Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, February 8, 2015

MESIN CUCI PLIRIKAN


"Rama, mereka sudah sampai Mlati" kata Florent kepada Rama Bambang yang menyahut "Nek ngono aku tak cepetan adus dhisik" (Kalau begitu aku akan mandi dengan cepat lebih dahulu). Florent adalah mahasiswi jurusan psikologi Universitas Sanata Dharma yang berasal dari Paroki Panca Arga, Magelang. Dia sudah tiga kali datang ke Domus Pacis untuk mengurus rencana kunjungan umat Wilayah Plirikan, Paroki Panca Arga. Kunjungan disepakati terjadi pada hari Rabu tanggal 4 Februari 2015, yaitu pada hari ketika Florent mengucapkan kata-kata itu.

Ketika terdengar lagi suara Florent "Rama, mereka datang", Rama Bambang yang sudah berdandan pun segera menuju ruang pertemuan bangunan induk Domus Pacis. Kemudian dengan menggunakan mikropon Rama Bambang berseru "Yok, terus mlebu wae" (Yok terus masuk saja). Para pengunjung pun masuk dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Rama Bambang mengajak menyanyikan lagu Mangga-mangga Sami Ndherek Gusti. Ketika lagu itu selesai, seorang bapak maju dan menyanyikan lagu irama Campur Sari. Rama Bambang mengiringi dengan keyboard dan kemudian beberapa ibu ikut mendukung menyanyikan. Sementara nyanyian dilantunkan, setiap kali para tamu bergerak menuju rama yang masuk. Mereka menyalami rama itu. Rama Yadi, Rama Harto, Rama Hantoro, dan Rama Tri Wahyono masuk dengan kursi roda. "Ndhangdhutan ...." salah seorang ibu berseru. Rama Bambang menyambut dengan menyanyikan lagu-lagu pop lama dengan iringan irama Keroncong Ndhangdhut. Beberapa ibu dan bapak menari-nari di tengah arena.

Suasana akrab beraura persahabatan amat terasa. Florent tampil menjadi pembawa acara. Rama Winaryanto, Pastor Paroki Panca Arga yang mendampingi pengunjung, memberikan sambutan. Rama Win menjelaskan maksud kedatangan, yaitu untuk mengenal kehidupan para rama ketika sudah sepuh dan berada di rumah tua. Wilayah Plirikan pada waktu Natalan menjadi panitia dan sisa anggaran keuangan Natal dipakai untuk kunjungan ini. Kemudian Rama Yadi memperkenalkan "Apa dan Siapa Domus Pacis". Rama-rama yang ada termasuk berbagai kegiatan dikisahkan oleh Rama Yadi. Sambil menyantap snak dan minum teh beberapa pengunjung mengajukan pertanyaan. Di tengah-tengah acara datang sekelompok umat Paroki Maria Fatima, Magelang, yang bermaksud mengunjungi Rama Hantoro. Mereka diminta untuk bergabung. 

Sebelum doa dan berkat penutup dari Rama Harto serta makan malam bersama, wakil umat Panca Arga menyampaikan oleh-oleh satu bungkus bingkisan dan satu mesin cuci. Menanggapi hadiah ini, Rama Bambang memberikan komentar "Kata Rama Agoeng, ketika ditanya apa yang sebaiknya dibawa untuk Domus Pacis, Rama Agoeng bilang alat mandi seperti pasta gigi sabun sampo. Tetapi Florent tanya 'Hanya itu?' Rama Agoeng pun ganti bertanya 'Apa mesin cuci?' Ternyata ditanggapi 'Okey.' Sebenarnya kehadiran Rama Hantoro sudah mendatangkan satu mesin cuci dari Kebon Dalem. Tetapi kondisi beberapa rama Domus Pacis membuat cucian setiap hari menjadi banyak. Kalau hanya satu mesin cuci, hal ini selalu mebuatnya cepat rusak. Sebenarnya dulu sudah ada dua mesin cuci. Tetapi kini sudah rusak dan tinggal satu yang setiap kali membutuhkan perbaikan. Maka HADIAH MESIN CUCI ini sungguuuuuh amat bermanfaat sekali."

0 comments:

Post a Comment