Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, January 9, 2015

Pesta Pembaptisan Yesus, Minggu, 11 Januari 2015




By on Jendela Alkitab, Mingguan dalam http://www.mirifica.net
 

Rekan-rekan yang baik!

Dikisahkan dalam Injil Markus 1:7-11 peristiwa Yesus menerima baptisan. Peristiwa ini juga diceritakan oleh Matius (Mat 3:13-17) dan Lukas (Luk 3:21-22) dengan penekanan yang berbeda-beda. Secara tak langsung juga Injil Yohanes (Yoh 1:32-34) merujuk pada peristiwa itu. Seperti orang banyak, Yesus datang mengikuti seruan Yohanes Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat, sebagai tanda menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi kehadiran Yang Ilahi sendiri. Dalam baptisan itu terjadi sesuatu yang khas pada Yesus. Inilah yang disampaikan Injil. Khusus bagi perayaan tahun ini, baiklah Injil Markus dibaca dengan latar kedua bacaan yang mendahuluinya, yakni Yes 55:1-11 dan pada akhir tulisan ini juga dengan bacaan kedua (1Yoh 5:1-9).

PENYEGARAN BATIN

Dari bacaan pertama (Yes 55:1-11) kita dengar mengenai Tuhan yang memperhatikan umat-Nya yang kehausan di tengah jalan. Air, penyangga hidup, diberikan dengan cuma-cuma, gratis, sebagai rahmat supaya mereka dapat pulang dari pembuangan. Pemberian sederhana ini baru permulaan. Kebaikan lain dijanjikan: makanan, tempat tinggal, kebutuhan hidup, dan baru setelah itu hal-hal yang menyangkut hidup rohani: kehidupan agama (“Perjanjian”), pertobatan , kemampuan mendengar sabda ilahi.

Air yang dipakai dalam baptisan di Yordan mengingatkan betapa dekatnya Tuhan kepada umat yang mau datang kembali kepada-Nya. Pembaptisan yang dijalankan Yohanes menjadi ungkapan manusia mau mendekat kembali kepada-Nya. Namun demikian, disadari pula betapa kehidupan umat mudah mengering. Hukum-hukum agama dapat mengurangi kemerdekaan dan menjadi beban. Kehidupan batin bisa jadi layu. Air tidak bakal cukup menghidupkan kembali batin yang telah kering. Butuh kekuatan dari atas sendiri. Butuh Roh yang bergerak di atas air seperti dalam penciptaan. Kita ingat, pada saat itulah Tuhan bersabda memfirmankan kehidupan. Itulah yang disadari Yohanes Pembaptis.
Yohanes Pembaptis bukan sebarang tokoh. Dalam ingatan orang, dia itu orang suci yang mempesona. Orang-orang datang kepadanya meminta nasihat, mencari kejernihan batin di tempat ia tinggal, yaitu di padang gurun yang kersang. Di situ ia mencurahkan air pertobatan dalam kehidupan yang mulai mengering. Mereka datang kepadanya minta dibaptis (ay. 4-5) agar siap mendapat pengampunan dosa. Dalam gambaran orang, Yohanes itu seorang nabi (ay. 6) dan utusan Tuhan yang datang “mendahului” dan “mempersiapkan jalan” bagi-Nya (ay. 2b; hasil paduan Kel 23:20 dan Mal 3:1). Dia adalah orang yang berseru-seru di padang gurun, tempat kersang, meminta agar dipersiapkan jalan bagi Tuhan yang mendatangi umat-Nya.

Tetapi tokoh yang sedemikian besar ini mengaku, dirinya hanya pewarta kedatangan dia yang lebih berkuasa (ay. 7). Orang tentu bertanya-tanya, siapakah dia itu. Yohanes malah menambahkan, bahwa membungkuk untuk melepaskan tali sandal orang yang sedang diwartakannya itu saja ia merasa kurang pantas. Siapa gerangan dia itu? Membungkuk melepaskan tali sepatu bukan hanya berarti penghormatan kepada orang yang dihadapi. Ada pula arti yuridisnya. Dalam Rut 4:7 dijelaskan kebiasaan di masa lampau, “…di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sebuah perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mengesahkan perkara di negeri itu.” (Transaksi yang disahkan ialah pengalihan hak membeli tanah milik keluarga Naomi dari sanak lelaki terdekat kepada Boas, yang kemudian mengurus kedua perempuan itu.) Dengan latar belakang kebiasaan tadi, maka jelas kata-kata Yohanes Pembaptis bukan sekedar basa-basi melainkan pengakuan bahwa dirinya tidak layak mengambil alih yang jadi hak Yesus, yaitu membawakan baptisan dalam Roh Kudus serta mendekatkan kembali keilahian kepada manusia secara penuh. Yohanes berkata (Mrk 1:8) bahwa yang dijalankannya ialah membaptis dengan air. Itu dilakukannya untuk menyadarkan orang. Tetapi untuk sungguh dapat membawakan yang di atas sana kepada manusia? Ah itu hak dia yang lebih berkuasa yang bakal datang, yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

IKUT DIBAPTIS

Seperti dicatat Markus, tampillah tokoh yang diwartakan Yohanes. Anehnya, ia tidak seperti yang barusan dikatakan Yohanes, yakni membaptis orang dengan Roh Kudus, tapi malah minta dibaptis oleh Yohanes! Dan segera sesudah ia dibaptis, Yesus dikatakan melihat langit terbelah, Roh Kudus turun, dan terdengar suara yang mengatakan kepadanya bahwa ia Putra terkasih yang mendapat perkenan dari atas. Bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak oleh Yohanes, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan-kekuatan ilahi bersama sang Putra terkasih untuk menyertai perjalanan umat yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi. Yesus ini orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran ilahi sendiri sehingga menurut kata-kata Markus, “Ia melihat” langit terbuka dan Roh Allah turun kepadanya seperti burung merpati, artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam ujud yang lembut. Dalam menceritakan peristiwa yang sama, Lukas menambahkan bahwa Yesus “sedang berdoa ….” Baik Markus maupun Lukas, kedua-duanya menekankan pengalaman batin Yesus disapa sebagai anak terkasih oleh Dia yang di langit yang kini tidak lagi tertutup. Ditekankan pula bahwa pengalaman itu dimungkinkan oleh Roh Kudus yang disebut turun ke atas Yesus. Pengalaman batin ini kemudian menjadi kekuatannya.

Peristiwa langit terbelah dan pernyataan dari langit itu juga boleh kita pahami sebagai Tuhan yang menerima baik persembahan, hadiah, kado dari manusia. Nanti ungkapan yang sama juga akan diperdengarkan ketika Yesus menampakkan kemuliaannya di gunung. Di situ Tuhan mengatakan Diri-Nya berkenan kepada Yesus. Kemudian pada saat-saat terakhir di salib ketika Yesus menyuarakan “sudah terlaksana” (Yoh 19:30, bdk. Mrk 15:37// Mat 27:50//Luk 23,46) dan menyerahkan nyawanya, Tuhan kembali menerobos ke dunia manusia (Tirai Bait terbelah Mrk 15:38//Mat 27:51// Luk 23:45) dan memungutnya sebagai bingkisan yang berkenan kepadanya. Bingkisan ini merujukkan kembali kemanusiaan yang seburuk apapun dengan Tuhan yang Maha Besar itu.

WARTA BAGI ZAMAN  INI

Yesus datang seperti orang banyak untuk menerima baptisan tobat. Bukan hanya kesediaannya memberi ruang gerak bagi Roh Allah yang menjadi nyata, melainkan juga kehadiran kekuatan ilahi sendiri. Kemauannya berbagi kehidupan dengan orang banyak, kesediaannya ikut merasakan kegelisahan dan kerisauan orang banyak dalam menantikan kedatangan yang dijanjikan, itulah yang membuatnya dipenuhi Roh, yang menjadikannya orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri dan diserahi tugas menghadirkan-Nya kepada siapa saja. Keterbukaannya untuk berbagi keprihatinan dengan orang banyak menjadi jalan bagi Yang Ilahi untuk hadir di tengah-tengah manusia. Yang Maha Kuasa tidak meninggalkan kemanusiaan yang gelisah, yang menderita, yang mengalami kesusahan. Sekarang ini juga Yang Ilahi masih bisa hadir menghibur dan menolong yang menderita lewat kesediaan orang-orang yang mempedulikan keadaan mereka.

Apa yang dapat dipetik dari Injil bagi kita zaman ini? Komunitas orang beriman, Gereja dalam arti sekongkrit-kongkritnya, diajak untuk mengikuti jejak Yesus. Memberi ruang gerak bagi Allah sehingga ia dapat bertindak di dunia ini. Agar langit tidak lagi tertutup dan jagat mengering. Komunitas orang beriman ialah orang-orang yang ikut menyaksikan dan mengalami terbukanya langit, mencurahkan kekuatan yang menghidupkan, kekuatan yang tampak lembut tetapi besar dayanya. Hampir semua dari kita di sini bersiap-siap masuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan di negeri kita nanti. Seperti Yesus yang waktu itu juga bersiap menjalankan pelayanannya di masyarakat. Kita dapat banyak belajar dari dia yang mendapat perkenan dari langit, dari dia yang kehidupannya bisa membuat langit terbuka. Itu juga panggilan kita, bersamanya.

DARI BACAAN KEDUA (1Yoh 5:1-9)

Ditekankan dalam bacaan kedua perihal “mengalahkan dunia” dengan percaya bahwa Yesus ialah “Anak Allah”. Gagasan-gagasan ini jelas bagi penerima surat itu, tetapi belum tentu demikian bagi kita. Penulis surat itu dari kalangan yang sama dengan komunitas yang melahirkan Injil Yohanes dan kerap memakai gagasan-gagasan dalam Injil itu. Begitulah “dunia” ditayangkan sebagai keadaan yang berjauhan dengan Yang  Ilahi, bahkan memusuhinya. Wahana seperti ini digambarkan sebagai tempat gelap. Di situ kehidupan tidak berkembang. Wilayah itu wilayah maut. Manusia lahir ke “dunia” seperti itu. Maka kehidupannya pada dasarnya menjauhi keilahian. Tak ada kemungkinan mendekat ke terang ilahi karena manusia sejak lahir terkurung dan terjurus ke yang gelap. Begitulah andaiannya. Keadaan baru berubah bila terang sendiri mendatangi “dunia” yang  seperti itu. Dan sang terang memang telah datang. Ia berasal dari Allah, yakni Sang Terang sendiri. Karena itu bisa dikatakan dia “lahir” dari Allah, dan dengan demikian ia itu “Anaknya Allah”. Inilah kerangka pemikiran dan peristilahan yang mendasari bacaan kedua. Pada generasi awal-awal para pengikut Yesus, gagasan seperti itu menjadi semakin mantap dan dipakai dalam pelbagai bentuk pewartaan yang akhirnya tertulis dalam bentuk Injil-Injil. Begitulah Yesus dipercaya sebagai manusia yang  memang sedemikian dekat dengan keilahian sehingga bisa membawakan terang-Nya ke dunia yang dikuasai kegelapan. Ia datang sebagai Anak Allah dalam arti yang dijelaskan di muka. Orang-orang yang mendekat padanya akan mulai terbebas dari kegelapan dunia. Dan ini  terjadi dengan mempercayainya dan berani mengikutinya.

Ada satu hal lagi. Kalangan pembaca waktu itu tetap merasa butuh bahwa benarlah Yesus itu sedemikian dekat pada keilahian dan bisa membawakan terang-Nya dan memang bisa diakui sebagai Anak Allah. Diperlukan pernyataan yang tepercaya. Manusia bisa mempersaksikan hal itu dengan pelbagai penjelasan dan teologi. Tetapi  kesaksian dari Yang Ilahi sendiri lebih kuat. Inilah yang ditegaskan dalam 1Yoh 5:9. Untuk mengalami benarnya  pernyataan itu orang memang diajak untuk percaya bahwa Yang Ilahi memang bersedia datang dan sudah ada di dekat. Hanya butuh didengar, dipandangi, dirasa-rasakan – dan  inilah kehidupan iman yang diajarkan dalam komunitas khusus yang mengasalkan Injil dan surat-surat Yohanes. Dengan belajar mendengar, memandangi, merasakan kehadiran ilahi, maka manusia bisa setapak demi setapak melepaskan diri dari dunia yang gelap dan jauh dari keilahian tadi sambil mengenali terang-Nya. Orang akan memperoleh kepekaan batin.

Keterangan foto: Peristiwa pembaptisan Yesus, ilustrasi www.catichisis.gr

0 comments:

Post a Comment