Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, April 25, 2015

Lamunan Pekan Paskah IV

Minggu, 26 April 2015

Yohanes 10:11-18

10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
10:13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.
10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku
10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.
10:16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada masa kini orang dituntut bekerja secara profesional. Bagi para petugas agama pun juga disediakan pendidikan akademis keagamaan agar memiliki profesionalitas.
  • Tampaknya, pekerjaan keagamaan karena profesionalitasnya juga menjadi jalan untuk mendapatkan nafkah. Dengan profesi keagamaan orang juga bisa memperoleh gaji sebagaimana profesi bidang-bidang hidup lainnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa seprofesional dan sepurna waktu apapun dalam kerja keagamaan orang harus melandaskan diri pada sikap batin yang terwujud dalam keikhlasan menyediakan diri untuk berbagi secara gratis demi kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menemukan hidup keagamaan sebagai penyadaran bahwa segiat apapun dalam mencari nafkah orang harus memberikan bagian kerelaan tanpa imbalan untuk berkerja demi orang lain.
Ah, di era global segalanya harus jadi jalan untuk mendapatkan uang.

Sabda Hidup

Minggu, 26 April  2015
Paskah HARI MINGGU PASKAH IV
Hari Minggu Panggilan
warna liturgi Putih
Bacaan:
Kis. 4:8-12; Mzm. 118:1,8-9,21-23,26,28cd,29; 1Yoh. 3:1-2; Yoh. 10:11-18. BcO Why. 12:1-17

Yohanes 10:11-18:
11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Renungan:
Suatu kali seorang yang bekerja di tambak melihat ikan-ikan di tambak mati. Ia diam saja. Ia tidak berbuat apa-apa karena majikannya sedang ke luar kota. Setiap hari ikan yang mati bertambah. Ketika majikannya pulang, ia kaget karena ikan-ikannya mati. Ia pun bertanya kepada pekerjanya, "Kenapa ikannya pada mati dan bangkainya tidak diangkat?" Sang pekerja menjawab, "Iya saya tunggu tuan pulang supaya bisa melihat sendiri bahwa ikan-ikannya mati." "Ya ampun, harusnya kamu segera angkat yang mati supaya tidak menular. Kenapa malah menungguku," kata pemilik tambak.
Seorang pekerja berbeda dengan pemilik. Sang pemilik sadar kalau ada ikan yang mati mesti segera diambil supaya tidak membusuk dan menulari yang lain. Namun sang pekerja membiarkan ikan-ikan mati itu supaya dilihat sang majikan ketika pulang (bdk. Yoh 10:11-12).
Tangggungjawab seorang pemilik memang beda dengan pekerja. Seorang gembala baik beda dengan gembala upahan. Marilah kita belajar menjadi gembala yang baik dalam hidup kita. Menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan berani menjaga kawanan domba yang dipercayakan kepada kita dan tidak membiarkannya mati dan terancam.

Kontemplasi:
 
Bayangkan kisah gembala baik dan upahan. Timbalah daya gembala baik.

Refleksi:
Apa yang perlu kaulakukan untuk menjaga kawanan domba yang dipercayakan padamu?

Doa:
Tuhan Gembalaku, jagailah aku kawananMu dari segala macam bahaya yang mengancam. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar menjadi gembala yang baik.-nasp-

Friday, April 24, 2015

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Paskah IV 26 April 2015

A Gianto SJ dalam Ulasan Eksegetis Injil Minggu Paskah IV 26 April 2015 diambil dari http://www.mirifica.net

TENTANG GEMBALA YANG BAIK

 (Yoh 10:11-18)

DALAM Yoh 10:11-18 Yesus mengibaratkan diri sebagai gembala bagi kawanan dombanya. Sebagai gembala, ia takkan lari bila ada serigala menyerang domba-dombanya. Tidak seperti orang upahan yang tak bertanggung jawab. Ia mengenal domba-dombanya dan mereka mengenalnya. Sebelum mulai membicarakan ibarat “gembala” dalam petikan yang dibacakan pada hari Minggu Paskah IV tahun B ini, baiklah dicatat bahwa dalam Injil Yohanes gagasan “gembala” sama dengan yang empunya kawanan domba. Tidak semua yang menggembalakan kawanan digelari “gembala” yang juga menjadi pemilik kawanan tadi.

GEMBALA YANG BAIK

Bagaimana orang yang lahir dan besar di tengah kota besar bisa mengerti bahwa tokoh panutannya ialah gembala? Atau sebaliknya, apakah ibarat itu akan dimengerti dengan benar oleh orang yang mengenal kehidupan di desa dan yang tiap hari melihat orang yang menggembalakan kambing dan menuntun kerbau? Sering terdengar anggapan bahwa pelbagai ibarat Yesus mengenai dirinya sendiri dan mengenai Kerajaan Allah mudah ditangkap orang dulu tetapi perlu dijelaskan bagi orang sekarang. Salah satu dari ibarat seperti itu ialah gembala. Apa betul demikian?

Salah satu halangan memahami ibarat “gembala” datang dari praanggapan bahwa ibarat tertentu itu mudah ditangkap oleh kelompok anu yang “tentunya” biasa dengan kehidupan gembala menggembalakan. Padahal yang terjadi justru kebalikannya. Pada zaman Yesus pun ibarat gembala tidak dipakai dalam cara selugu itu. Pertama-tama karena latarnya bukan kehidupan para penggembala yang masih bisa dilihat di luar kota. Latar sebenarnya ialah teks-teks Perjanjian Lama yang dikenal oleh para pendengarnya. Yesus sendiri dan para muridnya kiranya juga tidak hidup bersama kaum gembala atau berasal dari kalangan mereka. Ia tahu tentang gembala dari teks-teks Alkitab. Bukan dari amatan mengenai kehidupan gembala sungguhan. Justru inilah yang ditampilkan Injil. Rujukan dan ibarat yang mereka pakai itu berdasarkan teks-teks agama, yaitu Taurat, Nabi-Nabi dan Mazmur dan bukan kehidupan dari hari ke hari. Tak perlu pernyataan ini diherani. Justru dengan mendasarkan diri pada teks-teks itu pembicaraan bisa lebih umum, dan bisa dikaji, dibaca kembali dan dipetik hikmatnya.

Baik diingat pula bahwa pembicaraan Yesus dalam Yoh 10 ditempatkan Yohanes dalam konteks percakapan Yesus dengan orang Farisi (lihat bagian akhir Yoh 9:40-41), yakni kaum intelek dalam masyarakat Yahudi waktu itu. Mereka dalam Yoh 9 menguji sahih tidaknya penyembuhan orang buta sejak lahir. Rujukan pemikiran mereka ialah kitab-kitab tadi. Juga dalam Yoh 10:6 dikatakan dengan jelas bahwa Yesus berbicara dengan “mereka” – yang dimaksud ialah orang-orang Farisi tadi. Dalam Yoh 10:19 disebutkan ada orang-orang Yahudi yang mempertanyakan uraian Yesus mengenai gembala. Mereka itu sekelompok dengan orang Farisi tadi.

RUJUKAN “GEMBALA YANG BAIK”

TANYA: Yoh 10 berbicara mengenai gembala yang baik dan menerapkannya kepada Yesus. Rasa-rasanya Yohanes mendapat ilham dari Perjanjian Lama?
JAWAB: Benar! Perjanjian Lama acap kali menggambarkan Tuhan sebagai gembala yang menjaga domba-dombanya
TANYA: Maksudnya seperti Mzm 23? “Tuhanlah Gembalaku, takkan aku kekurangan…”?
JAWAB: Begitulah! Orang yang berada di dekat-Nya tak perlu merasa khawatir menghadapi bahaya. Lihat juga Mzm 28:2; 77:21; 78:52; Yer 23:3; 50:19.
TANYA: Teringat nih nabi Yehezkiel yang berbicara mengenai Tuhan sebagai gembala yang membela umat dari para gembala yang menyalahgunakan kuasa, yakni para pemimpin yang hanya memperkaya diri, tidak peduli akan penderitaan rakyat dan bahkan menghisap, berlaku kejam dan membiarkan mereka kehilangan rasa aman (Yeh 34:1-10).
JAWAB: Persis begitu, dan selanjutnya dalam Yeh 34:11-22 dikatakan Tuhan sendiri akan mengumpulkan mereka yang tercerai-berai, membebat luka, memberi rasa aman. Memang dalam seluruh bab itu Yehezkiel mengutarakan prinsip-prinsip moral sosial dan pengaturan masyarakat zamannya.
TANYA: Dapatkah dikatakan Yoh 10 menerapkan gagasan Yehezkiel tadi bagi keadaan murid-murid Yesus?
JAWAB: Ya, tetapi Yohanes juga menaruhnya dalam arah baru. Dalam Yoh 10, Yesus tidak memperlawankan diri dengan gembala yang jahat, melainkan dengan “pencuri dan perampok” (ay. 1), dengan “orang asing” (ay. 5) dan dengan “orang upahan” (ay. 12-13). Tidak dimunculkan olehnya dua macam gembala seperti pada Yehezkiel. Hanya ada satu gembala saja, yakni Yesus sendiri. Memang ada orang-orang yang diminta mengurusi domba-domba. Ada yang sungguh baik, tapi ada yang bertindak sebagai orang upahan.
TANYA: Penjelasannya?
JAWAB: Yehezkiel mengamati kehidupan sosial politik di Israel pada zaman pembuangan. Dikecamnya para pemimpin yang tak banyak berbuat bagi umat yang sedang kehilangan pegangan. Masalah yang dihadapi Yohanes berbeda. Banyak pengikut Yesus generasi pertama merasa kurang aman hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi. Terintimidasi.
TANYA: Jadi betulkan bila dikatakan bahwa Yohanes memakai keadaan itu untuk menjelaskan apa itu “percaya” kepada Yesus dan bagaimana mereka bisa tetap berteguh bila mereka memang memilih mau tetap bersamanya.
JAWAB: Memang Yohanes menekankan Yesus sebagai gembala yang baik untuk menunjukkan bahwa percaya kepada Yesus tidak sia-sia karena ia sendiri akan melindungi murid-muridnya dengan mempertaruhkan hidupnya. Semacam analisis teologi hidup rohani. Kelanjutan dari perkara ini ada dalam penugasan Petrus agar mengurusi domba-domba dalam Yoh 21:15-19 yang pernah beberapa kali dibicarakan dalam forum ini.
TANYA: Lalu apa arti penegasan bahwa tak ada yang dapat merenggut domba-domba dari Yesus?
JAWAB: Di situ ada pernyataan perihal mengikuti dia yang mau merujukkan kemanusiaan kembali dengan Yang Maha Kuasa, yang disebut sebagai Bapa itu. Artinya, membuat orang makin menemukan diri, makin merasa dimiliki oleh Yang Maha Kuasa dan bukan dibawahkan kepada kuasa lain. Kiasannya, gembala yang baik berusaha membuat orang makin sadar akan hal itu. Orang upahan tidak. Pencuri dan perampok menjauhkan orang dari sana. Orang yang tak dikenal juga tidak menimbulkan rasa percaya.

SALING MENGENAL

Gembala yang baik tidak akan memperlakukan kawanan dombanya secara anonim. Beberapa ayat sebelum bacaan ini menyebutkan bahwa sang gembala memanggil kawanan satu persatu (Yoh 10:3). Maksudnya, masing-masing domba dikenalinya. Mereka tidak dianggap barang kodian belaka, hanya nomor saja. Hubungan antara pemilik dan kawanan itu hubungan yang hidup. Tidak akan ada hubungan antara pemilik atau gembala dengan kawanan tadi bila tidak terjalin hubungan saling mengenal yang memberi rasa aman dan rasa percaya.

Yohanes menjelaskan rasa saling percaya tadi dengan gagasan saling mengenali. Dalam Yoh 10:14-15 ditegaskan “Akulah gembala yang baik dan aku mengenal domba-dombaku dan domba-dombaku mengenal aku sama seperti Bapa mengenal aku dan aku mengenal Bapa dan aku memberikan nyawaku bagi domba-dombaku”. Pernyataan ini berisi ajakan agar orang jadi percaya dan merasa aman.

Ada sebuah adegan dalam Injil Yohanes yang dapat ikut menjelaskan hal tadi. Ketika disapa Yesus dengan kata-kata “Bu, kenapa menangis? Siapa yang kaucari?”, Maria Magdalena malah mengira sedang berhadapan dengan penjaga taman pekuburan. Tetapi ketika Yesus memanggilnya dengan namanya, “Maria!” (Yoh 20:16), maka ia langsung mengenalinya. Begitulah sapaan pribadi membuatnya mengenali siapa yang mendatanginya. Sapaan perorangan yang dialami dalam batin juga akan membuat orang mengenali kehadiran ilahi. Ia bukan orang yang tak dikenal yang membuat waswas. Pengalaman Maria Magdalena bisa pula menjadi pengalaman para pengikut Yesus di sepanjang zaman.

PENERAPAN

Mengikuti bukan berarti meniru-niru, melainkan meniti jalan yang dirintis oleh yang berjalan di muka. Di dalam kesadaran para pengikut Yesus, pemimpin bukanlah dia yang meniru gembala empunya kawanan tadi, apalagi mengambil alih kedudukannya sebagai pemilik kawanan. Yang diberi kedudukan memimpin juga mengikuti dia yang menyapa satu persatu tadi. Mereka ini membantu agar kawanan bisa lebih melihat siapa yang berjalan di muka. Siapa saja yang merasa diajak memimpin juga akan memberi tahu sang empunya kawanan bila ada dari antara kawanan yang tertinggal dan tak menemukan jalan. Dalam Injil lain gembala yang empunya kawanan itu dikatakan akan mencarinya sampai ketemu (Luk 15:1-7 Mat 18:12-14).

Tadi disebutkan bahwa hubungan erat antara gembala dan kawanan seperti hubungan Yesus dengan Bapanya. Apa artinya? Yang Maha Kuasa disebut Bapa karena dapat dirasa dekat dan tampil sebagai asal kehidupan. Yesus hendak mengatakan bahwa ia sedemikian dekat dengan asal kehidupan itu sendiri. Ia mengajak para pengikutnya agar berani melihat ke sana. Ketergantungan kepada Bapa bukan sikap mengandalkan kebaikannya belaka, melainkan pengakuan bahwa Dia itu sumber kehidupan. Yesus berani menyerahkan kehidupannya karena ia sadar bahwa ia takkan kehabisan, karena ia dekat dengan sang sumber itu sendiri. Maka ia dapat berbagi sumber yang tak kunjung habis itu kepada orang lain. Inilah cara Yohanes menerangkan komitmen Yesus kepada para pengikutnya.

DARI BACAAN KEDUA (1Yoh 3:1-2)

Penulis surat Yohanes ingin  mengajak pembacanya mulai mengerti apa itu menjadi  pengikut Kristus untuk menuju ke Bapa, untuk hidup dalam perlindungan ilahi. Inilah kebatinan yang sejati yang dapat membuat orang semakin dekat pada Yang  Ilahi. Dalam alam pikiran penulis surat Yohanes, “mengenali” Yang Ilahi membuat orang dapat berbagi kehidupan dengan-Nya. Kebalikannya, “tidak mengenali-Nya” sama dengan menolak-Nya dan  tidak akan berbagi hidup dengan-Nya, melainkan terkurung dalam  “dunia” belaka. Dalam istilah tulisan-tulisan Yohanes, kata “dunia” rujukannya  ke sana, ke keadaan yang melawan keilahian. Dan barang tentu “dunia” dalam arti itu akan lenyap, takkan bertahan.

Para pengikut  Kristus masih  tetap berada di dunia seperti itu, artinya masih mengalami macam-macam kekuatan yang  menjauhkan dari sumber kehidupan sendiri. Ini kenyataan.  Kedamaian penuh belum ada selama orang masih ada dalam kehidupan ini. Namun mereka tak usah takut. Penulis surat Yohanes menyebut para pengikut Kristus sebagai “anak-anak Allah”, artinya, yang dekat pada-Nya, pada Yang Ilahi yang bisa disebut Bapa. Dengan demikian mereka tidak dibiarkan sendiri menghadapi kekuatan-kekuatan jahat. Dan lebih dari itu, mereka kelak akan melihat Kristus yang mereka ikuti sekarang dalam keadaan yang  sebenarnya, yakni dalam ujud keilahiannnya. Dan seperti ditegaskan dalam Yoh 3:2, mereka akan sama seperti  dia, menjadi dekat dengan keilahian sendiri.

Credit Foto: Gembala yang Baik, www.hidupkatolik.com

Sabda Hidup

Sabtu, 25 April  2015
Pesta St. Markus
warna liturgi Merah
Bacaan:
1Ptr. 5:5b-14; Mzm. 89:2-3,6-7,16-17; Mrk. 16:15-20  BcO Ef. 4:1-16

Markus 16:15-20:
15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." 19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Renungan:
Suatu kali seseorang bercerita tentang seorang imam yang diantar untuk melayani di suatu stasi yang jauh. Mereka melewati suatu kampung dan biasa singgah di suatu warung. Ketika minuman dihidangkan rama itu membuat tanda salib di gelas minuman itu. Seketika gelas pecah. Minuman tumpah. Lalu datanglah satu orang meminta maaf pada rama itu. Usut punya usut katanya orang itu telah menaruh sesuatu di minuman rama. Dan ternyata rama lebih kuat.
Saya tidak tahu itu kisah nyata atau karangan dari si pencerita. Namun dari kisah itu tampak bahwa salib menyelamatkan rama itu dari niat jahat. Tuhan melindungi anak yang percaya kepadaNya, "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh" (Mrk 16:17-18).

Kontemplasi: 
Pejamkan sejenak matamu. Ingatlah satu dua peristiwa karya Allah yang membebaskanmu dari rencana jahat.

Refleksi:
Tulislah pengalamanmu bebas dari rencana jahat.

Doa:
Tuhan Engkau selalu menjagaiku. Semoga makin hari aku makin percaya pada penjagaanMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan melambungkan doa setiap akan menyantap sesuatu. -nasp-

Lamunan Pesta

Santo Markus, Penginjil
Sabtu, 25 April 2015

Markus 16:15-20

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
16:19. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
16:20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, bakat atau talenta menjadi andalan orang untuk mengarungi hidup. Dengan mengasah bakatnya orang memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan untuk mencari nafkah dan bahkan status sosial.
  • Tampaknya, dengan bakat yang terasah orang bisa meraih penghargaan dari orang-orang lain. Orang pun dapat terkenal karena dukungan pengetahuan dan atau ketrampilannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa pengetahuan dan atau ketrampilan seseorang akan sungguh bermakna dalam hidupnya kalau menjadi tanda dan sarana bagi orang-orang lain untuk mendapatkan keceriaan karena menemukan pengembangan dirinya berdasarkan kesadarannya terhadap getar-getar amanat kedalaman batinnya. Dalam yang ilahi karena kemesraanya dengan gema relung hati orang akan menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya untuk kebaikan umum dengan berbagi pengalaman bagaimana menemukan daya batin dalam pengolahan.
Ah, olahan bakat adalah rahasia pribadi agar tak kalah bersaing dengan orang lain.

Thursday, April 23, 2015

TINGGAL 4 HARI


Ini adalah pengumuman terakhir Novena Ekaristi Seminar 2015 ketiga yang akan dilaksanakan besok pada hari Minggu tanggal 3 Mei 2015. Untuk pelaksanaan hari ini Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, akan memberikan bantukan pembicara dengan mengirimkan dokter Andry Hartono, SpGK. Beliau akan memberikan pertimbangan dalam pembicaraan yang bertemakan NGATI-ATI MILIH PANGAN (Pola Makan di Usia Tua). Karena pendaftaran paling lambat besok Senin 27 April 2015, maka dengan berita ini waktu pendaftaran tinggal 4 hari.

Pendaftaran cukup dilakukan lewat SMS ke Rama Bambang HP no. 087834991969. Pada saat berita ini ditulis yang sudah mendaftarkan ada 211 orang. Matrik di bawah ini menggambarkan kelompok-kelompok yang pernah dan atau biasa memiliki peserta Novena di Domus Pacis serta yang kini sudah ada pendaftarnya. 

ASAL PESERTA
JUMLAH
RAYON KOTA KEVIKEPAN DIY
105 ORANG
01.  Paroki Pringwulung
80 orang
02.  Lingkungan Sendowo, Kotabaru
 orang
03.  Paroki Administratif Pringgolayan
23 orang
04.  Paroki Pugeran
13 orang
05.  Paroki Bintaran, Lingkungan Nicolas
2 orang
06.  Paroki Kumetiran
 orang
07.  Paroki Baciro
 orang
RAYON SLEMAN KEVIKEPAN DIY
66 ORANG
08.  Paroki Minomartani
20 orang
09.  Paroki Banteng
2 orang
10.  Paroki Babadan
4 orang
11.  Paroki Babarsari
 orang
12.  Paroki Medari
30 orang
13.  Paroki Kalasan
1 orang
14.  Paroki Mlati
2 orang
15.  Paroki Pakem
1 orang
16.  Paroki Nandan
2 orang
17.  Wanita Katolik RI Depok
4 orang
RAYON BANTUL KEVIKEPAN DIY
6 ORANG
18.  Paroki Bantul
6 orang
19.  Paroki Ganjuran, Lingkungan Kepuh
 orang
RAYON WONOSARI KEVIKEPAN DIY
 ORANG
20.  Paroki Kelor
 orang
KEVIKEPAN SURAKARTA
15 ORANG
21.  Paroki Bayat
 orang
22.  Paroki Wedi
 orang
23.  Paroki Jombor
 orang
24.  Paroki Purbowardayan, Sala
 orang
25.  Paroki Gondang
15 orang
KEVIKEPAN KEDU
   6 ORANG
26.  Paroki Ignatius Magelang
6 orang
 27.  Paroki Panca Arga
 orang
28.  Paroki Santa Maria Magelang
 orang
JUMLAH
211 orang