Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, April 24, 2014

BU TAMI



"Ngasta napa, rama?" (Rama membawa apa) tanya ibu Tami, Kepala SMK Sanjaya Pakem ketika Rama Bambang, yang dari Paskah bersama alumni SMA de Britto Komunitas Kemisan Alun-alun Kidul (Alkid), mampir di SMK tersebut. "Dagangan napa? Ha ha ha ...." (Apakah barang dagangan? Ha ha ha ...) Rama Bambang ganti bertanya sambil tertawa. Rama Bambang memang beberapa kali datang ke SMK tersebut untuk membawa ikan lele atau buah-buah atau ayam dari Domus Pacis untuk dijual. "Nyuwun pangapunten, nika saking wit pisang sing rubuh" (Maaf, itu dari pohon pisang yang roboh) Rama Bambang berkata ketika Bu Tami mengatakan tentang pisang ambon yang belum begitu tua. "Rama, benjang wonten pembinaan guru-guru Kristiani. Bu Rini saget mbekta CD lan DVD, lho" (Rama, besuk ada pembinaan guru-guru Kristiani. Bu Rini dapat membawa CD lan DVD) Bu Tami memberikan informasi agar produksi Komsos KAS disediakan. Dalam pengalaman memang banyak guru yang berminat dan membeliny. Informasi Bu Tami mendorong Rama Bambang menelpon Pak Noto dari Komsos KAS untuk menyediakan produksi yang berbahasa Jawa karena Bu Rini menyarankan "Yang banyak dibutuhkan itu yang berbahasa Jawa". Maka kepada Bu Rini Rama Bambang menyiapkan CD gendhing (kidung) Jawa dan DVD lagu Jawa dari buku Pepudyan. Bu Tami dari SMK memang termasuk yang menjadi jaringan yang ikut menggembirakan Komunitas Rama Domus Pacis.

Sabda Hidup


Jumat, 25 April 2014
Hari Jumat Dlm Oktaf Paskah
warna liturgi Putih
Bacaan
Kis. 4:1-12; Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27a; Yoh. 21:1-14

Yoh. 21:1-14:
1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. 2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. 3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. 4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." 6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. 7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. 8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. 9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. 10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." 11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. 12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. 13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. 14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.


Renungan:
Suatu kali sebuah keluarga datang mengundangku untuk mengadakan syukuran kecil di rumahnya. Keluarga itu merasa telah banyak rahmat yang diberikan Tuhan sehingga ingin bersyukur dan mengadakan pesta kecil bersama para tetangga.
Pengalaman itu spontan muncul ketika membaca Yoh 21:10, "Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." Yesus pun mengajak para murid mengambil sebagian ikan hasil tangkapan untuk dinikmati sebagai lauk sarapan.
Saya percaya saudara-saudari semua telah bekerja dengan penuh ketekunan. Ada banyak hasil yang telah diperoleh. Rasa akan banyak hal yang telah kita peroleh bisa menjadi milik kita kalau berani sejenak berdiam, menikmatinya sebagai "sarapan" dan mensyukurinya bersama dengan sesama kita. Sebaliknya kalau kita tidak mempunyai waktu "menikmati sarapan", kita akan terjebak pada rasa hampa dan tidak menangkap apa-apa, tidak ada ikan yang terjaring dan selalu merasa kurang. Marilah kita atur kesempatan-kesempatan kita untuk "sarapan".

Kontemplasi:
Pejamkan sejenak matamu. Ingatlah kembali segala yang telah diberikan Tuhan kepadamu dan syukurilah.

Refleksi:
Kapan anda "sarapan" dari hasil kerjamu bersama sesamamu?

Doa:

Ya Tuhan banyak rejeki telah Kaulimpahkan kepadaku. Namun nafsuku sering menghambatku untuk mensyukurinya dan selalu merasa kurang. Semoga aku mampu mesyukuri apa yang telah Kauanugerahkan padaku. Amin.

Perutusan:
Aku bersyukur atas rahmatNya dan ingin sarapan bersama dg yang lain.

Wednesday, April 23, 2014

TARGET LELE IKUT TERPENUHI


Pada Rabu 23 April 2014 kira-kira jam 08.00 Mbak Tari masuk kamar Rama Bambang dan berkata "Rama, wonten kintunan saking Rama Wiyono kangge Rama Bambang" (Rama, ada kiriman dari Rama Wiyono, pastor di Paroki Pugeran, untuk Rama Bambang). Ternyata 40 dos nasi dengan lauknya dari sebuah restoran di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta. "Oooo, niku ngge konsumsi dhahar mangke. Sing badhe rawuh 25 tiyang. Liyane ngge awake dhewe" (Oooo, itu untuk konsumsi santap makan nanti. Yang akan datang ada 25 orang. Lainnya adalah tambahan untuk penghuni Domus Pacis) kata Rama Bambang. Pada hari ini Domus Pacis memang akan menerima kunjungan dari kelompok Ibu-ibu Paroki Pugeran (IPP), Yogyakarta.

Pada jam 10.00 rombongan tamu datang. Ada yang membawa dos snak dan ada pula yang menenteng jumbo tempat minuman segala. "Lho, wis disediani teh, je" (Lho, kami sudah menyediakan teh) kata Rama Bambang yang dijawab oleh salah satu ibu "Niki jus jambu. Mboten nate ngunjuk sing kaya ngaten, ta?" (Ini jus jambu. Rama sini tidak pernah minum yang seperti ini, ta?). Rama Bambang tersenyum dan tidak mengatakan bahwa karyawan Domus Pacis juga kerap membuat minuman jus jambu hasil kebun Domus. Rama Yadi, Rama Harto, Rama Tri Wahyono juga sudah siap menerima para tamu yang berjumlah 24 orang di ruang pertemuan dalam Domus. Dari 24 orang ibu yang datang, tampaknya hanya 2 orang yang belum kelihatan berusia di atas 50 tahun. Pertemuan ini dibuka oleh ketua Ibu-ibu Paroki Pugeran dengan menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan serta memperkenalkan anggota rombongan satu persatu. Rama Yadi menyambung dengan memperkenalkan rama-rama yang ada di Domus Pacis dan beberapa hal yang dapat dijalani oleh beberapa rama. Rama Yadi juga memperkenalkan karya Pastoral Ketuaan terutama Program Novena Ekaristi Seminar yang diselenggarakan pada tiap Minggu Pertama dari Maret hingga November.

Dalam kunjungan ini acara yang paling pokok adalah ibadat sabda. Oleh Rama Bambang acara dikemas dengan katekese dialogal dengan memanfaatkan bacaan harian, yaitu Lukas 24:13-35. Setiap beberapa ayat selesai dibacakan dengan santai sehingga ibu-ibu dapat secara spontan bereaksi, Rama Bambang memberi kesempatan munculnya komentar dan omongan apapun. Rama Yadi, Rama Harto, dan Rama Tri selalu diminta oleh Rama Bambang memberi tanggapan atas omongan-omongan yang muncul dari para ibu. Suasana memang menjadikan ibu-ibu tampak berbinar wajahnya. Katekese ini ditutup dengan doa umat. Nyanyian selalu muncul dengan lembar fotocopi yang dibawa oleh rombongan.

Karena dalam perkenalan tentang Domus Pacis oleh Rama Yadi juga diinformasikan adanya beberapa usaha menambah kas Komunitas Rama Domus dengan menjual buah-buah hasil kebun, ayam, dan lele, maka selama makan bersama ada ibu yang mendaftar yang mau membeli lele. Sebenarnya Rama Bambang mengatakan bahwa satu lele dijual dengan harga Rp. 1.600,00 dan tidak kiloan karena Domus Pacis tidak punya timbangan. Tetapi ada ibu yang berinisiatif, agar mudah pembayarannya, minta dikemas per tas plastik berisi 6 ekor lele dan dihargai Rp. 10.000,00. Pada sore hari Mbak Tari berkata "Rama, niki arta lele" (Rama, ini uang hasil penjualan lele) sambil menyerahkan uang. Ketika Rama Bambang tahu jumlahnya, dia berkata dalam hati "Lumayan, wis isa diaturke Rama Agoeng. Entuk-entukane kabeh wis ngluwihi targete Rama Agoeng" (Lumayan, sudah dapat setor uang ke Rama Agoeng. Semua penghasilan dari lele sudah melebihi yang ditargetkan oleh Rama Agoeng). Rama Agoeng memang menjadi pengelola bagian ternak lele. 

Lamunan Oktaf Paskah



Kamis, 24 April 2014

Lukas 24:35-48

24:35 Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"
24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"
24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.
24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.
24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kehidupan beragama diwarnai oleh berbagai tata upacara yang diulang-ulang dari jaman ke jaman. Dalam tata upacara itu selalu ada kata-kata dan tindakan-tindakan baku yang tidak berubah.
  • Tampaknya, orang-orang yang setia pada tradisi keagamaan akan menjaga bentuk tata upacara agar kata-kata dan gerak-geraknya tidak berubah. Orang kreatif dan dinamis dapat kecewa karena untuk mengubah bagian tidak baku saja membutuhkan tempo yang berlarut-larut.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, dalam setiap tata upacara keagamaan sebaku apapun, yang paling pokok adalah terjadinya ingatan emosional akan peristiwa-peristiwa damai batin masa lampau yang dengan tata upacara itu dikobarkan sehingga terjadi lagi dengan jauh lebih bergairah. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menjalani dan menghayati tata upacara keagamaan sebagai jalan sadar dan sebagai daya dorong untuk makin beraura riang batin di tengah kehidupan kongkretnya.
Ah, ibadat yang gitu-gitu terus bagaimanapun memuakkan.

Tuesday, April 22, 2014

JADUAL MASAK

Kelompok relawati dan relawan masak untuk penyediaan masakan penghuni Domus Pacis akan masuk ke caturwulan ketiga, yaitu Mei-Agustus 2014. Mereka ngecakke (menggunakan berdasarkan jatah yang ada) budget yang diterima oleh Domus Pacis dari Keuskupan Agung Semarang. Tentu saja di dalam praktek para relawati dan relawan masak banyak menyumbang sebagai tambahan. Sebenarnya ada lebih dari 200 orang yang bersedia menyumbang uang sebulan sekali. Namun demikian, banyak dari mereka yang tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta oleh para rama Domus Pacis, yaitu menyediakan dan mengantar masakan ke tempat tinggal para rama tua ini. Permintaan ini didasarkan pada kehendak dasar para rama untuk merasakan aura hati umat yang tidak sekedar diukur dengan uang, sehingga para rama yang sudah bebas dinas resmi tetap merasa menjadi bagian umat.

Kegiatan kelompok itu sudah dimulai sejak September 2013 dan selalu ditinjau ulang setiap empat bulan sekali. Dari pertemuan terakhir pada 8 April 2014 diketahui ternyata masih ada banyak warga Katolik yang bersedia untuk masak dan mengantar ke Domus Pacis. Tetapi, karena jadual 3 kali sehari untuk 31 hari sudah terisi, banyak yang kemudian ditampung oleh koordinator kelompoknya sebagai cadangan di kala ada yang berhalangan. Karena yang jauh tinggalnya dari Domus Pacis, beberapa keberatan untuk penyediaan masakan pagi hari. Dari jadual yang disepakati pada 8 April lalu, ada 4 orang yang menyediakan 2 kali untuk masakan pagi. Dua orang lain juga tercatat menyediakan masakan 2 kali tetapi tidak untuk pagi hari. Dengan demikian dari 8 orang koordinator kelompok kini ada 87 orang yang tercatat di dalam jadual. Dua orang dari para koordinator masih memiliki anggota-anggota lain yang menjadi cadangan bila ada yang berhalangan. Pada Selasa 22 April 2014 Rama Bambang sebagai koordinator umum telah mengantar amplog besar ke 8 orang koordinator kelompok. Masing-masing amplop berisi jadual perorang untuk Mei-Agustus 2014, catatan umum untuk diet, dan uang jatah. Delapan koordinator yang mendapatkan adalah: Ibu Ninik Naryo (Paroki Pringwulung), Ibu Rini (Paroki Medari), Ibu Tatik Santo (Paroki Pringwulung), Ibu Wulan Darsono (Paroki Pringwulung), Ibu Ratmi Madi (Paroki Pringwulung), Ibu Riwi (Paroki Minomartani), Ibu Vera (Paroki Pringwulung), dan Ibu Mumun (Paroki Pringwulung). Yang kini masuk dalam daftar jadual Mei-Agustus 2014 adalah:
  1. Ibu Saimin
  2. Ibu Watik
  3. Ibu Angelia
  4. Komunitas Postulan Suster CB
  5. Ibu Dwijo
  6. Komunitas Suster SCMM
  7. Saudara Sapto
  8. Ibu Agus
  9. Bapak Kus
  10. Ibu Kirno
  11. Ibu Ninik Naryo
  12. Ibu Ade
  13. Ibu Naryo
  14. Ibu Kartini
  15. Ibu Jenny
  16. Ibu Lely
  17. Ibu I'in
  18. Ibu Harno
  19. Ibu Widi
  20. Ibu Rina
  21. Komunitas Suster HK
  22. Ibu Kus
  23. Ibu Yono Prakosa
  24. Ibu Dety
  25. Ibu Marjiyati
  26. Ibu Ning Wijaya
  27. Ibu Rini
  28. Ibu Ratih Wulandari
  29. Ibu Wardi
  30. Ibu Nia
  31. Ibu Titik Untung
  32. Ibu Laksono
  33. Ibu Tatik Santo
  34. Ibu Darsono
  35. Ibu Darno
  36. Ibu Yuli
  37. Ibu Dicky
  38. Ibu Jono
  39. Ibu Bambang R
  40. Ibu Sisil
  41. Ibu Gatot
  42. Ibu Winantono
  43. Ibu Paryono
  44. Ibu Issri
  45. Ibu Wahyono
  46. Ibu Ambar
  47. Ibu Kartika
  48. Ibu Tiwi
  49. Ibu Titik
  50. Ibu Harjo
  51. Ibu Adji
  52. Ibu Haryadi
  53. Ibu Yucha
  54. Ibu Bambang A
  55. Ibu Gito
  56. Ibu Mardanu
  57. Ibu Indarto
  58. Ibu Maryati
  59. Ibu Mega
  60. Ibu Bambang Tri
  61. Ibu Ratmi Madi
  62. Ibu Budi S
  63. Saudari Santi
  64. Ibu Jumadi
  65. Ibu Kusnanto
  66. Ibu P Suharto
  67. Ibu Kasbianto
  68. Ibu Muharto
  69. Ibu Munarto
  70. Ibu Mrihadi
  71. Ibu Slamet
  72. Ibu Sri Muryati
  73. Ibu Sisworo
  74. Ibu Kundarto
  75. Ibu Riwi
  76. Ibu Didit
  77. Ibu Haryono
  78. Ibu Donoroto
  79. Ibu Lina
  80. Ibu Sugino
  81. Ibu Tarmono
  82. Ibu Satmoko
  83. Ibu Willy
  84. Ibu Vera
  85. Ibu Setyo
  86. Ibu Mumun
  87. Ibu Rudi Prasetya.

Sabda Hidup

Rabu, 23 April 2014
Hari Rabu Dlm Oktaf Paskah
warna liturgi Putih
Bacaan
Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Luk. 24:13-35

Lukas 24:13-35:
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" 33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." 35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.


Renungan:
Mata adalah indra utama kita untuk melihat. Ketika penglihatan berkurang orang akan segera mencari cara agar bisa segera menyembuhkan atau menggunakan alat bantu agar bisa melihat. Ketidakmampuan melihat bagi orang yang pernah melihat merupakan kondisi yang cukup menyakitkan dan menyesakkan.
Para murid yang ke Emaus pernah melihat Yesus dan bersama Yesus dalam aneka perjalanan dan pengajaran Yesus. Ketika Yesus wafat di kayu salib mereka sedih. Saat Yesus bangkit mereka tidak mampu mengenali Yesus lagi karena pandangan mereka tertutup oleh kabut sedih di hati mereka. Bahkan mata lahiriah mereka pun tidak mampu mengenali Yesus.
Kepedihan yang mendalam bukan hanya akan membutakan hati kita tapi juga bisa menutup pandangan mata kita. Kita bisa menjadi pribadi yang mempunyai mata sehat namun tidak bisa melihat dengan baik segala sesuatu yang di depan kita. Yang ada hanyalah suram dan gelap. Salah satu cara mengatasi "kebutaan" ini adalah kesediaan kita untuk berdialog. Murid Emaus yang mau berdialog dg orang asing, Yesus, akhirnya terbuka. Kabut gelap penutup mata mereka hilang dan mereka bisa melihat Yesus yang telah bangkit. Ketika kita mau berdialog kita pun akan meliat dunia dengan jelas, orang lain sebagai sesama dll.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu sejenak. Ingatlah kisah Emaus. Ingat juga apa yang sering menjadi kabut pengliatanmu kepada Yesus.

Refleksi:
Tulislah langkah2mu untuk mengenali Yesus Kristus?

Doa:
Bapa, terima kasih atas anugerah penglihatanku. Semoga makin hari aku makin bisa melihat dengan jelas semua kebaikan yang telah Kauberikan. Semoga aku melihat segala sesuatu dalam terangMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan menyingkapkan kabut yang menutupi penglihatanku akan karya Tuhan.

Monday, April 21, 2014

5 KEBUDAYAAN INDONESIA YANG 'MULAI' HILANG





dari: yessy-budaya.blogspot.com Rabu 02 Mei 2012

Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) udah mulai berkurang. Jadi, kami coba angkat deh, supaya Anda mau mengembalikan budaya kita, menjadi budaya sesungguhnya!
 

1. Cium Tangan Pada Orang Tua
Biasanya sih dibilang “salim“, bila di semasa saya hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua di saat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya hal ini penting loh, selain menanamkan rasa cinta kita sama ortu, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita sama mereka, sudahkah kalian mencium tangan orang tua hari ini?


2. Penggunaan tangan kanan
Bila di luar negeri sih, saya rasa gak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan.  (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir).


3. Senyum dan Sapa
Ini sih Indonesia banget! Dulu citra bangsa kita identik dengan ramah tamah dan murah senyum. So, jangan sampai hilang, ya! Ga ada ruginya juga kita ngelakuin hal ini, toh juga bermanfaat bagi kita sendiri. Karena senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban dengan sekitar kita.


4. Musyawarah
Satu lagi budaya yang udah jarang ditemuin khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, ga ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.
Dan budaya yang terakhir,..


5. Gotong Royong
Itu bukan urusan gue!“, “emang gue pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Hayoolah kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu sesama, karena dengan kebiasaan seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, ga ada tuh perasaan curiga, dan dulu persatuan kita kuat.