Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, April 1, 2015

Ulasan Injil: Kamis Putih (Yoh 13:1-15)



By dalam

HANYA Injil Yohanes sajalah yang menyampaikan kisah pembasuhan kaki para murid (Yoh 13:1-15) Petikan ini dibacakan pada Pesta Perjamuan Tuhan pada hari Kamis dalam Pekan Suci. Memang dahulu lazim orang membasuh kaki sendiri sebelum masuk ke ruang perjamuan agar masuk dengan kaki bersih. Hanya tamu yang amat dihormati sajalah, misalnya seorang guru atau orang yang dituakan, akan dibasuh kakinya. Tapi ini dilakukan sebelum perjamuan mulai.

Dalam Injil Yohanes peran-peran tadi dibalik. Yesus sang guru kini membasuh kaki para muridnya. Lagi pula pembasuhan ini terjadi selama perjamuan sendiri, bukan sebelumnya seperti biasa dilakukan orang waktu itu. Kiranya hendak disampaikan hal yang tidak biasa. Pembasuhan kaki di sini tidak ditampilkan semata-mata sebagai tanda memasuki perjamuan dengan bersih, tetapi untuk menandai hal lain. Apa itu? Baiklah didekati kekhususan Yohanes dalam menyampaikan kejadian-kejadian terakhir dalam hidup Yesus.

Kaitan dengan Bacaan Pertama Kel 12:1-8; 11-14

Yohanes menyampaikan kejadian pada hari-hari terakhir Yesus dengan cara yang agak berbeda dengan ketiga Injil lainnya. Dalam Injil Markus, Matius dan Lukas, kedatangan Yesus ke Yerusalem mengawali peristiwa-peristiwa yang mengantar masuk ke dalam penderitaan, kematian serta kebangkitannya nanti, termasuk juga perjamuan Paskah. Yohanes lain.

Dalam Injil Yohanes kedatangan Yesus ke Yerusalem dan pembersihan Bait Allah dipisahkan dari peristiwa salib dan kebangkitan. Bagi Yohanes, serangkaian kejadian yang berakhir dengan kebangkitan itu justru berawal pada perjamuan malam terakhir. Berbeda juga dengan ketiga Injil lainnya, perjamuan ini bukan perjamuan Paskah, melainkan perjamuan malam yang diadakannya sebelum Paskah. Bagi Yohanes, Paskah yang sejati terjadi dalam pengorbanan Yesus di salib.

Dengan demikian Injil Yohanes membaca kembali pengorbanan Yesus di salib sebagai perayaan Paskah yang dahulu mulai sebagai ingatan akan saat Tuhan memimpin umatNya keluar dari tanah Mesir dengan kuasa besar sebagaimana dibacakan dari Kel 12:1-8; 11-14.  Darah domba kurban Paskah yang dahulu dioleskan pada bingkai pintu rumah (Kel 12:8) menandai darah yang terpoles pada kayu salib. Salib menjadi ambang memasuki hidup baru bersama Yang Ilahi.  Bingkai pintu yang terpoles darah domba itu juga menjadi tanda bahwa di rumah itu tinggal umat yang akan dipimpin keluar dari tanah Mesir dan penghuninya tidak kena bencana dan hukuman (Kel 12:12-13). Salib yang menandai darah pengorbanan Yesus menjadi tanda bahwa yang berada di balik salib itu ialah orang-orang yang diselamatkan. Namun dalam peristiwa perjamuan yang dikisahkan Yohanes, semua ini baru terjadi nanti pada saat Yesus disalibkan, wafat, dan kurbannya menjadi tanda keselamatan siapa saja yang ada bersamanya.

Sekarang, dalam perayaan perjamuan malam sebelum Paskah hendak disampaikan bagaimana semua ini bisa terjadi, bagaimana pengorbanan ini memang menurut kemauan Yang Maha Kuasa dan utusannya, yakni Yesus, kini siap menjalankannya. Pengorbanan ini dijalaninya karena mengasihi “sampai pada kesudahannya” yang diungkapkan Yohanes pada awal perjamuan ini (Yoh 13:1). Marilah kita simak dari dekat peristiwa perjamuan ini

Membasuh Kaki Para Murid

Yohanes juga menekankan, Yesus sadar bahwa dirinya “datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah” (ay. 3). Karena itu mereka yang mengenalnya akan mengenali Yang Ilahi dari dekat. Ini semua diajarkan Yesus kepada para murid terdekat pada perjamuan malam terakhir itu dengan membasuh kaki mereka. Dia yang sadar berasal dari Allah dan sedang kembali menuju kepadaNya ingin menunjukkan bahwa orang-orang terdekat itu sedemikian berharga, sedemikian terhormat.
Lebih dari itu, ia ingin berbagi “sangkan paran” – dari siapa dan menuju ke siapa –  dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan mengasihi sepenuhnya (ay. 1, Yunaninya “eis telos”). Tidak setengah-setengah melainkan hingga tujuan kedatangannya terlaksana, yakni membawa manusia ke dekat Allah, asal terang dan kehidupan.

Petrus terheran-heran dan tak bisa menerima gurunya membasuh kakinya. Yesus mengatakan bahwa kelak ia akan mengerti walaupun kini belum menangkapnya (ay. 6-7). Tetapi Petrus belum puas dan bersikeras menolak dibasuh kakinya oleh gurunya itu. Pada saat inilah Yesus menjelaskan, ” Jikalau aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku.” (ay. 8). Dia yang “sangkan paran”-nya ialah Allah sendiri mau berbagi kehidupan dengan para murid. Dan berbagi asal dan tujuan kehidupan inilah jalan keselamatan bagi manusia.

Bila asal dan akhir itu Allah sendiri, tentunya yang di maksud ialah Allah sumber terang, sumber kehidupan. Utusannya itu datang ke dunia yang masih berada dalam ancaman kuasa gelap untuk membawa kembali orang-orang yang dekat padanya kembali ke sumber terang, kepada Allah, ke sumber kehidupan sendiri. Itulah “sangkan paran” yang diungkapkan di dalam perjamuan ini.

Berbekal teladan

Pada kesempatan itu Yesus juga mengatakan bahwa pembasuhan kaki itu disampaikan sebagai teladan bagi para murid, agar mereka berbuat seperti itu satu sama lain (ay. 15). Teladan ini kemudian menjadi bekal kehidupan orang-orang yang percaya bahwa Yesus itu datang dari Allah dan pulang kepadaNya setelah berhasil memperkenalkan siapa Allah itu sesungguhnya.

Boleh dikatakan saat itulah lahir kumpulan orang yang hidup berbekal sikap Yesus yang menganggap sesama sedemikian berharga sehingga pantas dilayani dan dihormati. Inilah Gereja dalam ujudnya yang paling rohani, paling spiritual. Dalam arti inilah Gereja berbagi “sangkan paran” dengan Yesus sendiri. Hidup meng-Gereja yang berpusat pada ekaristi baru bisa utuh bila dijalani dengan bekal yang diberikan Yesus tadi. Hanya dengan cara itu Gereja akan tetap memiliki integritas. Memang masih berada di dunia, masih berada dalam kancah pergulatan dengan kekuatan-kekuatan gelap, tetapi arahnya jelas, ke asal dan tujuan tadi: ke Sumber Terang sendiri bersama dengan dia yang diutus olehNya.

Karena itu tak perlu heran bila para murid – dan Gereja – tidak semuanya bersih. Yesus berkata dalam ay. 11 “Tidak semua kamu bersih.” Kata-kata itu bukan mencela melainkan mengakui kenyataan bahwa ada kekuatan-kekuatan gelap. Nanti pada saat ia kembali kepada Allah, kekuatan ilahi akan tampil dengan kebesarannya dan saat itu jelas kekuatan-kekuatan gelap tidak lagi menguasai meskipun tetap dapat menyakitkan. Penderitaan ini tidak akan memporakperandakan kumpulan orang-orang yang percaya kepadanya. Malah menguatkan harapan.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Suci

Hari Kamis Putih
Kamis, 2 April 2015

Yohanes 13:1-15

13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.
13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"
13:7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
13:8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."
13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"
13:10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
13:11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."
13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?
13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, dalam menjalani tugas seseorang tidak hanya memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada demi kesuksesannya. Dia juga harus memperhitungkan kemungkinan adanya ancaman yang dapat menghambat.
  • Tampaknya, bila berhadapan dengan ancaman dalam menjalani tugas orang akan berjuang menangkal. Orang tidak akan membiarkan penghambat menjalankan aksinya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa kesungguhan menjalani tugas membuat orang tidak akan menghindari berbagai ancaman dan akan mengubahnya menjadi tantangan yang memurnikan pelaksanaan tugas makin menjadi penghayatan pelayanan dan keteladan bagi orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati status sosialnya menjadi kesempatan menghadirkan kesegaran dalam hidup bersama terutama dalam menghadapi ancaman.
Ah, jaman sekarang kegiatan apapun harus menghasilkan uang.

Sabda Hidup

Kamis, 02 April  2015
KAMIS PUTIH
warna liturgi putih
Bacaan:
Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15; BcO Yer. 20:7-18.

Yohanes 13:1-15:
1 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Renungan:
Hari ini umat Katolik merayakan hari raya Kamis Putih. Kamis Putih menjadi hari yang mengawali Tri Hari Suci. Di sana Yesus bersama para rasul mengadakan perjamuan malam. Di tengah perjamuan tersebut Yesus membasuh kaki para rasul.  Sang Guru mengambil posisi dan membasuh kaki para muridNya (Yoh 13: 4-5).
Mungkin kita mengira hal tersebut tindakan biasa. Namun sebenarnya tindakan membasuh kaki biasanya dilakukan oleh pelayan, budak. Maka layaklah Petrus menolak (Yoh 13:8). Namun bagi Yesus tindakan membasuh kaki para murid ini menjadi lambang mempersatukan mereka dengan diriNya (Yoh 13:9). Mereka yang tidak mau dibasuh tidak mendapat bagian dalam Dia. Mereka yang dibasuh ikut ambil bagian dalam perutusanNya, melayani.
Kamis Putih ini menjadi salah satu kesempatan bagi kita untuk merenungkan sikap kita dalam melayani. Siapapun dari kita dipanggil untuk melayani. Semakin tinggi posisi kita semakin besar tugas pelayanan yang kita emban. Jabatan tinggi bukanlah ruang untuk menguasai sesama, tetapi sebagai media untuk melayani sesama. Mereka yang menjabat dipanggil untuk melayani.

Kontemplasi: 
Bayangkan kisah dalam Injil Yoh. 13:1-15. Jadah salah satu pemerannya.

Refleksi:
Bagaimana sikap pelayanan dalam jabatan yang sekarang kauemban?

Doa:
Ya Tuhan semoga aku layak sebagai bagianMu. Semoga jiwa pelayanan makin hidup dalam diriku. Amin.

Perutusan:
Aku akan menumbuhkan semangat pelayananku. -nasp-

Tuesday, March 31, 2015

BERSYUKUR ITU INDAH

Monday, July 21, 2008 dalam http://andrew-setiawan.blogspot.com; ilustrasi dari Blog Domus


1 Tesalonika 5: 18

Pendahuluan
Apakah mudah mengucap syukur dalam segala hal? Tentang kemahiran bersyukur ini seorang penulis Kristen bernama Andreas Harefa pernah melakukan sebuah penelitian selama sepuluh bulan dengan melibatkan 500 peserta. Dalam salah satu materi penelitiannya, ia meminta semua peserta berlomba membuat daftar “25 Hal yang Saya Syukuri dalam Hidup”. Hasilnya menunjukkan bahwa 5% peserta mampu menyelesaikan daftar syukur tersebut dalam waktu 4 menit atau kurang [rekor tercepat adalah 2,5 menit]. Sedangkan 95% peserta lainnya memerlukan waktu yang lebih lama. Andreas Harefa kemudian memberikan kesimpulan sementara bahwa tidak banyak orang yang mahir mengucap syukur.
Ternyata, mengucap syukur dalam segala hal itu sulit. Jangankan dalam kondisi susah, kondisi normal pun mungkin kita masih sulit mengucapkan syukur. Bila penelitian itu diadakan di gereja ini, maka termasuk kategori manakah kita? Apakah kita akan termasuk dalam kategori orang yang mahir bersyukur?
Berbicara soal bersyukur, kurang lebih ada sekitar 138 bagian Alkitab yang membahas tentang pengucapan syukur. Misalnya, Kitab Imamat berulangkali menyinggung soal ajakan dan peraturan menaikkan korban syukur. Apalagi Kitab Mazmur yang begitu banyak mengajarkan tentang pengucapan syukur kepada umat Allah. Misalnya, Mazmur 92: 2, “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi.” Atau, Mazmur 136 yang berisikan Mazmur Pengucapan Syukur, “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!” Dalam Perjanjian Baru, ajaran dan ajakan untuk mengucap syukur juga masih menggema. Kolose 3: 17 mengatakan, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu di dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Berikutnya, 1 Tesalonika 5: 18 memberi penekanan yang lebih jelas, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Dari bukti-bukti ini kita sekarang melihat tentang panggilan untuk mengucap syukur kepada kita. Pengucapan syukur mengambil bagian penting dalam kehidupan umat Allah. Seakan-akan pengucapan syukur itu seperti nafas yang tak ada hentinya dan tak boleh berhenti dari kehidupan kita. Ia merupakan satu hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Allah.

Khasiat Bersyukur
Sekarang mari kita melihat khasiat bersyukur bagi kita. Ketika Tuhan meminta kita untuk belajar bersyukur, itu sebenarnya bukan untuk kepentingan Tuhan semata, tapi juga untuk kepentingan kita pribadi. Ada sejumlah khasiat yang dapat kita alami ketika kita rajin-rajin mengucap syukur. Khasiat-khasiat itu, antara lain:

1. Mendatangkan kesehatan
Orang yang rajin mengucap syukur memang dapat mendatangkan kesehatan. Kenapa demikian? Karena, orang yang mengucap syukur adalah orang yang merasa dirinya cukup atau tidak dikuasai sifat ambisiusnya. Ia mampu berkata pada dirinya, “Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.” Acapkali orang tidak bahagia karena dia selalu merasa kurang dan tidak pernah merasa puas dengan kondisinya. Ia berusaha tapi tidak pernah puas. Ia melakukan sesuatu tapi tidak pernah merasa cukup. Seperti kata kitab Pengkhotbah, orang ini berusaha menjaring angin (Pengkh. 1: 14). Akhirnya, ia akan kelelahan dan mudah jatuh sakit.
Tidak demikian dengan orang yang rajin mengucap syukur. Karena ia bisa merasa dirinya cukup, maka ia tidak lebih mudah jatuh sakit. Konon, pernah dilakukan survei terhadap para lansia, baik yang tinggal di panti jompo maupun yang tinggal di rumah bersama keluarga mereka. Menurut survei itu, para lansia yang hidupnya selalu bersyukur umumnya lebih sehat dibandingkan lansia yang suka mengeluh. Nah, bila Anda ingin hidup sehat, maka jangan suka mengeluh, tapi berlatihlah untuk mengucap syukur.

2. Menghindarkan dosa perzinahan
Perzinahan pada umumnya terjadi karena salah satu pasangannya tidak merasa puas dengan lawan pasangannya. Mungkin suami merasa tidak puas karena tiap kali pulang istri hampir selalu mengeluhkan kondisi rumah: yang tidak bersih, pipa bocor, air tidak menyala, bau kotoran anjing, anak belum mandi, dan seterusnya. Sedangkan, istri mungkin merasa tidak puas karena ia merasa tidak dibutuhkan oleh suaminya. Ia tidak merasa penting dalam kehidupan suaminya. Tiap kali diajak bicara, suami tidak memerhatikan, tetap saja nonton tv, menanggapi perkataan dengan tidak serius. Nah akhirnya yang terjadi adalah suami dan istri sama-sama merasa tidak puas dengan perlakuan pasangannya.
Perasaan tidak puas inilah yang kerapkali menjadi celah untuk berselingkuh atau berzinah dengan orang lain. Orang ini merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau, lebih segar, dan lebih menjanjikan. Sebaliknya, bila kita bersyukur atas pasangan kita, maka dosa perzinahan tidak mudah merusak kesetiaan pernikahan. Bersyukurlah atas pasangan kita!

3. Menghindarkan dosa iri hati
Bersyukur atas apa yang kita punyai membuat kita tidak membandingkan dan mempertandingkan milik kita dengan orang lain, sehingga tidak menimbulkan iri hati. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan yang menyinggung persoalan iri hati dalam Matius 20. Dikisahkan di sana ada seorang tuan yang menemukan beberapa orang pengangguran. Ketika bertemu mereka, tuan itu mempersilakan mereka bekerja di kebun anggurnya dengan gaji satu dinar sehari. Mereka sama-sama menyepakatinya.
Ada yang mulai bekerja dari jam 9 pagi, ada yang jam 12, jam 3, dan terakhir jam 5 sore. Seusai bekerja, mereka dibayar sesuai kesepakatan, yaitu satu dinar. Ketika menerima bayaran itu, orang-orang yang bekerja lebih dahulu dari orang yang bekerja jam 5 sore bersungut-sungut. Mereka protes, “Kenapa pekerja yang masuk terakhir dan hanya bekerja satu jam ini justru dibayar sama dengan kami?” Jelas ini pertanyaan dari orang yang iri hati. Mereka tidak bisa melihat bahwa mereka telah ditolong dari seorang pengangguran menjadi pekerja dan telah mendapatkan gaji.
Latihan mengucap syukur akan menghindarkan kita dari dosa iri hati. Pengucapan syukur membuat kita berkonsentrasi pada apa yang kita terima tanpa membandingkan dan menandingkan dengan apa yang orang lain terima.

Demikianlah khasiat-khasiat dari pengucapan syukur. Ternyata, bersyukur itu indah!

Tips Bersyukur
Sekarang, bagaimana caranya agar kita dapat mengucap syukur senantiasa?

1. Tingkatkan kepekaan
Apakah semua orang Kristen bisa bersyukur? Bisa. Apakah semua orang Kristen mahir bersyukur? Belum tentu. Saya kira mengucap syukur merupakan sebuah ketrampilan untuk peka terhadap karya Tuhan baik suka maupun duka, baik lancar ataupun tidak. Tidak jarang orang berpikir jika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan atau lancar semuanya maka orang itu akan mudah mengucapkan syukur. Pada kenyataannya tidak semua orang demikian. Masih ada sebagian orang yang tidak mengucap syukur meski dalam keadaan lancar. Apa alasannya? Sederhana, karena kulino, sudah biasa mendapatkannya sehingga ia lupa bahwa kelancaran itu datangnya dari Tuhan yang diberikan setiap detik.
Contohnya, ketika sebagian kota Surakarta dilanda banjir pada bulan Desember 2007, ada orang yang berkata demikian: “Syukurlah rumah kita tidak kebanjiran.” Satu sisi ia memang mengucap syukur, tapi sisi yang lain hal ini menunjukkan ketidakpekaan terhadap karya Tuhan dalam waktu baik-baik saja. Rumah tidak kebanjiran itu sudah bertahun-tahun dialaminya, dan ia tidak mensyukurinya. Ketika kebanjiran itu melanda, maka barulah ia bersyukur. Sudah kulino tidak kebanjiranlah yang membuatnya lupa bersyukur.
Berapa banyak di antara kita yang mengucap syukur karena kesehatan hari ini? Ilmu kedokteran menjelaskan bahwa kita hidup bersama dengan begitu banyak virus di sekitar kita. Mulai dari virus yang tidak berbahaya hingga yang paling berbahaya. Mungkin virus yang membuat kita sakit flu dianggap tidak berbahaya. Berapa banyak di antara kita yang bersyukur kalau hari ini kita tidak sedang terserang flu? Jangan lupa pula, ada bakteri TBC yang melayang-layang di sekitar kita dan siap merusak fungsi paru-paru kita. Tapi berapa banyak di antara kita yang bersyukur kalau hari ini paru-paru masih berfungsi dengan baik?
Ketika saya menunggu papa yang sedang sakit di rumah sakit, saya seringkali bertanya banyak hal kepada dokter-dokter di situ. Salah satu yang ditanyakan saya adalah soal antibodi (senjata pertahanan tubuh) kita. Sebelumnya dokter berkata bahwa infeksi yang ada di dalam tubuh papa susah ditangani. Dengan polos saya berkata, “Lho katanya sudah diberikan antibiotik?” Dokter itu lalu menjelaskan, “Antibiotik tidak cukup kuat melawan infeksi dalam tubuh. Antibodilah yang memiliki peranan utama untuk melawan penyakit. Dan sayangnya, antibodi papa makin lemah.” Ketika dokter menjelaskan hal itu, saya berdecak kagum dengan ciptaan Tuhan yang bernama antibodi. Berapa banyak di antara kita yang mensyukuri kekuatan antibodi yang membuat kita tidak sakit hingga saat ini?
Belajar bersyukur tidak selamanya bergantung pada lancar atau tidaknya kehidupan kita. Kepekaan terhadap setiap detail berkat Tuhanlah yang dapat memampukan kita untuk mengucap syukur. Kepekaan adalah cara pertama agar kita dapat bersyukur baik dalam keadaan senang ataupun susah. Ada satu lagu yang sering dinyanyikan di GKI: “Bila hidupmu dilanda topan b’rat, engkau putus asa hatimu penat. Berkatmu kau hitung satu per satu, k’lak kau tercengang melihat jumlahnya.” Hitung berkatmu satu per satu. Lagu ini mengajar kita untuk waspada terhadap yang namanya kulino menerima berkat; lagu ini mengajar kita untuk meningkatkan kepekaan terhadap setiap detail berkat Tuhan.

2. Pikirkan yang masih ada
Sebagian kita mungkin sudah rajin bersyukur dalam kondisi lancar, senang, baik-baik. Kita masih mengingat bahwa semua yang baik-baik itu berasal dari Tuhan. Tapi kadangkala kita masih mengalami kesulitan untuk bersyukur apabila menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan kita. Kenapa demikian? Karena kita terlalu berfokus pada apa yang terhilang. Kita memikirkan hal yang sudah tidak ada lagi pada kita. Kita terlalu menghitung jumlah kehilangannya.
Ada seorang pemuda yang baru putus cinta dengan pacarnya di mana pada waktu bersamaan ia juga kena PHK. Ia sangat putus asa. Ia senantiasa menghitung jumlah kehilangannya. Ia senantiasa berpikir, “Aku sekarang tidak punya pacar dan pekerjaan.” Akhirnya, karena terlalu berfokus pada apa yang tidak ada lagi pada dirinya, maka ia pulang ke rumah dengan satu tekad: bunuh diri.
Bila kita sedang mengalami situasi abnormal entah karena kehilangan seseorang, kehilangan harapan, kehilangan kesehatan, atau kehilangan sesuatu yang berharga, maka mari kita pikirkan hal-hal yang masih ada pada kita, hal-hal yang masih dapat kita lakukan, hal-hal yang masih dapat kita nikmati. Jangan pikirkan pada hal-hal yang defisit dalam kehidupan kita karena masih ada begitu banyak hal lain yang dapat kita kerjakan.
Seorang Kristen yang bernama Andreas Harefa bersaksi demikian: “Bila kesusahan hidup mendera, saya mengambil selembar kertas dan memaksa pikiran saya untuk menemukan sejumlah hal yang pantas saya syukuri dalam hidup. Saya mendaftarkan sejumlah prestasi dan penghargaan yang pernah saya raih; menambahkan sejumlah hal yang berhasil saya miliki; menuliskan semua tempat rekreasi dan kota-kota yang pernah saya kunjungi; mencatat satu per satu anggota tubuh saya yang sehat; buku-buku yang sempat saya baca; nama-nama orang yang pernah menolong saya atau yang pernah saya tolong; bahkan juga kesusahan-kesusahan yang pernah saya lalui; dan seterusnya. Dan sejauh ini harus saya akui, saya akhirnya sering tercengang melihat jumlahnya. Biasanya saya berhenti ketika daftar syukur saya mencapai angka seratus. Itulah yang saya coba praktikkan selama berpuluh tahun. Lalu saya merenung dan bertanya pada diri saya sendiri: tidak cukup banyakkah berkat Tuhan yang nyata-nyata telah saya terima dan saya alami dalam hidup saya? Lalu adilkah saya bila karena sebuah penderitaan saja, semua berkat Tuhan itu saya anggap tidak bernilai?” Bila kita sedang dalam masalah, pikirkanlah berkat-berkat Tuhan yang masih ada pada kita.

Beberapa contoh penerapannya, antara lain: Saya bersyukur . . .
1. Untuk istri yang masak makanan yang sama dengan malam kemarin . . . karena istriku di rumah dan tidak bersama orang lain.
2. Untuk suami yang malas-malasan di sofa, nonton tv, dan membaca koran . . . karena ia bersamaku di rumah dan tidak bersama doi yang lain.
3. Untuk anakku yang suka protes tentang makanan . . . karena ia memiliki indera perasa yang baik.
4. Untuk pajak yang saya bayar . . . karena artinya saya masih bekerja.
5. Untuk rumah yang berantakan . . . karena saya punya kesempatan untuk melayani anggota keluargaku.
6. Untuk cucian yang banyak . . . karena saya masih memiliki baju.
7. Untuk dompet yang kosong . . . karena saya bisa belajar beriman.
8. Untuk sakit yang aku alami . . . karena waktunya istirahat buat saya.
9. Untuk orang yang melukai hatiku . . . karena aku punya kesempatan untuk belajar mengampuni.
10. Untuk kehilangan orang yang kukasihi . . . karena aku bisa belajar tentang kesementaraan hidup.

Inilah contoh-contoh memikirkan hal-hal yang masih ada di tengah-tengah kehilangan kita. Silakan Anda melanjutkan deretan syukur di tengah-tengah masalah yang kita hadapi. Bila kita sulit memikirkan apa yang masih ada pada kita, mari kita simak tayangan yang diperankan oleh Ma Li dan Zhai Xiaowei. Selamat menonton. (You Tube: She without arm, he without leg: http://www.youtube.com/watch?v=LnLVRQCjh8c).
Coba bayangkan apabila kedua pemain balet itu senantiasa mengeluhkan kehilangan tangan dan kakinya? Saya yakin bila mereka berfokus dan tenggelam pada apa yang terhilang, maka mereka justru tidak dapat mengembangkan apa yang masih ada dan yang masih dapat dikerjakan mereka. Hari ini kita memang tidak kehilangan tangan dan kaki seperti mereka. Tapi saat ini kita mungkin merasa kehilangan harapan dalam masalah pernikahan, kehilangan harapan dalam masalah anak, kehilangan harapan dalam masalah pekerjaan, kehilangan harta, kehilangan seseorang yang dikasihi, kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu, kehilangan kesehatan. Apapun bentuk kehilangan itu, jangan fokuskan dan tenggelamkan diri pada apa yang terhilang. Tetapi temukan hal-hal indah lainnya, hal-hal yang masih dapat kita kerjakan, hal-hal yang masih ada pada kita.

Penutup
Sebagai penutup, saya ingin kembali menuturkan suatu kisah. Suatu pagi, kepala seorang anak terbentur sudut meja. Sakitnya bukan main. Ayahnya menghibur, “Syukur kepada Tuhan tidak sampai bocor. Lagipula itu bisa sembuh.” Anak itu menyahut, “Apakah jika bocor dan tidak dapat sembuh kita masih dapat bersyukur?” “Tentu,” jawab ayahnya. “Sekalipun kepalamu sampai bocor, dan engkau meninggal karena luka itu, kita masih bersyukur karena jiwamu selamat dalam Kristus.” Bila kita sudah berada di dalam Kristus, maka selalu saja ada alasan untuk dapat mengucap syukur. Baik suka maupun duka, baik sakit maupun sehat, baik kaya maupun miskin, selalu saja ada alasan untuk mengucap syukur. Sebab itu, tidak heran bila 1 Tesalonika 5: 18 berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal . . .” Amin.

Sabda Hidup

Rabu, 01 April  2015
HARI RABU DALAM PEKAN SUCI
warna liturgi Ungu
Bacaan:
Yes. 50:4-9a; Mzm. 69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat. 26:14-25. BcO Yer. 15:10-21

Matius 26:14-25:
14 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. 15 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. 16 Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. 17 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" 18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku." 19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. 20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. 21 Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." 22 Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?" 23 Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. 24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." 25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

Renungan:
Yudas menjual Yesus kepada para imam-imam kepala. Setelah mendapat uang dari mereka ia mencari waktu yang tepat untuk bisa menyerahkan Yesus. Uang menjadi daya tarik yang kuat bagi Yudas sehingga ia tega menjual gurunya.
Ada yang mengatakan, "Uang memang bukan segala-galanya, tapi kok nampaknya segala-galanya butuh uang." Apa-apa selalu membutuhkan uang. Ngurus A, B, C dst selalu perlu uang. Tanpa uang kok kayaknya tak berjalan. Dan uang itu pun, sekalipun dari orang miskin, jatuhnya pada mereka yang ber-uang. Dan yang lebih parah lagi mereka yang ber-uang seringkali tergoda untuk rakus memiliki lebih banyak. Kerakusan itulah yang seringkali membawa mereka tinggal di jeruji besi.
Kita mesti lebih waspada dengan godaan uang. Kekuatannya bisa mendorong kita menjadi orang yang rakus dan bahkan tega terhadap sesama. Yudas karena uang tega menjual Gurunya.

Kontemplasi: 
Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan godaan uang bagimu. Usahakan engkau menjaga diri agar tidak jatuh dalam godaan itu.

Refleksi:
Apa yang akan kaulakukan kala menghadapi godaan uang?

Doa:
Tuhan, semoga aku mempunyai ketahanan terhadap godaan uang dan tidak jatuh seperti Yudas Iskariot. Semoga aku pun tidak menjual Engkau demi kepentinganku sendiri. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjaga diri dari kemungkinan "menjual" Yesus. -nasp-

Lamunan Pekan Suci

Rabu, 1 April 2015

Matius 26:14-25

26:14. Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.
26:15 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
26:16 Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
26:17. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
26:18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
26:20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
26:21 Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
26:22 Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?"
26:23 Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.
26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."
26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di era global orang memang dituntut mencari nafkah sendiri dan berjuang untuk tidak tergantung pada orang lain. Uang memang penting untuk memenuhi paling tidak kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.
  • Tampaknya, di era global orang memang harus mengembangkan diri berkemampuan wirausaha karena kalau hanya ingin jadi karyawan kemungkinan menjadi penganggur akan besar sekali. Modal wirausaha berupa jasa pun dapat menjadi andalan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa segigih apapun usaha mandiri bekerja mendapatkan uang, hal ini tidak akan menjadi keutamaan seseorang apabila yang dilakukan justru jadi kerakusan bahkan mengorbankan orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam kerja apapun orang akan menempatkannya sebagai jalan untuk menjunjung tinggi martabat manusia.
Ah, jaman kini apapun bentuknya asal jadi peluang mendapatkan uang jalani saja.

Monday, March 30, 2015

Terobsesi Bahagiakan Lansia

Senin, 02 Maret 2015 | 12:12 dalam http://www.beritasatu.com
      Peters M Simanjuntak
Peters M Simanjuntak, Pendiri dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Senior Living Indonesia.
Peters M Simanjuntak, Pendiri dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Senior Living Indonesia. (sumber: Istimewa) 
Membahagiakan para orang lanjut usia (lansia) menjadi obsesi Peters M Simanjuntak. Lewat Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI) yang didirikannya, Peters memperjuangkan agar pemerintah, swasta, dan masyarakat, lebih peduli pada kebutuhan orang lanjut usia (lansia) demi peningkatan kualitas hidupnya.

“Saya prihatin saja dengan kenyataan bahwa para orang tua kerja keras cari uang untuk anaknya dan warisan jadi milik anaknya saat dia sudah meninggal. Sementara itu, dia sendiri enggak memikirkan dirinya. Padahal ketika sudah tua, dia butuh perhatian, anak-anak malah sibuk enggak ada yang memperhatikan, bahkan untuk ngobrol,” kata Peters di Jakarta, baru-baru ini.

Hal itu juga terjadi pada ibunya yang kini telah berusia lebih dari 70 tahun. “Saya sendiri jarang ketemu ibu. Paling ketemunya pagi hari saja. Padahal, ibu saya kan juga ingin ngobrol dengan saya, ingin didengarkan, dan diperhatikan. Perhatian itu yang sangat dibutuhkan orang tua,” tegas lelaki kelahiran Siantar, Sumatera Utara, tahun 1955 ini.

Peters menjelaskan, ada banyak yang menjadi kebutuhan para lansia. Selain butuh diperhatikan, didengarkan, dan diajak mengobrol, lansia juga butuh kemerdekaan, butuh perawat khusus (caregiver) yang ahli merawat dan melayani orang tua, dan yang terkadang dilupakan adalah butuh aktivitas dan kegiatan yang menjadi minat mereka.

“Orang tua itu butuh kemerdekaan, tetapi tetap harus ada yang mengawasi dan melayani kebutuhannya. Jangan sampai mereka jatuh dan celaka. Biarkan mereka melakukan aktivitas yang menyenangkan. Mungkin menyanyi, dansa, nonton film, dan lain-lain, supaya mereka bahagia dan tidak pikun,” tutur lelaki yang hobi karaoke di rumah bersama keluarganya ini.

"Caregiver" 

Merasa tak mampu memberikan perhatian lebih lewat kehadiran fisik bagi ibunda tercinta, Peters pun akhirnya menginisiasi pendirian Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI) yang resmi dibentuk pada September 2014.

“Organisasi ini mewadahi perusahaan-perusahaan yang menyediakan segala kebutuhan untuk para lansia, mulai dari perusahaan penyedia personal care assistant, rumah sakit, senior residence, asuransi, dan lain-lain,” jelas Peters, pemilik RS Ichsan Medical Center (IMC) Bintaro, Tangerang, Banten ini.

Sampai saat ini ASLI masih terus melakukan edukasi kepada pemerintah, swasta, dan masyarakat, tentang para lansia yang memiliki kebutuhan khusus dan mendesak. “Kami ingin menyadarkan pemerintah bahwa harus ada tanggung jawab kepada lansia. Para lansia itu memiliki andil besar kepada negara lewat pajak yang mereka bayar selama ini,” tegas Peters yang juga direktur PT Komet Konsorsium, perusahaan penyedia dan penyewaan menara telekomunikasi.

Peters berharap, selain berbagai fasilitas fisik yang mengakomodasi kebutuhan para lansia, pemerintah seharusnya banyak membuat program untuk lansia. “Pemerintah bisa membuat program-program, seperti senam jantung bersama, menyediakan volunteer yang secara legal dilindungi pemerintah, menyediakan pengobatan gratis untuk lansia, dan lain-lain,” ujarnya.

Sebelumnya, Peters memang sudah memiliki bisnis yang targetnya memenuhi kebutuhan para lansia. Lewat GIM Care Service, Peters membuat lembaga pendidikan yang melatih para perawat khusus untuk orang tua (caregiver).

“Populasi lansia saat ini sudah sama dengan balita. Pada 2020, jumlah populasi lansia akan lebih banyak dibanding anak-anak dan mereka butuh caregiver yang mengerti bagaimana mengurus dan mengerti psikologi orang tua,” kata Peters yang memiliki filosofi hidup untuk selalu bersyukur.
Saat ini, GIM Care Service baru menyediakan pendidikan setara dengan kursus beberapa bulan saja. Ke depan, GIM Care Service akan membuka pendidikan caregiver setingkat D1 dan D3. Tenaga lulusannya, selain dibutuhkan di rumah yang memiliki lansia, juga dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit.

“Selain di dalam negeri, tenaga caregiver Indonesia juga sangat dibutuhkan di Jepang dan Singapura yang saat ini populasi lansianya sudah lebih tinggi dibandingkan anak-anak,” katanya.

Pada Mei 2015, GIM Care Service juga akan meluncurkan Club Lansia atau Daycare Lansia di daerah Kebayoran Arcade, Bintaro. Kegiatan daycare lansia terdiri atas kegiatan harian, seperti senam, pemeriksaan kesehatan teratur, makan bersama, dan menyanyi bersama.

“Sementara itu, kegiatan mingguan bisa dalam bentuk menonton film bersama di dalam gedung dan kegiatan bulanan, seperti menonton film bersama ke bioskop, jalan-jalan, dan lain-lain,” tandas Peters.

Penulis: Mardiana Makmun/AB
Sumber:Investor Daily