Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, February 8, 2016

Sabda Hidup



Selasa, 09 Februari 2016
Hari Biasa
warna liturgi Hijau 
Bacaan
1Raj. 8:22-23,27-30; Mzm. 84:3,4,5,10,11; Mrk. 7:1-13. BcO 1Kor. 1:18-31

Markus 7:1-13: 
1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. 2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. 3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; 4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. 5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" 6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. 8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." 9 Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. 10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. 11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, 12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. 13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."

Renungan:
Pada waktu kecil orang tua selalu melarang kita duduk di atas bantal. Alasannya hanya ora "ilok" (tidak pantas). Kita juga dilarang duduk di pintu rumah kala hujan. Ada banyak larangan tanpa penjelasan yang berarti. Turun temurun larangan tersebut kita wariskan pada keturunan kita.
Orang Yahudi juga mempunyai tradisi. "tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya" (Mrk 7:3-4). Mungkin salah satu alasannya adalah kebersihan demi kesehatan. Setelah bepergian atau ke pasar mereka kotor, maka perlu dibersihkan dulu. Namun kala melihat para murid makan tanpa bersih-bersih dulu mereka mempertanyakan tindakan tersebut tanpa melihat alasannya. Tindakan itu dipandang melanggar adat.
Untuk saat ini rasanya tidak mudah melarang seorang anak tanpa alasan yang jelas. Kalau mereka nurut bukan karena patuh tapi lebih untuk menghindari suara. Sebaliknya kalau alasannya jelas, seorang anak tanpa diperintah sekalipun akan melakukan yang kita ingini. Rasanya layak kalau kita tidak sekedar melarang. Kita perlu selalu mencari alasan yang tepat dan berdaya.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu ketika memberikan larangan kepada anak-anakmu.

Refleksi:
Bagaimana menemukan cara bicara yang tepat dan berdaya?

Doa:
Tuhan semoga aku mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesamaku. Semoga bukan hanya larangan yang kusampaikan tapi keutuhan alasan yang bisa diterima. Amin.

Perutusan:
Aku akan mencari kata-kata yang tepat dan berdaya. -nasp-

APP 2016 Bahasa Indonesia – KAS
http://www.kas.or.id/index.php/2016/02/07/app-2016-bahasa-indonesia/

Lamunan Pekan Biasa V

Selasa, 9 Februari 2016

Markus 7:1-13

7:1. Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”
7:6 Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
7:9 Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! Dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.
7:11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban—yaitu persembahan kepada Allah--,
7:12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.
7:13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, setiap agama selalu memiliki tradisi keluhuran hidup. Disebut tradisi karena disampaikan turun temurun dari generasi ke generasi.
  • Tampaknya, tradisi keagamaan banyak dimengerti sebagai bentuk-bentuk tindakan untuk mengungkapkan kedalaman rohani. Bentuk-bentuk itu dijaga pelaksanaannya dengan disiplin tatacara dan waktunya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata seindah apapun bentuknya dan setepat apapun pelaksanaan tradisi, bagi orang yang biasa bergaul dengan kedalaman batin itu dapat jadi kesia-siaan karena kesejatian tradisi keagamaaan terutama adalah nilai-nilai ketundukan rohani yang menghadirkan kebaikan umum dan bentuk tindakannya sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya setempat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengutamakan hati mulia sebagai warisan hidup agama yang dianutnya.
Ah, beragama itu yang kesediaan tunduk melaksanakan bentuk-bentuk yang diwariskan dari masa lampau.

Semua orang yang menjamah jumbai jubah-Nya saja menjadi sembuh


Orang menjadi tua dan sakit-sakitan tentu mengharapkan kesembuhan dan kekuatan. Yesus adalah Sang Penyembuh. Semua kesembuhan kita berasal dari Tuhan Yesus. Maka kita temui kita jamah Yesus Sang Penyembuh sejati. Dengan penuh iman dan harapan kita serahkan segala keringkihan badan kita, agar diberi kesembuhan dan kekuatan. Dengan iman dan harapan yang sama mungkin kita juga dipanggil untuk menyembuhkan dan menguatkan orang lain yang sedang mengalami keringkihan. Maka marilah kita bersedia untuk di sembuhkan dan menyembuhkan, berkat rahmat Tuhan.

Sunday, February 7, 2016

HUT IMAMAT


Ruang pertemuan Barnabas di kompleks Domus Pacis pada Jumat 5 Februari 2016 tampak lain. Kursi di tata rapi baik di bagian bawah maupun atas sisi utara. Meja panjang dengan taplak putih menunjukkan adanya altar. Lilin besar bertengger di atasnya. Sementara itu ada tiga karangan bunga hasil karya Bu Joko dari Gancahan, Godean, amat apik memberikan suasana asri. Pada hari itu Komunitas Rama Domus Pacis memang sedang punya hajat Misa Syukur Ulang Tahun Imamat. Ada 3 orang anggota yang dirayakan: 1) Rm. Hantoro yang ditahbiskan pada 5 Februari 1973 ulang tahun ke 43; 2) Rm. Harto yang ditahbiskan pada 25 Januari 1984 ulang tahun ke 32; 3) Rm. Bambang yang ditahbiskan pada 22 Januari 1981 ulang tahun ke 35. Sebagaimana biasa umat yang diundang berasal dari Lingkungan Fransiskus Asisi Puren, para anggota kelompok masak untuk Domus, relawan-relawati Domus yang lain, anggota keluarga yang dirayakan, dan kelompok kor.

Pada hari itu ternyata mulai dengan jam 15.00 hujan sudah turun dan makin lama makin lebat. Bahkan pada jam 16.30 curah air amat lebat. Meskipun demikian, ada saja tamu yang berdatangan baik dengan mantol maupun payung menempuh kelebatan hujan. Tentu saja para anggota kor yang dipimpin oleh Pak Loly dari Nologaten sudah siap pada jam 16.45 dan bahkan melakukan latihan lagu baru mereka. Sedianya misa memang direncanakan mulai pada jam 17.00. Tetapi karena keadaan hujan sehingga kursi yang tersedia baru terisi tamu belum separo, maka ada pengunduran. Meskipun demikian pada jam 17.15 sebagian besar kursi sudah ada yang menduduki. Rm. Agoeng tampil membuka acara. Beliau menyampaikan beberapa ujub. Ketika ujub-ujub diucapkan ada yang membuat terhenyak tetapi juga ada yang membuat tertawa. Ujub-ujub itu adalah: 1) Ulang tahun imamat; 2) Perpisahan dengan Rm. Hantoro yang harus pindah ke Paroki Katedral Semarang karena harus menjalankan tugas yang ditinggalkan rama pembantunya yang harus membantu Paroki Sumber; 3) Legalisasi Rm. Bambang sebagai penghuni Domus karena sejak 30 Januari 2016 sudah berusia 65 tahun sehingga berhak uang pensiun di samping uang saku bulanan.

Misa yang dipimpin oleh Rm. Hantoro didampingi Rm. Harto dan Rm. Bambang dimulai dalam suasana hujan lebat bahkan hingga tamu pulang belum reda sekalipun sudah tidak lebat. Rm. Yadi, Rm. Tri Hartono dan Rm. Agoeng duduk tersebar bersama para tamu. Ternyata suasana hujan tidak menghalangi suasana gembira sehingga, ketika para tamu menikmati hidangan makan sesudah misa, Bu Indah dari Sendowo, Paroki Kotabaru, tampil menyanyikan lagu-lagu diiringi oleh Pak Loly. Perayaan Ekaristi yang terasa segar mendapatkan keceriaan khusus ketika ketiga rama menyampaikan sharingnya yang sering saling disela. Kegembiraan para tamu juga diketahui dalam SMS untuk Rm. Bambang dari Bu Kustini salah satu anggota kelompok masak pada 6 Februari jam 09.53 yang berbunyi "Wah gayeng. Kula crios semah. Asmane susilo. Jing badhe sowan. Temu kangen Rm. Tri lan rama sedaya he he he" (Wah tadi malam meriah menggembirakan. Saya berceritera pada suami saya, yang bernama Susilo. Besok ingin kunjungan sekalian temu rindu dengan Rm. Tri Hartono dan semua rama he he he). Isi pokok sharing ketiga rama itu adalah sebagai berikut:
  • Rama Hantoro: Selama menjadi imam, baru kali ini dirayakan dan dipestakan oleh komunitas. Biasanya dalam hari ulang tahun imamat mendapatkan tugas yang harus dijalankan. Pernah pada saat ultah imamat mendapatkan tugas dari Uskup berkeliling ke keuskupan-keuskupan lain untuk memohon uskup-uskupnya menumbuhkembangkan imam praja.
  • Rama Harto: Dalam hidup imamatnya selalu merasakan perlindungan dari Tuhan. Ada dua pengalaman yang disharingkan. Beliau baru saja mengalami kondisi fisik merosot sehingga hilang kesadaran. Dibawa oleh Rm. Agung ke RS Panti Rapih tidak tahu. Ternyata kekurangan garam karena banyak keringat keluar akibat badan selalu bergerak. Beliau memang menderita tremor. Pengalaman lain ketika masih ada di paroki Sedayu pernah didatangi Dulmatin (salah satu teroris bom Bali?). Beliau kemudian diboncengkan melihat lingkungan-lingkungan wilayah Gerejawi (ke Pelem Dukuh?). Tetapi Pak Mul dari Nanggulan ternyata selalu menguntit sehingga diselamatkan. 
  • Rama Bambang: Di Domus Pacis sebetulnya mencari enak dalam arti bebas dari disiplin-disiplin aturan rumah. Namun, karena kerap diajak berpikir oleh Rm. Agoeng, dia ikut mempedulikan komunitas Domus. Rm. Agoeng dengan melatih kemampuan alat elektronik digital membuatnya memiliki hidup yang ada maknanya di Domus. Dia dapat ambil bagian membangun jaringan dengan warga jemaat (relawan masak, sopir, pemerhati bangunan dsb.) demi kesejahteraan dan rasa aman para rama Domus.

Lamunan Pekan Biasa V

Senin, 8 Februari 2016

Markus 6:53-56

6:53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.
6:54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.
6:55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.
6:56 Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, sebenarnya tidak ada orang yang tidak ingin hidup dalam keadaan baik. Orang ingin mengalami kelimpahan kebaikan.
  • Tampaknya, untuk menghasilkan kebaikan orang dapat berjuang untuk melakukan banyak tindakan. Banyak tindakan luhur akan membuat orang menjadi amat baik.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa bagi yang biasa lekat dengan kedalaman batin akan mengalami kebaikan sejati yang tidak membutuhkan tenaga besar untuk menguasainya tetapi tindakan sekecil apapun asal menyentuh yang diyakini baik sudah membuat orang mengalami segala keadaan baik. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan membiasakan diri berpegang pada kebaikan sekalipun hanya lewat sebuah tindakan kecil.
Ah, menjadi baik itu butuh latihan dengan proses panjang.

Sabda Hidup


Senin, 08 Februari 2016
Hieronimus Emilianus, Yosefaina Bakhita
warna liturgi Hijau
Bacaan
1Raj. 8:1-7,9-13; Mzm. 132:6-7,8-10; Mrk. 6:53-56. BcO Kej. 41:1-15,25-43

Markus 6:53-56: 
53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. 54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. 55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. 56 Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Renungan:
Seorang bapak bercerita padaku. Katanya, banyak umat yang disembuhkan oleh ramanya. Simbah-simbah yang terus merasa pusing ketika didatangi ramanya jadi sembuh. Setiap kali selesai misa, banyak orang datang dan meminta diobati dari sakitnya. Makin hari makin banyak orang ingin diobati.
Banyak orang pun selalu membawa saudara atau tetangga mereka yang sakit kepada Yesus. "Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada" (Mrk 6:54-55). Namun meski demikian Yesus tidak pernah berhenti untuk berdoa kepada BapaNya.
Siapa pun dari kita mungkin pada saat tertentu diijinkan untuk menghadirkan kesembuhan. Memang ada orang-orang yang secara khusus diberi rahmat penyembuhan itu. Namun demikian kita tidak pernah boleh lupa bahwa semua itu karena rahmatNya. Maka siapa pun dari kita yang mampu menghadirkan kesembuhan rasanya tidak boleh merasa bahwa itu karena kita mampu. Kita selalu merasa bahwa itu adalah karya Allah. Allah yang memilih kita. Maka layak kalau kita selalu menjaga relasi yang intim denganNya.

Kontemplasi:
Bayangkan orang-orang datang kepada Yesus dan membawa orang-orang sakit untuk disembuhkan. Hadirkan pula bagaimana Yesus membawa semua itu dalam kesatuan relasi dengan Bapa.

Refleksi:
Bagaimana menjaga agar menyadari bahwa kemampuan kita adalah rahmat Allah?

Doa:
Bapa, jagailah aku untuk selalu dekat denganMu. Semua yang kulakukan tidak lepas dari rahmatMu. Semoga aku tetap rendah hati. Amin.

Perutusan:
Aku akan selalu menyadari karena rahmatNya aku mampu melakukan sesuatu. -nasp-

Saturday, February 6, 2016

Stres pada Lanjut Usia

  diambil dari https://www.deherba.com


Setiap orang pasti pernah merasakan stres dengan penyebab yang beraneka ragam. Stres disebut normal apabila stres tidak sampai memengaruhi kehidupan seseorang secara signifikan.

Stres sebenarnya merupakan proses alamiah tubuh dalam merespon keadaan/lingkungan sekitar. Namun, stres patut menjadi perhatian serius ketika kehidupan seseorang terganggu seperti hilangnya nafsu makan, keadaan tubuh yang menggigil seperti orang kedinginan hebat, dan banyak lagi.
Stres merupakan kondisi ketegangan yang sangat memengaruhi tingkat emosi, proses pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Dalam kondisi tertentu, stres malah bisa menimbulkan dampak negatif seperti tekanan darah tinggi, pusing, sedih, sulit berkonsentrasi, tidak bisa tidur seperti biasanya, terlampau sensitif, depresi, dan lainnya.

Jika sudah memengaruhi kehidupan seperti itu, maka harus segera dikonsultasikan dengan dokter atau psikiater. Dalam artikel kali ini yang akan lebih ditonjolkan ialah tingkat stres yang dialami oleh para lanjut usia (lansia) karena biasanya orang yang telah memasuki kelompok umur lansia sangat rentan terhadap stres.

Stres pada lansia

Gejala stres yang biasanya timbul pada para lansia juga tak main-main dampaknya seperti stroke, jantung koroner, darah tinggi, ketakutan yang berlebihan, menangis, daya ingat yang menurun tajam, mudah dipengaruhi oleh orang lain, dan bahkan bisa menarik dirinya dari pergaulan.

Kondisi stres pada para lansia tersebut bisa diartikan dengan kondisi yang tak seimbang, adanya tekanan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang biasanya tercipta ketika lansia tersebut melihat ketidaksepadanan antara keadaan dan sistem sumber daya biologis, psikologis, dan juga sosial yang erat kaitannya dengan respon terhadap ancaman dan bahaya yang dihadapi pada lanjut usia.

Para lansia juga sangat rentan terhadap gangguan stres karena secara alamiah mereka telah mengalami penurunan kemampuan dalam mempertahankan hidup, menyesuaikan diri dengan lingkungannya, fungsi badan, dan kejiwaan secara alami. Banyak faktor yang memengaruhi keadaan stres pada lansia ini. Mari kita cermati satu per satu.

Kondisi Kesehatan Fisik

Para lansia secara alami akan mengalami perubahan struktur dan fisiologis seperti penurunan penglihatan, penurunan sistem pernapasan, penurunan tingkat pendengaran, dan juga penurunan pada persendian serta tulang.
Kondisi tersebut akan sangat berpengaruh pada ketahanan tubuh para lansia. Penurunan kondisi fisiologis akan membuat mereka membutuhkan bantuan orang lain sekalipun untuk menyelesaikan pekerjaan yang dulunya ia sanggup selesaikan sendiri.
Keadaan yang ia rasakan sebagai membebani orang lain itulah yang juga bisa menjadi sumber stres. Lansia yang sangat rentan terkena stres ialah lansia dengan penyakit degeneratif, lansia dengan keluhan somatik kronis, lansia dengan imobilisasi berkepanjangan serta lansia yang mengalami isolasi sosial.

Kondisi Psikologi

Dalam konteks ini, faktor non-fisik lebih berperan signifikan dalam memengaruhi tingkat stres pada lansia seperti sifat, kepribadian, cara pandang, dan juga tingkat pendidikannya.
Lansia yang senantiasa memiliki cara pandang positif disinyalir akan menyelesaikan masalah dengan pendekatan yang positif pula. Lansia yang selalu menyikapi masalah dengan positif, segala tekanan hidupnya akan dianggap kecil dan akhirnya bisa menekan stres.

Keluarga

Faktor keluarga juga sangat berperan besar dalam kejadian stres para lansia. Keadaan seperti adanya konflik internal keluarga atau merasa menjadi beban keluarga akan menjadi pemicu utama keadaan stres lansia. Sebenarnya, dukungan keluarga sangat berperan signifikan untuk menjauhkan stres pada lansia.

Lingkungan

Stres pada lansia juga bisa dipicu oleh adanya relasi sosial atau kondisi lingkungannya yang buruk. Kondisi lingkungan seperi macet, kepadatan, bising, dan kumuh bisa menjadi pemicu stres bagi para lansia.
Kondisi lingkungan yang buruk tersebut akan berdampak pada ketidaknyamanan hidupnya yang terakumulasi setiap hari sehingga lama-kelamaan bisa membuat dirinya stres.

Tips Mengatasi Stres Lansia

Kalau Anda atau ada keluarga yang telah lansia dan sedang mengalami stres maka lakukanlah hal berikut ini untuk meminimalisir bahkan membunuh stres tersebut.
  • Olahraga
    Berolahraga bukan hanya menyehatkan tubuh, namun juga sangat baik dan membantu untuk menghilangkan stres pada lansia. Berolahraga sangat bermanfaat untuk memobilisasi otot-otot, mempercepat aliran darah, dan membuka paru-paru untuk mengambil lebih banyak oksigen. Olahraga yang dimaksud tentu disesuaikan dengan kemampuan para lansia seperti jogging, jalan kaki, dan lainnya.
  • Minum air putih
    Bagi lansia yang stres sangat dianjurkan untuk banyak meminum air putih karena dengan banyak minum maka kondisi tubuh akan segar dan terhindar dari kehilangan cairan. Kondisi keletihan yang bisa memicu stres juga bisa diatasi dengan banyak minum air putih.
  • Hobi
    Untuk menghilangkan stres, para lansia juga bisa melakukan hobi seperti memancing, melukis, menulis, dan sebagainya. Melakukan hobi bisa mengingatkan pada kenangan indah di masa muda dulu sehingga sangat mujarab untuk mengobati stres.
  • Meditasi
    Banyak para pakar kesehatan yang menyatakan bahwa instrumen untuk menghilangkan stres ialah dengan banyak melakukan meditasi. Meditasi dimaksudkan untuk membersihkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi. Para lansia daripada banyak waktunya dihabiskan untuk bengong atau memikirkan hal-hal negatif lebih baik banyak bermeditasi, mendekatkan diri kepada Tuhan.
Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para lansia untuk menghindarkan dirinya dari stres. Proses penambahan usia merupakan proses alamiah yang tak mungkin bisa dihindari.

Namun, stres yang banyak menyerang para lansia bukan mustahil tak bisa dihindari karena sangat tergantung dari perilaku dan kebiasaan setiap orang.

Bagi Anda atau keluarga Anda yang telah menginjak lansia, melakukan tips-tips di atas untuk mencegah tingkat stres sangat dianjurkan sehingga berdampak pada kualitas hidup yang terjaga.