Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, July 6, 2014

Sabda Hidup

Senin, 07  Juli 2014
Maria Romero Meneses
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Hos. 2:13,14b-15,18-19; Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 9:18-26. BcO Ams. 3:1-20.

Matius 9:18-26:
18 Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." 19 Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. 20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. 21 Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. 23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, 24 berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. 25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. 26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Renungan:
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, walau mungkin hanya sekedar masuk angin. Saat sakit itu datang segala sesuatu terasa tidak nyaman. Udara segar terasa gerah. Makanan enak pun terasa pahit dan hambar. Semua terasa tidak nyaman.
Si ibu dalam Injil mengalami pendarahan selama 12 th. Saya membayangkan selama kurun waktu itu dia sudah berusaha kesana kemari untuk mendapatkan kesembuhan. Ada masa-masa penuh harap, ada pula masa-masa putus asa. Ketika mendengar tentang Yesus harapannya menguat. Ia pun berusaha menemuiNya. Namun karena posisinya ia tidak bisa langsung bertatap muka dengan Yesus. Walau demikian harapannya tak pupus. Ia datangi Yesus dan menyentuh jumbai jubahNya. "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh" (Mat 9:21). Harapan dan keyakinan si ibu menggerakkan kuasa Yesus untuk menyembuhkannya. "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" (Mat 9:22).
Dalam situasi apapun, khususnya dalam kondisi lemah, marilah kita menguatkan harapan kita pada Yesus. Harapan yang kuat kepadaNya akan menghadirkan karya kehidupan yang melebihi harapan kita.
 
Kontemplasi:

Duduklah di suatu tempat yang sangat tidak nyaman bagimu. Pejamkan matamu, rasakan dan nikmati ketidaknyamanan tersebut sampai anda merasa biasa berada di tempat tersebut.

Refleksi:
Bagaimana membangun harapan di situasi yang melelahkan dan bisa membuat putus asa?

Doa:
Tuhan, semoga aku mempunyai iman dan harapan si ibu yang Kausembuhkan karena memegang jumbai jubahMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjaga harapanku kepada Yesus.

0 comments:

Post a Comment