatan bagi orang tuanya untuk beristirahat siang sejenak, atau melakukan hal-hal lain. Tanyalah apakah Anda dapat membantu dalam membelikan barang belanjaan atau keperluan rumah tangga lainnya, memasak, atau bersih-bersih sesuatu.
Beberapa orang tua enggan untuk meminta bantuan kepada Anda, jadi cobalah untuk tawarkan bantuan Anda.