Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, August 19, 2014

SUARA POLITIK LANSIA

oleh Lilis Heri Mis Cicih dalam opinikompas.blogspot.com 10 Mei 2014 jam 08.23
ilustrasi dari koleksi Blog Domus
SUARA politik lansia jangan disalahartikan sebagai lansia yang memaksa jadi elite politik. Juga bukan lansia sebagai obyek politik. Sebaliknya, suara politik lansia seharusnya dipandang sebagai dukungan dari para lansia dan menjadikan lansia sebagai aset bangsa demi masyarakat yang sejahtera. Namun, bagaimana supaya penduduk lansia bisa menyumbangkan suaranya dengan baik? Tentunya mereka harus punya kualitas yang baik. Jika tidak, suara politik mereka akan hilang percuma. Pengalaman pemilu legislatif lalu, beberapa kasus penduduk lansia mengalami kesalahan pengisian formulir atau karena ketidaktahuan mereka sehingga mengisi asal saja.

Memang secara umur mereka umumnya sudah mengalami penurunan berbagai kondisi tubuh. Namun, kecepatan penurunan tersebut sebenarnya bisa dicegah jika para elite politik sudah punya wawasan kelanjutusiaan sehingga dapat melakukan investasi sumber daya manusia dari sekarang. Jika para elite politik jeli, seharusnya dapat memanfaatkan potensi mereka karena penduduk lansia cenderung semakin meningkat jumlahnya di masa depan. Tahun 2014 ini jumlahnya 20,793 juta dan pada 2019 akan mencapai 25,901,9 juta. Suatu jumlah yang tidak bisa diabaikan dan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa.

Aset bangsa

Oleh karena itu, para bakal capres perlu mengusung program kelanjutusiaan sebagai aset bagi ketahanan nasional bangsa. Kenapa demikian? Sebab, ketahanan nasional bangsa akan terwujud jika penduduknya adalah manusia berkualitas baik. Ketahanan bangsa tak semata pada kemampuan militer dan pertahanan keamanan, tetapi juga dari segi penduduknya sebagai aktor ketahanan nasional.

Mengapa harus lansia? Mungkin saat ini lansia masih merupakan golongan penduduk yang terabaikan. Namun, siapa sangka bahwa penduduk lansia juga masih bisa jadi aset bangsa. Saat ini masih banyak penduduk lansia yang bekerja dan aktif beraktivitas. Dari data BPS tahun 2010, sekitar 87,9 persen penduduk lansia laki-laki dan sekitar 31,99 persen penduduk lansia perempuan masih menjadi tulang punggung keluarga. Lebih dari setengah penduduk usia 60-69 tahun atau 53,4 persen dari total kelompok umur tersebut tergolong masih bekerja. Bahkan, pada usia yang lebih tua (80 tahun ke atas) sebanyak 19,7 persen lansia yang masih bekerja.

Pada kelompok penduduk lansia tertentu kadang mereka baru menemukan karier saat sudah mencapai usia tua atau mencapai karier kedua di usia tua. Ini sekaligus menepis anggapan bahwa usia tua merupakan usia akhir bagi karier seseorang.  Guna mencapai kondisi seperti ini tentu perlu upaya untuk mempertahankan kondisi tubuh agar dapat bertahan dari berbagai risiko kehidupan.

Apakah kondisi seperti ini masih berlangsung di masa depan? Sebab, dilihat dari kondisi demografis, penduduk lansia cenderung mengalami peningkatan dibandingkan penduduk usia muda. Di masa depan, jika penurunan fertilitas sudah sangat rendah, peningkatan jumlah lansia jadi suatu hal yang tak dapat diabaikan. Hasil perhitungan ageing index terlihat meningkat dari 26,4 penduduk lansia per 100 penduduk usia kurang dari 15 tahun pada 2010 menjadi hampir tiga kali lipat pada 2035, yaitu 73,3 persen.

Ini menunjukkan persoalan di masa depan akan lebih kompleks jika tak diantisipasi dari sekarang. Jika kondisi mereka kurang baik, kita harus bersiap menghadapi serbuan tenaga kerja asing yang akan mengisi kesempatan kerja di Indonesia. Kondisi seperti ini sudah dialami Singapura yang mengalami penuaan penduduk lebih cepat daripada Indonesia. Di sana banyak lansia yang bekerja di sejumlah tempat umum seperti cleaning service.

Sudah seyogyanya para bakal capres punya wawasan mengenai penduduk lansia sebagai suatu investasi SDM untuk pembangunan. Suatu program komprehensif perlu dipersiapkan sejak dini sampai tua. Orientasi semacam ini suatu keharusan yang perlu dimiliki setiap capres demi masa depan bangsa yang sejahtera. Jika tidak dipersiapkan dari sekarang, negara akan menanggung penduduk usia tua yang lebih besar dengan kualitas sumber daya manusia yang rendah.

Di masa depan, jika terjadi era lansia, dapat dijadikan sebagai aset bagi ketahanan nasional berbasis penduduk. Kerja sama dan harmonisasi antargenerasi dalam mengisi pembangunan merupakan suatu keharusan, bukan menganggap saingan antara satu sama lain.

Harmonisasi tua-muda

Dari segi ekonomi, mungkin sumbangan para lansia tidak dalam bentuk uang. Sumbangan mereka dapat diperhitungkan dalam bentuk keuntungan ekonomi bagi keluarga anak-anaknya. Seharusnya tenaga dan waktu yang dicurahkan para lanjut usia ini dapat diperhitungkan dari segi ekonomi dan keuntungan yang bisa diperoleh dari suatu keluarga.

Bayangkan berapa besar penghematan yang bisa dilakukan oleh suatu keluarga dengan menitipkan anak-anaknya kepada kakek-neneknya. Penghematan dimaksud, yaitu pengeluaran untuk membayar gaji pembantu atau pengasuh bayi. Selain itu, keuntungan lain yang diperoleh para keluarga adalah adanya rasa aman dengan menitipkan anaknya tersebut. Sebab, terdapat beberapa kasus anak yang dititipkan kepada bukan anggota keluarga mengalami tindak kekerasan atau pelecehan.

Meski para keluarga yang menitipkan anak-anaknya kepada kakek-neneknya merasa khawatir anak-anaknya menjadi lebih manja, mereka merasa tenang ada yang mengurus anak-anaknya. Kondisi ini bisa membantu konsentrasi para keluarga untuk bekerja dan meningkatkan produktivitas kerja.

Harmonisasi antara yang muda dan yang tua tetap harus dipertahankan dan perlu berbagi informasi dan pengalaman. Yang tua sudah begitu sarat dengan berbagai pengalaman dan kearifan kiranya bisa berbagi dengan yang muda untuk mencapai kesuksesan hidup. Yang muda diberi pengetahuan bagaimana mempersiapkan menjadi penduduk lansia yang masih bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Yang muda tetap berbakti, menghormati, dan menghargai para lansia untuk bersama membangun bangsa.
* Ide tulisan ini diambil dari disertasi penulis mengenai ”Ketahanan Penduduk Lansia dalam Perspektif Penuaan Sehat, Aktif, dan Produktif dalam mewujudkan Ketahanan Nasional Bangsa”. Demi masa depan bangsa yang lebih baik dan lebih sejahtera, mari dukung bakal capres yang pro program kelanjutusiaan! 
Lilis Heri Mis Cicih, Peneliti di Lembaga Demografi FEUI; Kandidat Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Lamunan Pesta Wajib



Santo Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja
Rabu, 20 Agustus 2014

Matius 20:1-16

20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di era global terutama dalam hubungan tata ekonomi orang harus memiliki transaksi jelas. Untuk kepastian transaksi biasa dibuat perjanjian tertulis.
  • Tampaknya, pada zaman kini perjanjian tertulis dilindungi oleh tata peraturan negara dengan segala rincian sesuai dengan kapasitas, target, dan lama kerjanya. Untuk menjadi benar orang cukup dengan menjalani apa saja yang tertulis.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa ketaatan sejati terjadi kalau orang mempunyai kelimpahan hati sehingga dia tidak hanya terpancang pada tata perjanjian tetapi berpatokan pada kemanusiaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memiliki kelenturan rasa sehingga hidupnya akan melebihi dari segala aturan standar.
Ah, jaman kini kemurahhatian hanya akan menjadikan orang sapi perah.

Monday, August 18, 2014

DOOR PRIZE DAN SOMBI


Ketika sampai Domus Pacis Sabtu16 Agustus 2014 jam 22.45, Rama Bambang melihat Rama Agoeng sedang berkerumun dengan Mas Indra dari Komsos, Mas Kus adiknya Rama Harjaya, Mbak Tari, dan Mas Fredi. "Pripun, sukses le tirakatan?" (Bagaimana acara tirakatan menjelang Hari Kemerdekaan, sukseskah?) kata Rama Agoeng. Pertanyaan ini terjadi karena Rama Bambang dan Mas Heru baru saja mengikuti Perayaan Syawalan dan Menyongsong Hari Kemerdekaan di RW 39 Puren yang terdiri dari 5 RT. "Bojone Mas Handoko katut entuk salah satu dari 10 door prize Domus" (Istri Mas Handoko, salah satu relawan sopir Domus, ikut dapat salah satu dari 10 door prize yang disumbangkan oleh Domus Pacis) Rama Bambang berkata menanggapi pertanyaan Rama Agoeng.

Dalam omong-omong asyik Rama Agoeng berkata "Wau Mbak Tari criyos 'Mati satu tumbuh seribu, rama'" (Tadi Mbak Tari bilang 'Mati satu tumbuh seribu, rama'"). "Lho, enten napa, ta?" (Lho, ada apa, ta?) tanya Rama Bambang yang langsung dijawab oleh Rama Agoeng "Mas Heru rak rada stres merga saben dina diparani salah satu tangga sing mesthi rumangsa keganggu perkara Mekar, asune Yahya. Nah, Mas Kus criyos 'Wis takbelehe wae, ben rampung soale'. Nika dha teng pawon masak Mekar. Eeee, kanyata Sombi wau manak wolu ning mati siji" (Mas Heru agak stres karena setiap hari didatangi oleh salah satu tetangga yang selalu merasa terganggu karena Mekar, anjing Yahya. Nah, Mas Kus berkata 'Sudahlah, nanti aku akan menyembelihnya, agar soalnya selesai'. Sekarang mereka di dapur memasak Mekar. Eeee, ternyata tadi Sombi beranak 8 tetapi mati 1). Sombi adalah anjing buruk, cacad, dan tampaknya seperti sering ling-lung. Dulu sudah dibuang jauh. Tetapi ternyata pulang ke Domus dan selalu berada di luar dan tak pernah masuk rumah induk Domus. Tubuhnya kecil tetapi pada suatu hari hamil. Tentu karena biasa didatangi anjing-anjing jantan dari luar Domus. Rama Bambang pernah bilang kepada Rama Agoeng "Kula nek weruh Sombi meteng dadi kelingan wong wedok edan jaman kula SMA. Wong edan wau meteng, jarene merga digarap wong dalanan" (Kalau melihat Sombi saya jadi teringat perempuan gila waktu saya SMA. Orang gila itu hamil katanya karena perbuatan orang jalanan).

Sabda Hidup

Selasa, 19 Agustus 2014
Yohanes Eudes, Ezekhiel Moreno Guerikus
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab,27cd-28,30,35cd-36ab; Mat. 19:23-30. BcO Pkh. 3:1-22

Matius 19:23-30:
23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 26 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." 27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" 28 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. 29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. 30 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Renungan:
Bulan Juli yang lalu, ketika hari olah raga Unio KAS, aku diinapkan di salah satu keluarga. Keluarga itu mempunyai satu orang anak laki-laki. Kebetulan anak satu-satunya itu masuk Seminari dan sekarang ini menjadi Frater.
Malam itu saya bertanya, "Mengapa bapak-ibu mengijinkan dia masuk Seminari?" Kata mereka, "Sudah menjadi keinginannya dan persembahan kami." Tanyaku, "Tidak merasa kehilangan?" Jawab ibunya, "Rama, anak satu atau 7, toh pada saatnya kami juga akan berdua dan bahkan sendiri. Jadi biarlah dia dengan pilihannya." Kerelaannya luar biasa. Benar juga katanya, bapak-ibuku yang anaknya 6 pun sekarang tinggal berdua.
Kerelaan melepaskan miliknya satu-satunya untuk Tuhan tidak membuat keluarga itu merasa kehilangan. Ia merasa itulah jalan kehidupan. Dan dari kesaksiannya keluarga itu pun menemukan suatu persaudaraan baru yang lebih luas dari sebelumnya. "Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, .... akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal" (Mat 19:29).

Kontemplasi:

Ambillah posisi berdoa dan mata terpejam. Ingatlah pada tahun-tahun awal satu dua saudaramu yang kaulepas merantau atau menjadi imam. Dan lihatlah kenyataan sekarang ini setelah bertahun-tahun mereka meninggalkanmu. Apakah anda kehilangan?

Refleksi:
Tulislah pengalaman keiklasan yang berbuah melebihi kerelaanmu.

Doa:
Tuhan, semoga kami pun mempunyai keiklasan melepaskan milikku untukMu. Kami percaya Engkau akan menjaminku. Amin.

Perutusan:
Aku akan menguatkan kerelaan-kerelaanku.

Sunday, August 17, 2014

RAMA HARJAYA


Pada Rabu pagi 13 Agustus 2014 Rama Bambang mendapat telepon dari Suster Lusi dari RS Panti Rapih. Dikabarkan bahwa Rama Harjaya yang sudah 2 minggu opname diperbolehkan pulang ke Domus Pacis. "Apakah Domus sudah dapat menyiapkan tempat untuk Rama Harjaya" tanya Suster yang dijawab oleh Rama Bambang "Sudah disiapkan termasuk kasur udaranya." Pada sekitar jam 11.00 seorang perawat home care RS Panti Rapi, yang biasa datang ke Domus seminggu sekali mengontrol kesehatan para rama penghuni, sambil memeriksa tensi dan gula darah berkata kepada Rama Bambang "Untuk Rama Harjaya kami akan datang dua hari sekali sampai petugas Domus dapat trampil merawat luka-lukanya." Rama Bambang menjelaskan bahwa di Domus ada Mas Fredi seorang pramurukti Panti Rini. "Engko le metu seka Panti Rapih jam pira, ta?" (Nanti keluarnya dari Panti Rapih jam berapa?) tanya Rama Bambang yang dijawab oleh si perawat "Nggih sekitar jam kalih" (Sekitar jam 2 siang).

"Rama Harjaya pun kundur?" (Apakah Rama Harjaya sudah pulang?) tanya Rama Bambang pada sekitar jam 16.00 kepada Mas Fredi yang dijawab "Sampun, rama" (Sudah, rama). Rama Bambang tidak melihat kedatangan Rama Harjaya karena baru saja pergi ke luar Domus sekitar 3 jam. Rama Bambang pun segera menengok Rama Harjaya di kamarnya. Beliau sedang tidur. "Wau pun kula dulang bubur" (Tadi sudah saya suapi bubur) kata Pak Tukiran. Dia juga memberikan kabar bahwa Mas Kus, adik Rama Harjaya, juga ada di Domus tetapi saat itu baru keluar sebentar. "Kala wau Bu Rini nggih tumut methuk" (Tadi Bu Rini, salah satu adik Rama Harjaya yang lain, juga ikut menjemput) kata Pak Tukiran.

Lamunan Pekan XX



Lamunan Pekan Biasa XX
Senin, 18 Agustus 2014

Matius 19:16-22

19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
19:17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."
19:18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,
19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"
19:21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang mengharapkan dapat menjadi dan mengalami apapun baik adanya. Dengan adanya kebaikan hidup akan damai dan sejahtera serta jauh dari derita dan kesedihan.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang mengaitkan kebaikan dengan ketaatan terhadap hukum dan tata aturan agama. Orang yakin akan baik dan bahagia kalau taat pada perintah-perintah yang ada dalam agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa kedamaian sejati hanya dapat terjadi kalau orang bertindak lebih dari hanya kewajiban beragama sehingga ada hati yang mengutamakan kaum miskin dan menderita. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan rela membagikan kekuatannya terutama bagi dan bersama kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Ah, beragama kok malah rugi.

Saturday, August 16, 2014

BOLEHKAH MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR?

Injil Minggu 17 Agustus 2014 / Hari Raya Kemerdekaan RI (Mat 22:15-22 dari renungan-kitabsuci.blogspot
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

Rekan-rekan yang budiman!
Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-22 // Mrk 12:13-17). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi. Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: "Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?" Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang "ya" maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang "tidak", apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya? Marilah kita dalami petikan dari Injil Matius yang dibacakan bagi Hari Raya Kemerdekaan RI ini. Akan ditambahkan catatan mengenai bacaan kedua, yakni 1Petr 2:13-17.
SEBUAH TANYA JAWAB
Dalam kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, sebelum menanggapi persoalan yang diajukan lawan bicaranya, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan untuk menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. (Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus.) Begitu juga dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, "Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!" Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap "urusan kaisar" maupun keprihatinan mereka mengenai "urusan Allah" dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?
Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak "kensos" (inilah asal kata sensus), yakni pajak bagi orang yang memiliki tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri ada dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi yang bukan warga Romawi. Tapi aturan agama Yahudi juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama "persepuluhan" kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat,  menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak dua kali. Mereka tidak menyukai keadaan ini.
Sebuah catatan. Seperti ditunjukkan di atas, pajak yang dibicarakan Injil kali ini hanya dipungut dari orang Yahudi yang memiliki tanah. Orang miskin yang tentunya tidak memiliki tanah tidak kena pajak ini. Jadi meleset bila pembicaraan ini ditafsirkan dengan mengkaitannya dengan semua orang. Injil kali ini menyangkut masalah orang Yahudi yang berkecukupan.
MASALAH PERPAJAKAN
Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.
Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa "pribumi" dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi "pribumi" seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk – pajak yang dibicarakan dalam petikan ini – tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.
Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.
PEMECAHAN
Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang- kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepadaNya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama. 
Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih belaka. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.
Pada akhir petikan disebutkan mereka "heran" mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umatNya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaranNya. Inilah makna "heran" tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.
KOMUNITAS ORANG YANG PERCAYA
Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 21:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai "orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka." Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang berprinsip. Juga sebagai orang yang berintegritas tinggi. Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.
Pengajaran dasar yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang- orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusan-Nya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.
DARI BACAAN KEDUA
Dalam bacaan kedua, yakni 1Petr 2:13-14 didapati serangkai nasihat bagaimana hidup sebagai orang yang percaya di dalam masyarakat luas yang boleh jadi memiliki pandangan hidup yang lain. Ditegaskan pada dasarnya agar orang yang percaya bersikap "tunduk" kepada kelembagaan dan pemegang kuasa di masyarakat (ay. 13-14). Maksudnya tentu saja mengikuti wewenang yang sah yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Memang orang kristiani awal dulu yang berasal dari kalangan Yahudi banyak yang hidup di luar Tanah Suci sehingga tidak bisa begitu saja dapat beranggapan hukum adat sama dengan hukum umum. Sering keadaan ini membuat hidup mereka tidak gampang karena harus menepati adat kebiasaan sendiri tapi juga mengikuti pola-pola hidup umum. Namun surat Petrus ini justru memandang keadaan itu sebagai kesempatan bagi orang yang percaya untuk memperlihatkan kebaikan ilahi bagi semua orang secara merdeka (ay. 15-16). Orang yang percaya diharapkan mampu menyatukan empat hal berikut (ay. 17): tahu menghargai orang lain, mengasihi sesama orang percaya, menghayati agama sendiri ("takutlah kepada Alah!"), dan menghormati penguasa.
Keempat arah itu kiranya menjadi pegangan bagaimana orang yang percaya dapat hidup di masyarakat luas tanpa memiliki sikap menyendiri. Berarti pula adat kebiasaan yang dalam keadaan lain begitu saja dapat diikuti perlu diselaraskan dengan keadaan dan lingkungan. Boleh dikata, inilah keadaban yang dipegang dan dikembangkan orang yang percaya.
Salam hangat,
A. Gianto